MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

Behind The Scene (BTS) Umroh Haris Family

Behind The Scene (BTS) Umroh Haris Family
Add Comments
Senin, 09 April 2018

Cerita ini berawal dari liat postingan Ustadz Budi Ashari sekitar awal bulan April 2018 tentang umrah itikaf di masjid Nabawi. Program umroh yang diselenggarakan oleh Menara Wisata bekerjasama dengan Al Fatih Rihlah Sejarah didampingi oleh Ustadz Budi Ashari.

Tawaran yang rasanya double kill. Inginnya sampai ke ubun-ubun. Tawaran yang daya pikatnya nyaris tak bisa ditolak. Mengapa demikian? 

1.   *Umroh bulan Ramadhan sebagian ahli ilmu menyamakan pahalanya dengan pahala haji.

2.    *I’tikaf di Masjid Nabawi dimana makam Rasulullah berada.

3.    *Durasi di tanah suci cukup lama dari tanggal 31 Mei-16 Juni 2018.

4.    *Ustadz pendampingnya favorit keluarga kami, ditambah ada rihlah sejarah ke Thaif, Uhud, dan beberapa tempat lain secara live oleh ustadz favorit yang selama ini hanya bisa dinikmati di layar kaca.

Jadilah, disatu momen ngumpul coba-coba bilang ke ibu dan adik-adik tentang ini. Adik-adik excited, ibu syok. Pertanyaannya ‘uang dari mana?’

Apalagi kita inginnya berangkat ber 6. 4 perempuan dan 2 laki-laki. Ibu dan 5 anaknya. Rasanya msutahil. Terlebih pemasukan keluarga saat ini hanya dari gaji ibu sebagai PNS. Sedangkan dana yang kami butuhkan Adalah sebagai berikut :

USD 2000 untuk Ikhwan = kurs Rp. 14.000 = Rp28.000.000 x 2=Rp56.000.000

USD 2050 untuk akhwat = kurs Rp.14.000 = Rp.28.700.000 x 4 = Rp114.800.000

Total yang dibutuhkan 170.800.000. Hanya untuk biaya umroh. Belum include perlengkapan. Belum lagi biaya paspor, vaksin meningitis, perjalanan ke Jakarta, uang pegangan, perlengkapan. Ya, kurang lebih harus siap sekitar Rp.200.000.000

Iseng-iseng kami mulai mengulik sejumlah sumber dana yang bisa dipakai. Tabungan ibu Rp.70 juta. Ada yang tawari beli salah satu aset berupa lahan + fondasi di Desa Pure seharga Rp30 juta. So, diperkirakan ada uang Rp.100 juta yang sudah siap. Masih kurang 80 – 100 juta lagi.

Ini baru satu masalah, masalah lain yang menyertai adalah :

Masalah pertama Ibu kurang setuju karena tabungan itu untuk adik-adik yang sedang kuliah. Anak ke 3 rencana lanjut S2, anak ke 4 sedang S1, anak ke 5 baru lulus SMA dan mau kuliah S1. Anak ke 1 dan ke 2 belum ada pekerjaan tetap. Kalaupun memaksakan itu artinya tabungan terkuras habis dan adik-adik terancam kuliahnya. Ngenezz mode on.

Alih-alih mundur semua malah kompak bernekat ria. Yang mau S2 bisa menunda, yang sedang S1 dan baru mau S1 akan berusaha untuk cari beasiswa. Anak kedua korban modal pulsa sekitar 10 juta. Anak pertama gabung jadi agen Menara wisata dengan imbalan setiap bisa mendaftarkan jamaah umroh akan mendapat royalty sebesar kurang lebih 2 juta. Jadi kalau daftarkan yang 5 orang dapatnya sekitar 8 jutaan. Intinya siap habis-habisan demi bisa ikut umroh ini.

Masalah kedua. Ibu khawatir soal kondisi kesahatan beliau yang rada susah kalau tidak ketemu ikan dan sayur kelor. Telat makan dan telat tidur bisa jadi pemicu maag nya kambuh. Beliau juga takut naik pesawat.

Mencoba meyakinkan Ibu tentang kuasa Allah di Tanah Suci. Finally, Alhamdulillah ibu bisa diyakinkan soal kondisi kesehatan beliau. Intinya yakin sama Allah.

Masalah ketiga. 100 juta lagi mau ambil dimana?

Cek dan ricek ada satu asset berupa rumah di Kota Kendari yang sudah tidak ditinggali. Sebenarnya dibiarkan kosongpun tetap tidak masalah. Toh aset di provinsi tiap tahun bertambah nilainya.

Berembuk lagi, semua setuju untuk dijual demi bisa umroh.

Masalah keempat. Memangnya jual rumah semudah balik telapak tangan? Apatah lagi sertifikatnya belum balik nama dan pemilik rumah asli tak tahu entah dimana. Wes angel

Masalah kelima. Batas waktu pendaftaran tersisa beberapa hari. Tepatnya 5 Mei 2018 dan berangkatnya 31 Mei 2018. Kami baru mulai rembuk pertengahan April. Wkwkwk. Absurd mode on.

Tapi, apapun masalahnya Let’s Try. Manusia berikhtiar, hasil akhir biar Allah yang atur. Bismillah.