MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

OTW Umroh 15-16 April 2018

OTW Umroh 15-16 April 2018
Add Comments
Minggu, 15 April 2018

Sebelum tanggal 15 April 2018 kami semua bersepakat untuk ikut Umroh tersebut. Lebih tepatnya berusaha untuk ikut.  It means semua setuju untuk menguras seluruh Tabungan dan menjual rumah di Kendari. Include resiko yang nanti menyertai.

Meski hanya tersisa waktu 20 hari dari batas pendaftaran. Kami akan ikhtiar. Hal pertama yang direncanakan adalah membuat paspor dan menjual rumah. Rasa-rasanya mustahil tapi biar Allah yang menentukan.

Mualilah gercep. Nekat hubungi travel minta syarat dan ketentuannya. Sambil rencanakan OTW Kendari buat urus rumah sekaligus cari pembeli.

15 April 2018 (Minggu)

First action. Karena semua sudah setuju jadilah saya dan Ici OTW Kendari hari ini. Minggu. Rencananya kami akan urus sertifikat, jual beli rumah, sekaligus buat paspor.

Berangkatnya belum jelas tapi paspornya sudah harus ada. Teringat salah satu cerita Mbak Yana yang pernah buat paspor sampai expired tidak terpakai. Tapi kata beliau, buat paspor itu adalah salah satu cara membuktikan keseriusan ikhtiar ke Tanah Suci.

Start pagi dari Pure ke Labuan naik motor menempuh jarak kurang lebih 60 km. Biasanya ditempuh 1 jam 30 menit. Rencana mau menyeberang pakai Feri pagi.

Qadarullah, kami terlambat. Jadi tunggu ret ke 2 jam 11. Alhamdulillah setengah jam kemudian sampai di Pelabuhan Amulengo dan 11.45 start dari Amolengo menuju ke Kendari.

Ini perjalanan yang ngeri-ngeri sedap sebenarnya karena motoron ciwi-ciwi dengan jarak tempuh sekitar 80 km. Di beberapa tempat belum berpenduduk jadi sunyi.

Sekitar pukul 13.00 WITA, hujan deras dan kami tidak membawa mantel. Singgah berteduh beberapa kali sekaligus cari mushola untuk shalat. Sekitar jam 14.30, lambung menuntut untuk diisi jadi kami cari makan dulu di Moramo.

Sekitar jam 16.15 Alhamdulillah touch down rumah perumnas, Kendari. Malamnya, mendaftar di kantor Imigrasi Kendari via web (online). Tentang pengurusan paspor bisa baca di sini (ini pengalaman tahun 2018, kemungkinan sudah berubah tata caranya jadi silahkan update info terbaru) 

Setelah mendaftar, Coba cari info sama yang duluan berangkat. Katanya kalau urus untuk umroh rada ribet karena harus ada surat dari travel. Jadi sebaiknya bilang saja untuk beasiswa. Ini gak bohong ya karena memang niat untuk cari beasiswa ke Luar Negeri itu juga termasuk.

16 April 2018

Senin, Pukul 08.15 OTW Kantor Imigrasi Kendari. Dengan PD nya bilang untuk lanjut kuliah ke Australia. Ditanya dong sama petugasnya, “beasiswa atau bukan?” Petugas juga minta data dari calon kampus. Hikzz… gagal deh. Secara, inikan baru rencana, otomatis romantis belum punya data. Bahkan nama kampus saja belum terpikirkan.

Walhasil, pindah ke CS yang lain. Bilang dengan jujur bahwa mau urus paspor buat keperluan umroh. Berhubung kami sudah bawa beberapa berkas, petugasnya langsung bantu cek.

-       Paling penting nama harus sama antara KTP, KK, akta kelahiran. Akta kelahiran bisa ganti ijazah SD, SMP, SMA (yang penting di situ tertera nama ayah kandung).

-       Disuruh minta surat rekomendasi dari travel dan SK izin ASLI. Tidak boleh email atau foto copyan harus asli. Yang artinya harus minta kirim via pos atau yang lain dari Jakarta ke Kendari. (Syok dong. Kapan dikirimnya? Kapan mau jadinya? Tapi yo wes mau gimana lagi)

-       Surat rekomendasi dari Kanwil Kemenag KOTA (sesuai tempat pembuatan KTP). Kalau jauh, maka boleh minta surat keterangan domisili dan buat di kota domisili.

Sotta-sotta berhadiah, kami coba ke Kantor Kemenag Provinsi ternyata tidak bisa. Surat rekomendasi hanya dikeluarkan oleh Kanwil Kemenag Kota/Kab.

Ya sudah, kami coba pergi ke Kemenag Kota Kendari. Petugasnya minta KTP, surat rekomendasi dari dan SK Travel (boleh via e-mail). Setelah dicek, KTP ternyata di Muna jadi harus berurusan di Muna. Jika tidak ingin kembali ke Muna, diminta Surat Keterangan Domisili. Coba minta surat domisili di Perumnas, ternyata harus ada surat keterangan pindah dari daerah asal.

Ruwetnyaaaaaaaaaaaa.

Karena semua minta Surat Rekomendasi dan SK Travel, saya pun coba hubungi CS Menara Wisata. CS nya minta untuk dikirimkan Foto KK, KTP, nama + Alamat Imigrasi + Kanwil Kemenag yang dituju.

Kupikir ini gratis, ternyata BAYAR. Biaya perorang Adalah Rp.500 ribu. Karena berenam jadi Rp.3 juta. Agak nyesek yaaa, soalnya kalau tidak jadi berangkat, berarti uangnya hangus. Hikzz. Tidak langsung bayar karena harus dikomunikasikan dulu.

Dari Kantor Imigrasi dan Kanwil Kemang, lanjut ke Bank BTN Kendari. Pasang muka memelas agar diberi keringanan untuk mendapatkan sertifikat ternyata tidak bisa. Sertifikat rumah harus diambil oleh yang namanya tertera di Sertifikat atau pakai Surat Kuasa. (Pelajaran berharga, untuk jual beli rumah atau lahan, harus langsung balik nama).

Ini artinya kami harus mencari keberadaan Ibu Sarteti sebagai pihak yang Namanya tertera di sertifikat rumah Perumnas. Pertanyaannya, beliau ada dimanaaaaaaaaaaa? Yang kami tahu hanya bahwa beliau berdomisili di Unaaha.

Kami pun coba komunikasi sama Umi Aqila terkait rumah yang rencana akan di jual. Alhamdulillah beliau berminat asal ada sertifikat. Berhubung Umi orang Unaaha jadi dibantu oleh Opa untuk cari informais tentang Ibu Sarteti.

Ada dua informasi yang kami dapatkan. Satu, beliau merupakan pegawai Bawasda Konawe. Info satu lagi menyebutkan beliau pegawai Pertanian Konawe. Entah mana yang benar?

Untuk lebih jelasnya, Saya dan Ici berencana ke Unaaha keesokan harinya. 

Mulai berurusan bukannya makin jelas malah makin buram. Ya Allah… Ya Allah…