Sebelum tanggal 15 April 2018 kami semua bersepakat untuk ikut Umroh tersebut. Lebih tepatnya berusaha untuk ikut. It means semua setuju untuk menguras seluruh Tabungan dan menjual rumah di Kendari. Include resiko yang nanti menyertai.
Meski hanya tersisa waktu 20 hari dari batas pendaftaran. Kami akan ikhtiar. Hal pertama yang direncanakan adalah membuat paspor dan menjual rumah. Rasa-rasanya mustahil tapi biar Allah yang menentukan.
Mualilah gercep.
Nekat hubungi travel minta syarat dan ketentuannya. Sambil rencanakan OTW
Kendari buat urus rumah sekaligus cari pembeli.
15 April 2018
(Minggu)
First action. Karena semua sudah setuju jadilah saya dan Ici OTW Kendari hari
ini. Minggu. Rencananya kami akan urus sertifikat, jual beli rumah, sekaligus
buat paspor.
Berangkatnya
belum jelas tapi paspornya sudah harus ada. Teringat salah satu cerita Mbak
Yana yang pernah buat paspor sampai expired tidak terpakai. Tapi kata
beliau, buat paspor itu adalah salah satu cara membuktikan keseriusan ikhtiar
ke Tanah Suci.
Start pagi dari Pure ke Labuan naik motor menempuh jarak kurang lebih 60
km. Biasanya ditempuh 1 jam 30 menit. Rencana mau menyeberang pakai Feri pagi.
Qadarullah, kami terlambat. Jadi tunggu ret ke 2 jam 11. Alhamdulillah setengah
jam kemudian sampai di Pelabuhan Amulengo dan 11.45 start dari Amolengo menuju
ke Kendari.
Ini perjalanan
yang ngeri-ngeri sedap sebenarnya karena motoron ciwi-ciwi dengan jarak tempuh
sekitar 80 km. Di beberapa tempat belum berpenduduk jadi sunyi.
Sekitar pukul
13.00 WITA, hujan deras dan kami tidak membawa mantel. Singgah berteduh
beberapa kali sekaligus cari mushola untuk shalat. Sekitar jam 14.30, lambung
menuntut untuk diisi jadi kami cari makan dulu di Moramo.
Sekitar jam 16.15 Alhamdulillah touch down rumah perumnas, Kendari. Malamnya, mendaftar di kantor Imigrasi Kendari via web (online). Tentang pengurusan paspor bisa baca di sini (ini pengalaman tahun 2018, kemungkinan sudah berubah tata caranya jadi silahkan update info terbaru)
Setelah
mendaftar, Coba cari info sama yang duluan berangkat. Katanya kalau urus untuk
umroh rada ribet karena harus ada surat dari travel. Jadi sebaiknya bilang saja
untuk beasiswa. Ini gak bohong ya karena memang niat untuk cari beasiswa ke
Luar Negeri itu juga termasuk.
16 April 2018
Senin, Pukul 08.15
OTW Kantor Imigrasi Kendari. Dengan PD nya bilang untuk lanjut kuliah ke
Australia. Ditanya dong sama petugasnya, “beasiswa atau bukan?” Petugas
juga minta data dari calon kampus. Hikzz… gagal deh. Secara, inikan baru
rencana, otomatis romantis belum punya data. Bahkan nama kampus saja belum
terpikirkan.
Walhasil, pindah
ke CS yang lain. Bilang dengan jujur bahwa mau urus paspor buat keperluan
umroh. Berhubung kami sudah bawa beberapa berkas, petugasnya langsung bantu
cek.
-
Paling penting nama harus
sama antara KTP, KK, akta kelahiran. Akta kelahiran
bisa ganti ijazah SD, SMP, SMA (yang penting di situ tertera nama ayah kandung).
-
Disuruh minta surat rekomendasi
dari travel dan SK izin ASLI. Tidak boleh email atau foto copyan harus
asli. Yang artinya harus minta kirim via pos atau yang lain dari Jakarta ke
Kendari. (Syok dong. Kapan dikirimnya? Kapan mau jadinya? Tapi yo wes
mau gimana lagi)
-
Surat rekomendasi dari Kanwil
Kemenag KOTA (sesuai tempat pembuatan KTP). Kalau jauh, maka boleh minta
surat keterangan domisili dan buat di kota domisili.
Sotta-sotta berhadiah, kami coba ke Kantor Kemenag Provinsi ternyata tidak
bisa. Surat rekomendasi hanya dikeluarkan oleh Kanwil Kemenag Kota/Kab.
Ya sudah, kami coba
pergi ke Kemenag Kota Kendari. Petugasnya minta KTP, surat rekomendasi dari dan
SK Travel (boleh via e-mail). Setelah dicek, KTP ternyata di Muna jadi harus berurusan
di Muna. Jika tidak ingin kembali ke Muna, diminta Surat Keterangan Domisili. Coba
minta surat domisili di Perumnas, ternyata harus ada surat keterangan pindah
dari daerah asal.
Ruwetnyaaaaaaaaaaaa.
Karena semua
minta Surat Rekomendasi dan SK Travel, saya pun coba hubungi CS Menara Wisata.
CS nya minta untuk dikirimkan Foto KK, KTP, nama + Alamat Imigrasi + Kanwil
Kemenag yang dituju.
Kupikir ini
gratis, ternyata BAYAR. Biaya perorang Adalah Rp.500 ribu. Karena berenam jadi
Rp.3 juta. Agak nyesek yaaa, soalnya kalau tidak jadi berangkat, berarti
uangnya hangus. Hikzz. Tidak langsung bayar karena harus dikomunikasikan dulu.
Dari Kantor
Imigrasi dan Kanwil Kemang, lanjut ke Bank BTN Kendari. Pasang muka memelas
agar diberi keringanan untuk mendapatkan sertifikat ternyata tidak bisa.
Sertifikat rumah harus diambil oleh yang namanya tertera di
Sertifikat atau pakai Surat Kuasa. (Pelajaran berharga, untuk jual
beli rumah atau lahan, harus langsung balik nama).
Ini artinya kami
harus mencari keberadaan Ibu Sarteti sebagai pihak yang Namanya tertera di
sertifikat rumah Perumnas. Pertanyaannya, beliau ada dimanaaaaaaaaaaa? Yang
kami tahu hanya bahwa beliau berdomisili di Unaaha.
Kami pun coba
komunikasi sama Umi Aqila terkait rumah yang rencana akan di jual.
Alhamdulillah beliau berminat asal ada sertifikat. Berhubung Umi orang Unaaha
jadi dibantu oleh Opa untuk cari informais tentang Ibu Sarteti.
Ada dua informasi
yang kami dapatkan. Satu, beliau merupakan pegawai Bawasda Konawe. Info satu
lagi menyebutkan beliau pegawai Pertanian Konawe. Entah mana yang benar?
Untuk lebih
jelasnya, Saya dan Ici berencana ke Unaaha keesokan harinya.
Mulai berurusan
bukannya makin jelas malah makin buram. Ya Allah… Ya Allah…
Posted by 
comment 0 Comment
more_vert