MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

Sekejap Mata Menikmati Keindahan Pangandaran, Ngebolang ke Tempat Saudara Ketemu Gede

Sekejap Mata Menikmati Keindahan Pangandaran, Ngebolang ke Tempat Saudara Ketemu Gede
Add Comments
Selasa, 03 September 2019

Pangandaran. Sebuah nama yang sudah sangat akrab di telinga, tapi jujur saja, tak pernah sekalipun terlintas di benak saya untuk benar-benar menginjakkan kaki di sana. Tapi begitulah hidup, kadang perjalanan terbaik justru lahir dari prinsip "tiba masa, tiba akal".

Perjalanan ini adalah rangkaian dari liburan tipis-tipis ke Bandung sembari menunggu wisuda pada Bulan September 2019. Sekalian buat menemani si bungsu -Icha- yang saat itu sedang berkuliah di Universitas Padjadjaran dan kost di jalan Hegarmanah. 

Nah, di perjalanan pulang dari Bandung inilah, saya nekat ngebolang ke Pangandaran. Jalan-jalan sekaligus menemui Our beloved Teteh yang sudah berulang kali mengajak mampir ke rumahnya. 

Ngomong-ngomong soal si Teteh yang namanya plek ketiplek dengan nama panggilanku -Ani-, beliau ini adalah room mate kami saat umroh di Bulan Ramadhan 2018. Awalnya cuma sekamar sama duo sisterku yaitu Icha dan Ichi pas di Srilanka. Eh, ternyata sampai di Mekkah malah sekamar sama kami sekeluarga -Ibu, saya, Icha dan Ichy-.


Ket : Ketika Ani Pure digantikan oleh Ani Pangandaran

Nah, lucunya, pas kami ke Madinah, satu kamar hanya bisa diisi oleh empat orang. Pikir kami, ya udah dong berarti pas lah kami berempat. Ternyata eh ternyata, si Teteh tidak mau pisah. Saking ngototnya Teteh kasi ide yang agak absurd, kalau tidak salah ingat, bilangnya gini "Kalian kan udah biasa sama ibu, jadi sekarang pisah aja dulu, Teteh yang sama ibu."

Kami yang dengar langsung mode bingung. Ini gimana ceritanya? Kok jadi kami yang disuruh pisah sama ibu? Waktu itu suasananya auto awkward karena pihak travel pun bingung bagaimana mensiasatinya. Meski demikian, kami tetap diusahakan untuk bisa sekamar berlima. 

Walhasil, cerita ini jadi salah satu momen yang setiap diingat kembali bikin ngakak. 😂😂. Dan Alhamdulillah nya, pulang umroh malah kaya saudara dan terus kontak-kontakan sampai sekarang. 

Ok. back to 2019. Untuk menuju Pangandaran, saya naik kereta dari Stasiun Bandung ke Stasiun Banjar. Harga tiketnya untuk sekali jalan, cukup murah yakni 50 ribu rupiah. Waktu itu berangkat jam 9 pagi dan sampai sekitar jam 1 siang. 

Si Teteh sempat cemas saat tahu saya jalan sendirian. Dia ragu, mungkin belum tahu saja bagaimana "keras kepala" dan nekatnya orang Sulawesi kalau sudah punya mau. Saya punya prinsip: sesekali, cobalah jalan tanpa peta dan tanpa rasa takut. Nyasar? Ya nyasar saja, hitung-hitung cari pengalaman.

Satu pesan yang saya ingat dari Ayah tentag perjalanan, "Jangan pernah kelihatan bingung dalam perjalanan." So, sampai di Stasiun Banjar,  langsung ala-ala orang lokal. Berhubung waktu itu belum ada angkutan online jadi cari ojek manual. Dari salah satu refernsi yang saya baca, naik ojek jangan dari stasiun karena tarifnya lebih mahal. Saya pun memutuskan untuk jalan kaki dulu ke fasilitas umum terdekat. Alhamdulillah dapat Indomaret. 

Dari Indomaret, lanjut naik ojek ke terminal. Sepanjang perjalanan, Teh Ani terus mengupdate keberadaanku. Begitu sampai terminal, langsung cari bus menuju Pangandaran. Terminal busnya sangat sederhana dan dihuni oleh bus-bus semi reot. Meski begitu, saya sangat excited berada di daerah yang benar-benar baru. Sebuah perjalanan yang memacu adrenalin.

Banjar ke Pangandaran ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Teteh menyuruh untuk turun di daerah Ciareteun tepatnya di depan masjid. Tak menunggu lama, Teh Ani datang menjemput dengan wajah tidak percaya saya benaran datang. 

Rumah Teh Ani berada di dalam lorong di seberang gunung. Suasananya sangat asri dan tenang. Vibes desa yang sangat kental. Begitu sampai, saya langsung disambut dengan layanan hangat dari keluarganya. Teh hangat dan kue-kue tersaji di meja. Rasanya bukan lagi seperti tamu, tapi benar-benar seperti berkunjung ke rumah keluarga sendiri.

Malamnya, kami menikmati pesona Pantai Pangandaran. Di jalan menuju pantai, mata saya terpesona pada patung Ikan Indosiar. Ternyata ini adalah ikon Pangandaran sebagai daerah penghasil ikan. Sesampai di pantai, kami berfoto dengan latar tulisan Pangandaran Sunset

Keesokan paginya, saya bangun disambut dengan udara segar khas pedesaan. Begitu keluar kamar, segelas teh dan roti bakar sudah tersedia di meja. Tidak hanya itu, ada pula nasi plus mendoan, Masya Allah, saya dibuat speechless dengan kebaikan keluarga ini. 

Beres sarapan, lanjut ngebolang lagi. Kali ini kami ke daerah penjualan ikan karena Teh Ani tahu, orang Sulawesi itu tiada hari tanpa makan ikan. Jalan pagi ini bikin keindahan Pangandaran makin nampak. Kami sempat singgah di beberapa spot untuk foto. Tidak lupa, foto di ikon Pangandaran Sunrise

Saat pulang, kami melewatii jalur yang berbeda. Dari jalan raya, tampak pantai yang begitu indah. Gradasi warna laut berpadu pasir putih, so amazing. Pantas saja tempat ini dijuluki "Hawaii-nya Indonesia". Sebagai daerah wisata, di sini banyak terdapat penginapan dan beberapa memiliki bentu cukup unik, salah satunya berbentuk kapal raksasa.

Sebagai daerah penghasil ikan, cara menangkap ikan di sini cukup unik. Mereka memasang jaring di sepanjang pantai pada malam hari, Paginya, jaring tersebut ditarik oleh beberapa orang yang berbaris ke belakang. Sepertinya memang cara inilah yang efektif karena jika melaut menggunakan perahu, harus bertarung dengan ombak, Bahkan di pesisir pantai pun, ombaknya cukup tinggi. 

Ngomong-ngomong soal Pangandaran, tempat ini ternyata tanah kelahiran Ibu Susi Pudjiastuti. Pemilik maskapai Susi Air yang cikal bakalnya dari hasil berdagang berbagai komoditas laut. 

Setelah membeli ikan dan jalan-jalan ke beberapa tempat, kami pun pulang untuk masak-masak dan makan bersama keluarga Teteh. Ada Kayla juga yang imut dan lucu banget. Masya Allah, semua keluarga Teteh welcome dan baik maksimal. 

Abis makan, lanjut baking. Teteh buatin kue bolu untuk dibawa ke Jogja. Saya yang tidak terlalu doyan kue bolu, pas nyicip yang ini auto ketagihan karena rasanya enak pake banget. Jelang sore, mulai mengemasi barang-barang dan oleh-oleh seabrek. Tidak hanya itu, pas udah mau pamitan, dibungkusi lagi makanan yang khusus dimasak untuk saya oleh mama Teh Ani. Hikzz, jadi terharu.  

Sekitar jam 7 malam, mobil travel yang rute Pangandaran-Jogja datang menjemput. Rasanya belum rela untuk pulang tapi mau gimana lagi, keesokan harinya jadwal Yudisium D4 Kebidanan UNISA. Semoga Allah izinkan untuk kembali lagi.

Sekedar info, jarak Pangandaran-Jogja kurang lebih 385 km dengan waktu tempuh 8 jam. So, berangkat jam 7, sampai Jogja sekitar jam 3 subuh. Sampai asrama, tidur sebentar, bangun shalat subuh dan tidur lagi sampai menjelang mau ke kampus. Sebelum ngampus, sarapan dulu pakai bekal dari Pangandaran.