Pangandaran. Sebuah nama yang sudah sangat akrab di telinga,
tapi jujur saja, tak pernah sekalipun terlintas di benak saya untuk benar-benar
menginjakkan kaki di sana. Tapi begitulah hidup, kadang perjalanan terbaik
justru lahir dari prinsip "tiba masa, tiba akal".
Perjalanan ini adalah rangkaian dari liburan tipis-tipis ke
Bandung sembari menunggu wisuda pada Bulan September 2019. Sekalian buat
menemani si bungsu -Icha- yang saat itu sedang berkuliah di Universitas
Padjadjaran dan kost di jalan Hegarmanah.
Nah, di perjalanan pulang dari Bandung inilah, saya nekat
ngebolang ke Pangandaran. Jalan-jalan sekaligus menemui Our
beloved Teteh yang sudah berulang kali mengajak mampir ke rumahnya.
Ngomong-ngomong soal si Teteh yang namanya plek ketiplek
dengan nama panggilanku -Ani-, beliau ini adalah room mate kami saat
umroh di Bulan Ramadhan 2018. Awalnya cuma sekamar sama duo sisterku yaitu Icha
dan Ichi pas di Srilanka. Eh, ternyata sampai di Mekkah malah sekamar sama
kami sekeluarga -Ibu, saya, Icha dan Ichy-.
Nah, lucunya, pas kami ke Madinah, satu kamar hanya bisa diisi oleh empat orang. Pikir kami, ya udah dong berarti pas lah kami berempat. Ternyata eh ternyata, si Teteh tidak mau pisah. Saking ngototnya Teteh kasi ide yang agak absurd, kalau tidak salah ingat, bilangnya gini "Kalian kan udah biasa sama ibu, jadi sekarang pisah aja dulu, Teteh yang sama ibu."
Kami yang dengar langsung mode bingung. Ini gimana
ceritanya? Kok jadi kami yang disuruh pisah sama ibu? Waktu itu suasananya auto
awkward karena pihak travel pun bingung bagaimana mensiasatinya. Meski
demikian, kami tetap diusahakan untuk bisa sekamar berlima.
Walhasil, cerita ini jadi salah satu momen yang setiap
diingat kembali bikin ngakak. 😂😂. Dan
Alhamdulillah nya, pulang umroh malah kaya saudara dan terus kontak-kontakan
sampai sekarang.
Ok. back to 2019. Untuk menuju Pangandaran, saya
naik kereta dari Stasiun Bandung ke Stasiun Banjar. Harga tiketnya untuk sekali
jalan, cukup murah yakni 50 ribu rupiah. Waktu itu berangkat jam 9 pagi dan
sampai sekitar jam 1 siang.
Si Teteh sempat cemas saat tahu saya jalan sendirian. Dia
ragu, mungkin belum tahu saja bagaimana "keras kepala" dan nekatnya
orang Sulawesi kalau sudah punya mau. Saya punya prinsip: sesekali, cobalah
jalan tanpa peta dan tanpa rasa takut. Nyasar? Ya nyasar saja, hitung-hitung
cari pengalaman.
Satu pesan yang saya ingat dari Ayah tentag perjalanan,
"Jangan pernah kelihatan bingung dalam perjalanan." So, sampai di Stasiun
Banjar, langsung ala-ala orang lokal. Berhubung waktu itu belum ada
angkutan online jadi cari ojek manual. Dari salah satu refernsi yang
saya baca, naik ojek jangan dari stasiun karena tarifnya lebih mahal. Saya pun
memutuskan untuk jalan kaki dulu ke fasilitas umum terdekat. Alhamdulillah
dapat Indomaret.
Dari Indomaret, lanjut naik ojek ke terminal. Sepanjang
perjalanan, Teh Ani terus mengupdate keberadaanku. Begitu sampai
terminal, langsung cari bus menuju Pangandaran. Terminal busnya sangat
sederhana dan dihuni oleh bus-bus semi reot. Meski begitu, saya
sangat excited berada di daerah yang benar-benar baru. Sebuah
perjalanan yang memacu adrenalin.
Banjar ke Pangandaran ditempuh dalam waktu kurang lebih satu
jam. Teteh menyuruh untuk turun di daerah Ciareteun tepatnya di depan masjid.
Tak menunggu lama, Teh Ani datang menjemput dengan wajah tidak percaya saya
benaran datang.
Rumah Teh Ani berada di dalam lorong di seberang gunung.
Suasananya sangat asri dan tenang. Vibes desa yang sangat kental.
Begitu sampai, saya langsung disambut dengan layanan hangat dari keluarganya.
Teh hangat dan kue-kue tersaji di meja. Rasanya bukan lagi seperti tamu, tapi
benar-benar seperti berkunjung ke rumah keluarga sendiri.
Malamnya, kami menikmati pesona Pantai Pangandaran. Di jalan
menuju pantai, mata saya terpesona pada patung Ikan Indosiar. Ternyata ini
adalah ikon Pangandaran sebagai daerah penghasil ikan. Sesampai di pantai, kami
berfoto dengan latar tulisan Pangandaran Sunset.
Keesokan paginya, saya bangun disambut dengan udara segar
khas pedesaan. Begitu keluar kamar, segelas teh dan roti bakar sudah tersedia
di meja. Tidak hanya itu, ada pula nasi plus mendoan, Masya Allah, saya
dibuat speechless dengan kebaikan keluarga ini.
Beres sarapan, lanjut ngebolang lagi. Kali ini
kami ke daerah penjualan ikan karena Teh Ani tahu, orang Sulawesi itu tiada
hari tanpa makan ikan. Jalan pagi ini bikin keindahan Pangandaran makin nampak.
Kami sempat singgah di beberapa spot untuk foto. Tidak lupa, foto di
ikon Pangandaran Sunrise.
Saat pulang, kami melewatii jalur yang berbeda. Dari jalan raya, tampak pantai yang begitu indah. Gradasi warna laut berpadu pasir putih, so amazing. Pantas saja tempat ini dijuluki "Hawaii-nya Indonesia". Sebagai daerah wisata, di sini banyak terdapat penginapan dan beberapa memiliki bentu cukup unik, salah satunya berbentuk kapal raksasa.
Sebagai daerah penghasil ikan, cara menangkap ikan di sini
cukup unik. Mereka memasang jaring di sepanjang pantai pada malam hari,
Paginya, jaring tersebut ditarik oleh beberapa orang yang berbaris ke belakang.
Sepertinya memang cara inilah yang efektif karena jika melaut menggunakan
perahu, harus bertarung dengan ombak, Bahkan di pesisir pantai pun, ombaknya
cukup tinggi.
Ngomong-ngomong soal Pangandaran, tempat ini ternyata tanah
kelahiran Ibu Susi Pudjiastuti. Pemilik maskapai Susi Air yang cikal
bakalnya dari hasil berdagang berbagai komoditas laut.
Setelah membeli ikan dan jalan-jalan ke beberapa tempat,
kami pun pulang untuk masak-masak dan makan bersama keluarga Teteh. Ada Kayla
juga yang imut dan lucu banget. Masya Allah, semua keluarga
Teteh welcome dan baik maksimal.
Abis makan, lanjut baking. Teteh buatin kue bolu untuk
dibawa ke Jogja. Saya yang tidak terlalu doyan kue bolu, pas nyicip yang ini
auto ketagihan karena rasanya enak pake banget. Jelang sore, mulai mengemasi
barang-barang dan oleh-oleh seabrek. Tidak hanya itu, pas udah mau pamitan,
dibungkusi lagi makanan yang khusus dimasak untuk saya oleh mama Teh Ani.
Hikzz, jadi terharu.
Sekitar jam 7 malam, mobil travel yang rute Pangandaran-Jogja
datang menjemput. Rasanya belum rela untuk pulang tapi mau gimana lagi, keesokan
harinya jadwal Yudisium D4 Kebidanan UNISA. Semoga Allah izinkan untuk kembali
lagi.
Sekedar info, jarak Pangandaran-Jogja kurang lebih 385 km
dengan waktu tempuh 8 jam. So, berangkat jam 7, sampai Jogja sekitar jam 3
subuh. Sampai asrama, tidur sebentar, bangun shalat subuh dan tidur lagi sampai
menjelang mau ke kampus. Sebelum ngampus, sarapan dulu pakai bekal dari Pangandaran.
Posted by 
comment 0 Comment
more_vert