![]()
Pernah dengar tentang Kitab Kuning? Bagi anak pesantren, tentu ini bukan hal yang asing karena ini jadi bahan bacaan wajib mereka. Nah, salah satu Kitab Kuning itu adalah Tafsir Al-Jalalain.
Di YouTube Chanel 'Budi Ashari Official' di Episode Baca Bareng UB, selama Ramadhan mengulik tentang sosok di balik kitab legendaris ini. Pada episode 17 membahas tentang behind the scene Tafsir Al Jalalain.
Eitzzz....jangan diskip dulu karena mikir ini bahasan yang berat. Bahasannya dikemas dengan sangat santai dan gak bikin otak panas. Semakin disimak, semakin menambah kekaguman kita pada para ahli ilmu. Syukur-syukur bisa membawa diri kita untuk menjadi lebih baik lagi.
Berikut saya tuliskan ulasan isi kontennya berdasarkan penuturan Ustad Budi Ashari :
Tafsir Al Jalalain (Dua Jalal).
Jadi, kitab ini tuh ditulis oleh dua orang yang nama awalnya Jalal yaitu Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi.
Jalaludiin al-Mahalli itu adalah guru dari Jalaluddin as-Suyuthi. Jadi, Tafsir Jalalain itu hasil kolaborasi ilmu antara guru dan murid. Keduanya bekerjasama dalam ketaatan dan saling melanjutkan dalam ketaatan. Masya Allah.
Tapi, kitab ini agak janggal. Kejanggalannya adalah di halaman pertama, pas dibuka langsung ketemu surat Al Baqarah. Lho, kok bukan Al Fatihah? Padahal kan harusnya Al Fatihah dulu. Ternyata, Al Fatihah nya ada di halaman paling belakang. Mengapa demikian?
Masya Allah. Ada sejarah luar biasa dan hikmah yang jadi pelajaran
mahal dari hidup orang-orang mulia yang akan jadi petunjuk.
Itulah mengapa para ulama sering mengatakan, “Kisah
orang-orang mulia lebih aku cintai daripada banyak riwayat fikih. Bukan untuk
merendahkan fikih yaaa tapi tujuan fikih adalah mencetak kita menjadi Hamba
Allah. Nah, belajar dari orang mulia, ada banyak hal yang kita temukan dari
hidup mereka.”
Kembali ke kejanggalan yang unik tadi, mengapa Al Fatihah
diletakkkan di belakang? Ustadz Budi lalu membelah kitabnya jadi dua. Bagian kedua dibuka
dengan Surat Al Kahfi. Kenapa lagi surat ini diantara banyaknya surat yang lain?
Intermezo : Dengar penjelasan di bagian ini bawaannya mau nangis. Jadi diskip dulu. Buka
medsos. Padahal sudah dihapus di HP tapi tetap pakai cara lain. Hidiiiihhhh… Akhirnya
bablas lageeeeeeeeeeeee.. Ya Allah toloooong.
Lanjut jam 11.19 WITA
Sang guru, Jalaluddin Al Mahalli meninggal pada tahun 864 H. Waktu itu, Jallaluddin As Suyuthi umurnya baru 15 tahun sebab beliau lahir Tahun 849 H.
Jalaluddin Al Mahalli wafat dalam posisi tengah menyelesaikan tafsir yang ditulisnya. Qadarullah tidak
selesai. Banyak terjadi, kadang-kadang orang hebat, ahli ilmu gerak dakwahnya
belum selesai. Jadi murid melanjutkan.
Tapi Jalaluddin Al Mahalli memulai dari Al Kahfi. Uniknya Jalaluddin
Al Mahalli mulai dari Al Kahfi terus sampai belakang sampai An-Nas. Artinya,
setengah Al-Qur’an sudah selesai sampai belakang tapi setengah nya yang di depan
belum selesai.
Jadi, Jalaluddin Al Mahalli mulai lagi nulis yang depan
diawali dengan Al Fatihah. Qadarullah, setelah Al fatihah beliau wafat. Makanya
kenapa Al Fatihah jadi yang terakhir. Itulah part sang guru.
Nah, Jallaluddin As Suyuthi sebagai murid mulai nulis Al
Baqarah di usia 15 tahun. Jallaluddin As Suyuthi memberanikan diri walaupun kondisinya
sangat berat karena apalah dia dibanding gurunya.
NB: Nafsu mulai rese, nyuruh tengok sosmed lagi. Iiiihhh
ngapa dah. Alhamdulillah berhasil dilawan
Jallaluddin As Suyuthi mencoba untuk mulai menulis dari Al
Baqarah karena gurunya sudah sampai Al Fatihah. Jallaluddin As Suyuthi menulis
tafsir dari Al-Baqarah sampai Al Isra.
Jallaluddin As Suyuthi menutup tafsir di Surat Al Isra dengan
menyebutkan kisah penting tentang tawaddunya As Suyuthi dan bagaimana penghormatan
beliau kepada Sang Guru.
“Ini akhir dari Surat Al Isra. Penulis ini (As Suyuthi)
inilah akhir dari tulisan yang merupakan penyempurnaan dari Tafsir yang telah
ditulis oleh Sang Guru Al Alim, Al Ilm, Al Alamah, Al Muhaqqiq Jallaluddin Al
Mahalli. Saya sudah berupaya semaksimal mungkin. Dan saya sudah kerahkan semua
pikiran saya untuk menuangkan yang berharga yang menurut saya Insya Allah
bermanfaat. Dan saya menulis ini selama perjanjian ketemunya Kalimullah
dengan Allah. Saya jadikan ini sebagai wasilah untuk meminta Surga An Naim.
(Ya Allah jleb sekali. Jallaluddin As Suyuthi minta surga
setelah melanjutkan kiprah gurunya. Menulis
tafsir Al-Quran. (tears). )
Sebenarnya saya menulis ini dengan mengambil hikmah dari
Kitab guru saya Rahimahullah. Semoga Engkau Rahmati semua yang melihat dengan
mata yang objektif. Kalau menjumpai kesalahan, tunjukkan ke saya.
Lanjut dengan Syair :
Saya memuji Allah Rabbku, ketika Allah memberiku petunjuk.
Apapun yang sudah saya tulis meskipun saya adalah orang yang lemah ilmunya (seriously
masih ngomong kaya gini. huwaaaa…apalah diriku ini). Siapa saya sehingga
saya menolak bahwa memiliki kesalahan.
Dan siapa saya sampai saya yakin bahwa ada satu huruf yang Allah terima
(Mo nangeeeeesss. Tawadhu level Jannah, insya Allah).
Lalu apa makna dari tulisan As Suyuthi bahwa dia menulisnya
sama dengan perjanjiannya Kalimullah bertemu dengan Allah?.
Maksudnya : (Video di Skip, turunkan Earphone, megang HP,
terus sadar, sekali saya pasti ke skip lagi. Simpan Hp. Lanjut . Hufffftttt)
Selesai penulisan ini Hari Ahad Tanggal 10 Syawal Tahun 870
H. Usianya kisaran 21 tahun. Menulis
tafsir yang jadi rujukan dunia hingga hari ini (asli Nangis. Ingin tersedu-sedu
tapi lagi di kantor).
Kapan mulai nulis? Hari Rabu Awal Ramadhan di tahun yang
sama. 1 Ramadhan-10 Syawal. 40 hari untuk sebuah tafsir yang abadi hingga hari
ini. (Lanjut nangis. Bisa-bisanya muncul bisikan ‘itukan mereka ulama’. Iya
siiih tapi mereka minta surganya segitu banget. Lah gue?)
40 hari itu sama dengan pertemuan Allah dengan Nabi Musa -Wakalallahu
Musa taklima (An Nisa ayat 164)- Ulama itu menulis saja ada filosofinya.
Jadi waktu itu Jallaluddin As Suyuthi bertekad bahwa harus menyelesaikan tafsir
ini sama dengan waktu ketika Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa di Bukit
Tursina.
Lanjut, (sebelum ini, sempat buka Tek Tok lagi dan feel
nya jadi beda. Gak terlalu excited lagi. Memang ya, ilmu tidak akan pernah bisa
berdampingan dengan hura-hura)
Selanjutnya di bagian penutup ini juga diceritakan tentang mimpi
seseorang yang bertemu dengan Jallaluddin al-Mahalli dan disodorkan Kitab Jalalain.
Apa komentarnya? (Ustadz Budi suruh baca sendiri. Hikzzz,,, semoga Allah pertemukan
saya dengan orang yang bisa menuntaskan rasa penasaran tentang kelanjutannya)
Tafsir ini Masya Allah sekali dan sudah teruji barakah nya.
Dari sejak As Suyuthi wafat Tahun 911 H sampai hari ini kitab ini selalu
dijadikan rujukan dan direkomendasikan oleh seluruh ulama di seluruh dunia,
tidak terkecuali. Masya Allah.
Imam As Suyuthi menulis salah satu tafsir yang banyak dipelahari di pesantren. Kategori tafsir ringkas yang direkomendasikan untuk pemula. Setiap berbicara tafsir pasti tafsir ini direkomendasikan oleh para ulama. Sebelum belajar tafsir lain, belajar ini dulu karena belajar tafsir pun ada levelnya.
Posted by 
comment 0 Comment
more_vert