MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

Bungin Pinungan -Jejak Kejayaan Jembatan Pensil yang Terlantar-

Bungin Pinungan -Jejak Kejayaan Jembatan Pensil yang Terlantar-
Add Comments
Kamis, 02 April 2026

Yang anak Pulau Muna, pasti pernah dengar kan tentang film Jembatan Pensil? Itu loh yang dibintangi Kevin Julio dan Meriam Belina. Kalau belum ingat silahkan googling atau nonton di YouTube. Nah, film ini pernah booming di tanah Muna dan sekitarnya karena latar syutingnya berlokasi di Pulau Muna. 

Waktu itu, saya ingatnya cuma Napabale dan Meleura. Jadi, kupikir Jembatan Pensil itu masih di sekitaran situ juga. Karena diriku bukan penonton film sejati dan menurutku ide utamanya sama dengan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, jadi nontonnya sekedar nonton saja. Cukup tau dan setelah itu lewat. 

Sampai, kemarin saya ada job nulis yang narasumbernya berdomisili di Pulau Towea. Dengan mengumpulkan keberanian karena harus menyeberang laut, berangkatlah diriku bersama Tina dan Indi pada Kamis (26/3/2026). Di Towea kami sudah ditunggu oleh Salni, teman kantor yang merupakan warlok (warga lokal). Alhamdulillah bisa numpang merepotkan di rumahnya. 😀😀

Nah, saat menemui narasumber bernama Bu Nurila, teman-teman membahas tentang tempat wisata yang masyarakat sekitar menyebutnya Bone. Dan entah bagaimana awalnya, Bu Ila tetiba bilang, "Itu eee tempat syutingnya Jembatan Pensil."

Saya yang mendengar langsung berkomentar dengan nada kaget, "haaah, di sini kah tempat syutingnya?" Sungguh, diriku sama sekali tidak berekspektasi kalau pulau ini, jadi tempat syuting film yang sempat viral di kalangan masyarakat Muna tersebut. 



Meski demikian, diriku masih berpikir bahwa di film itu, pulau Towea hanya muncul sekilas sebagai potongan scene. Sekedar menampilkan desa pesisir yang B aja. So, tidak terlalu excited. Walaupun begitu, saya tetap bersemangat untuk pergi saat teman-teman merencanakan berkunjung keesokan harinya.

Esoknya, pagi-pagi kami sudah dijamu sarapan oleh sang empunya rumah. Lanjut disediakan motor untuk OTW ke pantai. Masya Allah. Pokoknya full service. 

Sekitar jam 7, kami OTW pantai dengan melewati jalanan yang membutuhkan kelihaian berkendara. Harap maklum, daerah ini belum tersentuh aspal. Jadi, sebagian jalanan menggunakan beton cor yang di beberapa titik sudah koyak. Sebagian jalan lainnya masih berupa tanah. 

Setelah kurang lebih 15 menit berkendara, tampak beberapa bangunan yang sudah tidak difungsikan seperti rumah, masjid, dan aula. Auto mikir, ini kampung yang ditinggalkan atau bagaimana? 

Masih dengan pikiran yang bertanya-tanya, Salni meminta kami untuk parkir di area berpasir yang dikelilingi oleh bakau, "Simpan di sini saja motor, nanti kita jalan kaki."

Karena terhalang bakau, pemandangan pantainya belum terlihat. Selepas melewati bakau, tampaklah hamparan pasir dan jembatan yang persisi ada di film Jembatan Pensil. Lengkap dengan dua menara kayu yang masih berdiri. 

Auto spechless dong. Ternyata, latar utama film Jembatan Pensil itu ada di sini. Astagaaa. Kemana saja diriku?😅😅

Sayang sekali, bangunan sekolah dalam filmnya telah lenyap. Padahal, kalau mau belajar dari Laskar Pelangi, bangunan sekolah ini bisa jadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung.

Terlebih, didukung dengan pemandangan indah yang memukau. Bungin atau pasir timbulnya diperkirakan sepanjang 3 km. Jika saja, ada yang membangun vila-vila di sekeliling pantainya, maka tempat ini berpeluang jadi Maldives versi low budget a.k.a paket hemat.

Selain jembatan, di sini juga terdapat aula berupa rumah panggung khas Muna yang cukup luas. Selain itu ada pula gazebo dan kamar mandi. Penampakan ini menunjukkan bahwa Bungin Pinungan pernah jadi tempat wisata yang dikelola secara profesional. 

Cek per cek, ternyata tempat ini memang pernah berada dikelola dengan baik. Nahasnya, setelah berjalan, ada perebutan hak kelola antara Pemda dan masyarakat setempat. Warga lokal merasa kecewa dan tak lagi mau terlibat dalam merawat fasilitas-fasilitas yang telah dibangun. 

Kini, masyarakat sekedar datang menikmati keindahan alam, sedangkan beragam fasilitas pendukung seperti kamar mandi, vila, dan gazebo tidak lagi digunakan dan dibiarkan terlantar. 

Hmmm...ngenes euy. Harusnya, jika pemerintah mau mengambil alih, warga setempat dilibatkan dan diberdayakan melalui pelatihan pengelolaan desa wisata. Andai tersedia akses memadai dan promosi wisata yang gencar, yakin sih, tempat ini bisa jadi daya tarik bagi wisatwan lokal maupun mancanegara. Yups, bule-bule biasanya suka sama tempat yang belum familiar dan ndeso

Terlepas dari itu semua, pemandangan alamnya asli bikin terpesona. Masya Allah. Air laut dengan gradasi hijau biru, langit cerah, serta hamparan pasir putih jadi kolaborasi yang memanjakan mata. 

So, seperti biasa, sembari menikmati, mari kita dokumentasi sebanyak-banyaknya. Harap maklum, sampai saat ini diriku masih tim Gildok alias gila dokumentasi. Belum bisa keep calm dengan 1 atau 2 foto lalu fokus menikmati pemandangan. 😅😅

Noted : saat melihat pemdangan alam berupa gambar, ingat prinsip utama: "View asli selalu lebih amazing." 

So, kapan ke Towea? 😄😄