MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

Kolaka, Kerja Mix Jalan-Jalan

Kolaka, Kerja Mix Jalan-Jalan
Add Comments
Kamis, 22 Januari 2026

Alhamdulillah, setelah sekian kali gagal ke daerah penghasil Kakao ini, 2025 Allah izinkan untuk menjejak di Kabupaten Kolaka. Perjalanan dimulai saat kami ditugaskan untuk meliput HUT Sulawesi Tenggara ke-61 pada 27 April 2025. Tim yang berangkat dari Kominfo terdiri dari Pak Kadis, Pak Rahmat, Mas Kukuh, Ibu Thinces, dan diriku.

Meski acara puncak tanggal 27 tapi rangkaian acaranya sejak tanggal 24 April. Jadi, kami berangkat tanggal 23 melalui Pelabuhan Tampo. Ikut nebeng di mobil nya Pak Kadis yang disopiri oleh Mas Kukuh. Rencananya, mau bernagkat feri pagi. Ternyata tidak bisa karena muatan sudah full. Jadilah kami tunggu yang jam 10 an. 

Jelang masuk kapal, dengan PD nya tunjukkan tiket ke petugas. Kami pikir, tiket yang dibeli untuk kapal sebelumnya, bisa digunakan untuk kapal selanjutnya. Ternyata beda guys. Walhasil kami harus bergegas menukar tiket diwaktu mepet. Alhamdulillah masih bisa dan tanpa biaya tambahan. Lanjut OTW kapal.

Oh ya, saat memasuki kapal, kami sudah tidak dapat tempat duduk penumpang jadi cari bangku-bangku di selasar. Belum juga berangkat, hujan turun dan berhasil bikin kami basah. Sebenarnya, ada opsi untuk masuk ke ruang berbayar. Hanya saja, kami pikir mahal jadi mode pasrah saja di kena hujan. Iseng-iseng Mas Kukuh tanya berapa biaya untuk masuk ruangan tersebut. Ternyataaa... hanya 25 ribu. Astagaaaa... tau segitu, dari tadi kita masuk. Akhirnya, masuklah kami kesana dan bisa duduk nyaman selama 2,5 jam sampai kapal bersandar di pelabuhan Torobulu.

Dari Torobulu, lanjut perjalanan darat sekitar 2 jam sampai Kendari. Saya dan Tina nebeng bermalam di rumahnya Mas. Paginya, lanjut jalan ke Kolaka dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Diselingi dengan singgah makan jagung rebus di PJR, Unaaha. Selama jalan ini, sebenarnya saya deg-deg an karena belum ada tempat menginap yang pasti di Kolaka. Hotel dan penginapan, rata-rata full booked.

Komunikasi sama Bu Rizky, ditawarkan untuk nginap di rumahnya. Tapi eh tapi, berhubung itu rumah sudah lama tidak ditempati, air nya mampet. Wadouwww...mana dapat infonya pas sudah di Kolaka. Tapi, keep calm. Bu Kepsek cantik nan baik hati ini, menggunakan koneksinya sebagai warlok. Alhamdulillah, dapat Hotel Gelora kamar 206 dengan tarif 250 ribu/malam. Hufttt... lega.

Setelah ditraktir makan Coto oleh Pak Kadis, kami diantar ke penginapan. Tidak perlu susah mencari karena Pak Kadis tau tempatnya. Hanya saja, pas sampai dan kami mau turun, Pak Kadis bilang, "kalian hati-hati, tidak enak perasaanku." Saat itu tanggapan kami B aja karena pikir cuma lucu-lucuan. Tapi eh tapi, entah kenapa diriku langsung curiga. Kutanyalah Om Google tentang hotel ini. Dan WOW, apa yang kutemukan? Tepat beberapa kamar dari kamar yang akan kami tempati, tepatnya kamar 201, pernah dipakai sebagai lokasi pemb*nu*an. Hikzzz... Day 1 Kolaka kok gini amat? 😂😂 

Berhubung sudah terlanjur transfer untuk 2 malam, saya pasang mode keep calm depan Bu Tinces. Bismillah, coba dulu. Kalau aneh-aneh, besoknya auto pindah. Alhamdulillah, pas masuk banyak tamu dari kabupaten lain. Jadi, agak lega. Lagian, tidak ada juga nuansa-nuansa mistis yang dirasakan. Insya Allah aman lah ya. 

Belum sempat rebahan, dapat telpon dari Mas yang ajak untuk ke Pomalaa antar Pak Rahmat  ke rumah kakaknya. Tak pakai ba bi bu, langsung siap-siap tunggu mereka. Slogan utama dalam perjalanan, "Selama Allah masih kasih sehat, sempat, dan sangu, maka jelajahi sebanyak mungkin tempat yang bisa dijangkau." 

Jarak Kolaka-Pomalaa kurnag lebih 10 km. Sepanjang perjalanan melewati pinggir pantai. Masya Allah. indah sekali. Setelah perjalanan 15 menit an, sampailah kami di daerah pemilik Tambang Emas Antam tersebut. Berhubung sudah jelang malam, kami tidak lama berada di Pomalaa. Yang penting sudah lihat. 

Malamnya, OTW ke lokasi pembukaan rangkaian HUT Sultra. Tepatnya di Lapangan Merdeka Kolaka. Jalanan macet, manusia dimana-mana. Sampai lokasi, ternayat pembukaan belum dimulai. Mau masuk ke area dekat panggung tapi ternyata di larang. Walhasil, kami hanya bisa meliput dari luar. Terdesak penonton lain sampai harus mepet pagar demi dapat liputan yang bagus. Kurang totalitas apalagi kiteeee.

Usai acara, pas mau pulang, hujan meluncur deras. Mau pesan angkutan online tapi susah jaringan plus susah dapatnya. Saya dan Tina berlindung di Indomaret sambil menunggu kendaraan yang bisa antar kembali ke hotel. 

Sekitar jam 12, akhirnya dapat juga. But, tau tidak apa yang berkeliaran di otakku? Hujan deras + tempat nginap yang kesannya horor, Ya Allah... Ya Allah. Sampai penginapan, apa yang terjadi? pintu lobby sudah tertuutup. Cari jalan di samping, malah dapat ruangan-ruangan yang menambah kesan horor. Coba WA kontak hotel, tidak dibalas. Akhirnya WA Mas untuk jaga-jaga jemput kami kalau tidak bisa masuk hotel. 

Alhamdulillah, sekitar setengah jam terlunta-lunta di luar, ada tamu hotel yang juga baru sampai. Tanpa tedeng aling-aling, mereka langsung mengarah ke sisi kanan dan masuk lewat pintu. Haaaahhhh... ternyata ada pintu samping ini? Hufttt... akhirnya bisa masuk juga. Karena capek dan sempat stress akhirnya tidak sempat lagi mikir takut. Apalagi beberapa tetangga kamar juga masih terdengar bercakap-cakap. Lansung saja cuci muka, sikat gigi, wudhu, lalu tidur. Alhamdulillah, aman sampai pagi.