MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

The Roller Coaster of My Life

The Roller Coaster of My Life
Add Comments
Senin, 05 Januari 2026

Terlahir dari keluarga besar sekali, saya adalah bagian dari Ishak Family (keluarga ayah) dan Harpena Squad (keluarga ibu). Anak pertama dari 5 bersaudara yang lahir dari pasangan LM Ishak dan Wa Hario. Lahir pada 29 Mei 1989. Almanak yang menjadi kebanggan tersendiri sebab di tanggal ini, ratusan tahun silam tepatnya pada tahun 1453 terjadi sebuah peristiwa yang menjadi perwujudan dari Bisyarah Rasulullah. 

"Latuftahannal-Qusthanthīniyyah, falani'mal amīru amīruhā, walani'mal jayshu dzālikal jaysh."

Arti Hadis:
"Sungguh, Konstantinopel itu benar-benar akan ditaklukkan (dibuka). Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut." 

Ini adalah kisah yang membuatku jatuh cinta saat awal-awal mengenal kata ‘hijrah’. Kisah yang membuatku mencari lebih banyak dan dibuat berkali-kali jatuh cinta pada banyaknya kisah menakjubkan dalam peradaban Islam.

Thats why, saya menggunakan tambahan 1453 sebagai user name pada beberapa akun pribadi.

Dalam perjalanan negeri ini pun, 29 Mei menjadi tonggak awal persiapan kemerdekaan melalui  agenda Sidang I BPUPKI. Keren kan tanggal lahir koe? 😊😊

Ok, dari tanggal lahir, lanjut ke Timeline hidup. Agak belibet sih tapi yakin disetiap fasenya pasti ada pembelajaran berharga.

SD : Kelas 1-5 di SDN 2 Wakorumba Selatan di Pure lalu pindah ke SD 2 Andonohu
SMP : Kelas 1-2 di SMPN 5 Andonohu lalu pindah ke SMPN 1 Wakorumba Selatan
SMA : Cuma 1 yaitu di SMAN 2 Wakorumba Selatan

Masih aman lah ya, perjalanan setelahnya nih yang roller coaster.

Sejak SMA, sudah planning untuk lanjut ke jurusan Bahasa Inggris atau Biologi. Dua bidang yang memang kuminati. Tapi, pas mau daftar kuliah ada tawaran dari paman untuk tes beasiswa D3 Teknik Komputer Jaringan di AMIK Yapennas Kendari. Ini system nya MoU sama sekolah. Jadi nanti pas tamat, langsung di tempatkan di sekolah masing-masing. Dan, setelah ikut tesnya, I got it.

Meski tak sesuai passion, coba untuk dijalani. Hasilnya? Saya malah kebanyakan pulang kampung. Tak kuat aku berhadapan dengan Bahasa Pemrograman, kabel-kabel, dan segala pirantinya.

Singkat cerita, sampailah di masa KKN yang dapatnya di Desa Mowila, Kecamatan Konawe.  After KKN ini kan harusnya udah nyusun tugas akhir ya, tapi saya malah OTW Makassar dan tes kebidanan. Alasannya, ingin jadi dosen di bidang yang berhubungan dengan system reproduksi.

Alhamdulillah lulus di AKBID Reformasi Makassar. Sesuai bidang sih tapiiiiiiiiiii saya tidak minat untuk berurusan dengan pasien. Saya minatnya berkutat di teori-teori dan penjelasan. Alhamdulillah, otak agak encer jadi masih bisa lah ketolong.

Di momen ini juga saya di daulat menjadi Ketua Senat. Amanah yang membawaku naik pesawat dan kereta api pertama kali secara GRATIS. Karena saat masa jabatanku bertepatan dengan pembentukan Ikatan Mahasiswa Kebidanan Indonesia (IKAMABI). Jadi, seluruh instansi kebidanan diundang untuk menghadiri Munas Rakernas I di Malang.

Pengalaman berharga yang membuka cakrawala berpikir dan membawa banyak sudut pandang baru. Juga mempertemukan dengan orang-orang baru yang dari mereka saya memiliki akses ke apa yang sebenarnya saya cari.

Agenda kedua yang juga membekas saat jadi ketua Senat adalah menghadiri temu pakar yang membahas tentang Uji Kompetensi bagi bidan di Universitas Airlangga Surabaya. Ya, sebelum lumrah seperti sekarang, uji kompetensi ini dibahas dulu oleh para ekspert dan melibatkan mahasiswa kebidanan dari seluruh daerah di Indonesia.

Di sisi lain, jabatan ini juga yang mempertemukan ku dengan masalah yang membuatku angkat kaki dan pindah ke STIKES GRAHA EDUKASI. Melanjutkan studi hingga selesai pada tahun 2013. Beberapa bulan setelah ayah meningggal.

Sadar diri bahwa saya tidak kompeten di klinik, saya mencoba peruntungan tes untuk lanjut S1 di UNAIR karena ternyata untuk jadi dosen itu, harusnya langsung S1 atau ambil jurusan Kesehatan Masyarakat peminatan Kesehatan Reproduksi. Tapi, ternyata belum rezeki. Mau lanjut S1 Kespro di UMI Makassar tapi karena satu dan lain hal, tidak jadi.

2014, pulanglah daku ke Sulawesi Tenggara dan bertemu buku-buku tentang bisnis. Yang lagi hits waktu itu, celotehan-celotehan Bob Sadino tentang entrpreneurship.  Dan bertepatan dengan momen belajar Islam dan terpesona dengan kalimat ‘9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang’.

Finally, coba berbisnis online dan buka penyewaan buku. Sempat mencoba untuk tes CPNS tapi belum apa-apa sudah dapat info tentang ‘main uang’. Auto mundur alon-alon.

Di bisnis ini, sebenarnya cukup ada lah penghasilan tapi tetap saja masih belum bisa untuk mandiri. Sempat insecure juga lihat teman-teman seangkatan yang sudah kerja mapan atau lanjut pendidikan.

Kadang, terpikir bahwa rentang 2014-2018 itu jadi sesuatu yang sia-sia. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, di momen itulah saya banyak terhubung dengan ilmu-ilmu ke Islaman. Mengenal lebih banyak tentang agama ini melalui organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

2018 Alhamdulillah bisa umroh sekeluarga dengan penuh perjuangan dan dramanya. After umroh, Alhamdulillah bisa lanjut kuliah DIV kebidanan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Akses yang mudah untuk membaca buku-buku berkualitas, membuatku menjajal dunia tulis menulis. Alhamdulillah beberapa kali menang di Tingkat nasional.

2019 selesai dan pulang kampung untuk tes CPNS. Tes nya murni sih, tapi STR sudah mati. Jadi gagal di seleksi berkas. Mulai lagi dengan episode baru. Jadi freelancer bidang kepenulisan. Membuat blog pribadi dan membuka kerjasama. Cuan sih tapi lagi-lagi nggak nutup.

Mau kabur lagi dari kampung, tetiba Corona menyerang. Terpaksa stay di kampung melanjutkan Taman Baca yang sudah digagas, jadi guru ngaji, dan masih cari cuan dari kepenulisan. Sama jual pulsa juga deeehh. 

Sampailah di tahun 2021. Pertengahan tahun ada tes CPNS, disuruh lah tes sama ibu. Cari formasi D4 kebidanan tapi jauh-jauh sementara inginnnya dekat ibu. Coba-coba cek formasi di Muna Barat. Eh, dapat formasi untuk D3 Komputer -Teknisi Produksi Multimedia dan Web-. Pikirku, ‘kece nih, pasti kerjanya nanti buat konten tentang daerah. Bisa jalan-jalan sambil menulis.’

Ku ubek-ubek lah ijazah komputerku. Eh, kelupaan. Walaupun saya kabur setelah KKN tapi di tahun 2011 saya pulang ke Kendari dan menyelesaikan D3 Komputer hingga akhirnya dapat ijazah juga. Hahahaha

Ijazah yang hampir jadi fosil inilah yang kupakai untuk tes CPNS. Awalnya cuma iseng dan sekedar menuruti kemauan ibu. Daftar saat perpanjangan. Berkas pendaftaran yang harusnya dibawa ke kantor pos secara langsung, saya hanya titip ke jonson dan minta tukang ojek langganan untuk bawa. Mau sampai atau tidak, nda terlalu jadi masalah.

Qadarullah, pas pengumuman administrasi, lulus dong. Karena tesnya pakai sistem CAT dan live score, diriku harus belajar dong. Harus jaga nama baik. Nda keren sekali kalau nilai yang terpampang di layar berada dibawah standar.

Alhamdulillah pas tes, bisa keluar dengan hasil 439 dan jadi yang tertinggi di sesiku. Kepalang tanggung, lanjut SKB. Nilai terrtinggi kedua di formasiku dan setelah integrasi nilai SKD dan SKB berada di puncak klasemen dari 5 orang yang lolos.

Dan, 2022 resmi jadi warga Kominfo Muna Barat. Kerjanya apa? Meliput kegiatan pemerintah. Jadi jurnalis sekaligus reporter. Sesuatu yang juga menjadi ketertarikanku setelah membaca Negeri 5 Menara nya Ahmad Fuadi. Dan 99 Cahaya di Langit Eropa nya Hanum Salsabila Rais bersama sang suami Rangga Almahendra.

Untuk soal reporter berita ini, jadi flash back ke masa-masa SD dimana saya sering memperagakan gaya reporter TVRI di depan cermin. Hahahahah… setelah berputar-putar, ternyata jatuhnya ke situ-situ juga.

Satu hal yang menjadi kesyukuran terbesarku adalah menjadi abdi negara di saat sudah lebih mengenal Islam. Datang bersama petuah ayah ‘Jangan Bohong Meski Bercanda’. Seuatu yang dulu kuanggap sepele, ternyata sangat sulit untuk mempertahankannya di dunia birokrasi saat ini.  

Yups, tidak bisa dipungkiri bahawa dunia birokrasi hari ini diisi oleh orang-orang yang mayoritas menganggap bahwa kejujuran bukan hal yang perlu dijaga. So, menjaga untuk tetap lurus rasanya ngos-ngosan sekali. But, sejahat apapun dunia, mari berusaha untuk menjadi yang memperbaiki bukan malah semakin menghancurkan.