Terlahir dari keluarga besar sekali, saya adalah bagian dari Ishak Family (keluarga ayah) dan Harpena Squad (keluarga ibu). Anak pertama dari 5 bersaudara yang lahir dari pasangan LM Ishak dan Wa Hario. Lahir pada 29 Mei 1989. Almanak yang menjadi kebanggan tersendiri sebab di tanggal ini, ratusan tahun silam tepatnya pada tahun 1453 terjadi sebuah peristiwa yang menjadi perwujudan dari Bisyarah Rasulullah.
"Latuftahannal-Qusthanthīniyyah, falani'mal amīru
amīruhā, walani'mal jayshu dzālikal jaysh."
Arti Hadis:
"Sungguh, Konstantinopel itu benar-benar akan ditaklukkan (dibuka).
Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah
pasukan tersebut."
Ini adalah kisah yang membuatku jatuh cinta saat awal-awal
mengenal kata ‘hijrah’. Kisah yang membuatku mencari lebih banyak dan dibuat
berkali-kali jatuh cinta pada banyaknya kisah menakjubkan dalam peradaban
Islam.
Thats why, saya menggunakan tambahan 1453
sebagai user name pada beberapa akun pribadi.
Dalam perjalanan negeri ini pun, 29 Mei menjadi tonggak awal
persiapan kemerdekaan melalui agenda
Sidang I BPUPKI. Keren kan tanggal lahir koe? 😊😊
Ok, dari tanggal lahir, lanjut ke Timeline hidup. Agak
belibet sih tapi yakin disetiap fasenya pasti ada pembelajaran berharga.
SD : Kelas 1-5 di SDN 2 Wakorumba Selatan di Pure lalu
pindah ke SD 2 Andonohu
SMP : Kelas 1-2 di SMPN 5 Andonohu lalu pindah ke SMPN 1 Wakorumba Selatan
SMA : Cuma 1 yaitu di SMAN 2 Wakorumba Selatan
Masih aman lah ya, perjalanan setelahnya nih yang roller
coaster.
Sejak SMA, sudah planning untuk lanjut ke jurusan
Bahasa Inggris atau Biologi. Dua bidang yang memang kuminati. Tapi, pas mau
daftar kuliah ada tawaran dari paman untuk tes beasiswa D3 Teknik Komputer
Jaringan di AMIK Yapennas Kendari. Ini system nya MoU sama sekolah. Jadi nanti
pas tamat, langsung di tempatkan di sekolah masing-masing. Dan, setelah ikut
tesnya, I got it.
Meski tak sesuai passion, coba untuk dijalani.
Hasilnya? Saya malah kebanyakan pulang kampung. Tak kuat aku berhadapan dengan
Bahasa Pemrograman, kabel-kabel, dan segala pirantinya.
Singkat cerita, sampailah di masa KKN yang dapatnya di Desa
Mowila, Kecamatan Konawe. After KKN
ini kan harusnya udah nyusun tugas akhir ya, tapi saya malah OTW Makassar dan
tes kebidanan. Alasannya, ingin jadi dosen di bidang yang berhubungan dengan
system reproduksi.
Alhamdulillah lulus di AKBID Reformasi Makassar. Sesuai
bidang sih tapiiiiiiiiiii saya tidak minat untuk berurusan dengan pasien. Saya
minatnya berkutat di teori-teori dan penjelasan. Alhamdulillah, otak agak encer
jadi masih bisa lah ketolong.
Di momen ini juga saya di daulat menjadi Ketua Senat. Amanah
yang membawaku naik pesawat dan kereta api pertama kali secara GRATIS. Karena
saat masa jabatanku bertepatan dengan pembentukan Ikatan Mahasiswa Kebidanan
Indonesia (IKAMABI). Jadi, seluruh instansi kebidanan diundang untuk menghadiri
Munas Rakernas I di Malang.
Pengalaman berharga yang membuka cakrawala berpikir dan
membawa banyak sudut pandang baru. Juga mempertemukan dengan orang-orang baru
yang dari mereka saya memiliki akses ke apa yang sebenarnya saya cari.
Agenda kedua yang juga membekas saat jadi ketua Senat adalah
menghadiri temu pakar yang membahas tentang Uji Kompetensi bagi bidan di
Universitas Airlangga Surabaya. Ya, sebelum lumrah seperti sekarang, uji
kompetensi ini dibahas dulu oleh para ekspert dan melibatkan mahasiswa
kebidanan dari seluruh daerah di Indonesia.
Di sisi lain, jabatan ini juga yang mempertemukan ku dengan
masalah yang membuatku angkat kaki dan pindah ke STIKES GRAHA EDUKASI.
Melanjutkan studi hingga selesai pada tahun 2013. Beberapa bulan setelah ayah
meningggal.
Sadar diri bahwa saya tidak kompeten di klinik, saya mencoba
peruntungan tes untuk lanjut S1 di UNAIR karena ternyata untuk jadi dosen itu,
harusnya langsung S1 atau ambil jurusan Kesehatan Masyarakat peminatan
Kesehatan Reproduksi. Tapi, ternyata belum rezeki. Mau lanjut S1 Kespro di UMI
Makassar tapi karena satu dan lain hal, tidak jadi.
2014, pulanglah daku ke Sulawesi Tenggara dan bertemu
buku-buku tentang bisnis. Yang lagi hits waktu itu, celotehan-celotehan Bob
Sadino tentang entrpreneurship. Dan
bertepatan dengan momen belajar Islam dan terpesona dengan kalimat ‘9 dari 10
pintu rezeki adalah berdagang’.
Finally, coba berbisnis online dan buka penyewaan
buku. Sempat mencoba untuk tes CPNS tapi belum apa-apa sudah dapat info tentang
‘main uang’. Auto mundur alon-alon.
Di bisnis ini, sebenarnya cukup ada lah penghasilan tapi
tetap saja masih belum bisa untuk mandiri. Sempat insecure juga lihat teman-teman
seangkatan yang sudah kerja mapan atau lanjut pendidikan.
Kadang, terpikir bahwa rentang 2014-2018 itu jadi sesuatu
yang sia-sia. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, di momen itulah saya banyak
terhubung dengan ilmu-ilmu ke Islaman. Mengenal lebih banyak tentang agama ini
melalui organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
2018 Alhamdulillah bisa umroh sekeluarga dengan penuh
perjuangan dan dramanya. After umroh, Alhamdulillah bisa lanjut kuliah DIV
kebidanan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Akses yang mudah
untuk membaca buku-buku berkualitas, membuatku menjajal dunia tulis menulis.
Alhamdulillah beberapa kali menang di Tingkat nasional.
2019 selesai dan pulang kampung untuk tes CPNS. Tes nya
murni sih, tapi STR sudah mati. Jadi gagal di seleksi berkas. Mulai lagi dengan
episode baru. Jadi freelancer bidang kepenulisan. Membuat blog pribadi
dan membuka kerjasama. Cuan sih tapi lagi-lagi nggak nutup.
Mau kabur lagi dari kampung, tetiba Corona menyerang.
Terpaksa stay di kampung melanjutkan Taman Baca yang sudah digagas, jadi guru
ngaji, dan masih cari cuan dari kepenulisan. Sama jual pulsa juga deeehh.
Sampailah di tahun 2021. Pertengahan tahun ada tes CPNS,
disuruh lah tes sama ibu. Cari formasi D4 kebidanan tapi jauh-jauh sementara
inginnnya dekat ibu. Coba-coba cek formasi di Muna Barat. Eh, dapat formasi
untuk D3 Komputer -Teknisi Produksi Multimedia dan Web-. Pikirku, ‘kece nih,
pasti kerjanya nanti buat konten tentang daerah. Bisa jalan-jalan sambil
menulis.’
Ku ubek-ubek lah ijazah komputerku. Eh, kelupaan. Walaupun
saya kabur setelah KKN tapi di tahun 2011 saya pulang ke Kendari dan
menyelesaikan D3 Komputer hingga akhirnya dapat ijazah juga. Hahahaha
Ijazah yang hampir jadi fosil inilah yang kupakai untuk tes
CPNS. Awalnya cuma iseng dan sekedar menuruti kemauan ibu. Daftar saat
perpanjangan. Berkas pendaftaran yang harusnya dibawa ke kantor pos secara
langsung, saya hanya titip ke jonson dan minta tukang ojek langganan untuk
bawa. Mau sampai atau tidak, nda terlalu jadi masalah.
Qadarullah, pas pengumuman administrasi, lulus dong. Karena
tesnya pakai sistem CAT dan live score, diriku harus belajar dong. Harus jaga
nama baik. Nda keren sekali kalau nilai yang terpampang di layar berada dibawah
standar.
Alhamdulillah pas tes, bisa keluar dengan hasil 439 dan jadi
yang tertinggi di sesiku. Kepalang tanggung, lanjut SKB. Nilai terrtinggi kedua
di formasiku dan setelah integrasi nilai SKD dan SKB berada di puncak klasemen
dari 5 orang yang lolos.
Dan, 2022 resmi jadi warga Kominfo Muna Barat. Kerjanya apa?
Meliput kegiatan pemerintah. Jadi jurnalis sekaligus reporter. Sesuatu yang
juga menjadi ketertarikanku setelah membaca Negeri 5 Menara nya Ahmad Fuadi. Dan
99 Cahaya di Langit Eropa nya Hanum Salsabila Rais bersama sang suami Rangga
Almahendra.
Untuk soal reporter berita ini, jadi flash back ke masa-masa
SD dimana saya sering memperagakan gaya reporter TVRI di depan cermin. Hahahahah…
setelah berputar-putar, ternyata jatuhnya ke situ-situ juga.
Satu hal yang menjadi kesyukuran terbesarku adalah menjadi
abdi negara di saat sudah lebih mengenal Islam. Datang bersama petuah ayah
‘Jangan Bohong Meski Bercanda’. Seuatu yang dulu kuanggap sepele, ternyata
sangat sulit untuk mempertahankannya di dunia birokrasi saat ini.
Yups, tidak bisa dipungkiri bahawa dunia birokrasi hari ini
diisi oleh orang-orang yang mayoritas menganggap bahwa kejujuran bukan hal yang
perlu dijaga. So, menjaga untuk tetap lurus rasanya ngos-ngosan sekali. But,
sejahat apapun dunia, mari berusaha untuk menjadi yang memperbaiki bukan malah semakin
menghancurkan.
Posted by 
comment 0 Comment
more_vert