Yeay, akhirnya di medio Juni 2026, sampai juga di tempat ini. Tempat yang sebenanrya sudah lama masuk dalam wishlist. Terlebih setelah digunakan oleh Wakil Bupati Buton Selatan sebagai lokasi foto pre wedding.
Heran sih, secara, di Buton Selatan itu, tempat cantik nan
estetik bejibun. Bahkan di belakang rumah penduduk pun, pemandangannya amazing.
Ini berdasarkan pengalaman langsung saat berkunjung ke rumah bibi di Batauga, Buton Selatan.
So, ketika orang penting Buton Selatan memilih tempat ini
sebagai latar foto, pastilah karena tempat ini punya pesona tersendiri. Sejak
itu, saya pun merencanakan untuk berkunjung. Tapi, entah mengapa hal-hal yang
heboh direncanakan, justru lebih sering berakhir gagal.
Hingga akhirnya pakai mode “Tiba Masa Tiba Akal”. And
then, here I am.
Jujur saja, ketika sampai di tempat ini, realita yang ada
melebihi ekspektasi yang ada di otakku. Hamparan savana hijau membentang
cukup luas. Berdampingan dengan telaga berair tenang yang di atasnya tumbuh
jejeran Pohon Longkida yang tampak meranggas.
Air di sini tidak mengalir. Tampak diam dan tenang. Saya pun
jadi bertanya-tanya, tentang sumber air di tempat ini. Saya mengetuk layar gadget
untuk menuntaskan rasa penasaran.
Ternyata di sini terdapat tiga sumber mata air alami yaitu Mata
Air Soni, Mata Air Kasiono Oe, serta Mata Air Liano Ghule. Yang terakhir
ini rada horor ya karena jika diterjemahkan berarti Mata Air Gua Ular.
Uniknya, mata air ini tidak dapat menyuplai air
telaga sepanjang tahun. Di saat kemarau panjang, airnya bisa surut total sehinggga
dasar telaga akan tampak. Kondisi ini jadi pembeda antara Telaga Kasiono Oe
dengan telaga lainnya yang airnya menetap sepanjang tahun.
Fenomena ini jadi mengingatkan pada Danau Cerknica di
Slovenia. Danau dua mode. Mode genangan air raksasa di musim hujan dan mode
perekebunan atau tempat menggembala saat musim kemarau.
Saya pun iseng browsing dengan kata kunci “apakah fenomena
di Kasiono Oe tergolong unik dan langka?”
Ternyata tidak karena fenomena air surut ini lumrah terjadi
di wilayah dengan gugusan pulau karst yang luas seperti di Pulau Muna,
Maros-Pangkep, dan Kawasan Gunung Sewu.
TAPI Kasiono Oe tetap punya keunikan tersendiri yang
tidak dimiliki tempat lain yaitu
·
Satu-satunya dengan ekosistem Pohon Longkida
estetik. Di tempat lain, kalau sedang kering, yang ada hanya retakan tanah atau
rumput liar.
·
Terletak di area yang mudah dijangkau. Biasanya,
telaga karst musiman ini ada di hutan atau gua terpencil.
·
Airnya disuplai dari 3 mata air sekaligus
Masya Allah. Inilah salah satu alasan mengapa saya sangat
berkeinginan untuk menapak di sebanyak-banyaknya tempat di muka bumi ini. Sebab,
setiap perjalanan akan meninggalkan kesan tersendiri. Disisi lain, banyak
fenomena alam yang semakin menyadarkan betapa luar biasanya Allah mendesain
bumi ini.
Ok. Back to Kasiono Oe.
Datang saat matahari cerah dengan langit biru yang terang,
jadi kombinasi yang bikin mata terpesona. Walaupun panas membara, tapi mengabadikan
momen di tempat ini tidak boleh terlewatkan. Oh ya, jika ingin berteduh, di
sekitar lokasi terdapat pohon jambu mete yang rindang.
Sesekali, saya meyaksikan burung-burung rawa terbang rendah. Tampak pula beberapa ekor burung mematuk-matuk di sekitar lokasi. Di waktu lain, seekor burung Elang menyambar ikan dengan gesit.
Melihat pemandangan ini, saya jadi merencanakan untuk datang
pada pagi atau sore hari. Perpaduan siluet pohon, latar belakang perbukitan,
padang rumput, dan refleksi air sudah pasti menyajikan pemandangan nan amazing.
Sayangnya, saya kurang lihai mengambil foto maupun video
sehingga dokumentasinya tampak kurang estetik. Nah, bagi para fotografer dan videographer
handal, tempat ini sangat cocok untuk hunting foto. Juga bagi para konten creator,
Telaga Kasiono Oe bisa menjadi lokasi pembuatan konten yang estetik.
Tapi, seindah apapun gambar atau video, tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi berada di tempatnya secara langsung.
Eh, hampir lupa, ternyata saya belum spill cara ke sini. Tempatnya
cukup mudah di jangkau. Bagi yang berangkat dari Kota Raha, bisa menyusuri
jalan poros Raha-Wakuru. Setelah berkendara sekitar 45 menit akan sampai di
Desa Lapadaku, Kecamatan Lawa. Dari sini, baiknya bertanya ke penduduk sekitar
tentang lokasi nya sebab di wilayah ini banyak terdapat lorong.
Bagi yang familiar dengan penggunaan google maps. Di
sini, petunjuknya bisa diandalkan. Rute yang diarahkan cukup akurat dan
melewati jalanan lumayan bagus. Akses ke sana dapat dilewati menggunakan motor
maupun mobil. So, kapan ke Kasiono Oe?
Posted by 


comment 0 Comment
more_vert