Okey, langsung saja. Kita mulai komentari dari bagian sampulnya. First impression gitu. Di sampulnya tergambar ranting patah, daun-daun berguguran, serta sepasang laki-laki dan perempuan. Karena sudah baca sinopsisnya dan si cewek yang memegang kertas jadi saya menyimpulkan bahwa ini adalah kisah di dunia kerja.
Masuk ke daftar isi, buku ini dibagi dalam 39 bab. Ada
potongan sajak di halaman depan. Karena saya tidak begitu tertarik dengan puisi
dan sajak jadi ku skip, gak bisa kasi komentar.
Lanjut ke halaman pertama cerita dimulai. Dibuka dengan
judul Melati. Nama bunga yang juga nama tokoh utama di buku ini.
Adegan awal adalah pertemuan Melati dengan Mbak Thella yang
sedang mencari ‘pengasuh’ untuk adiknya Michael yang lumpuh karena kecelakaan.
Dan eng…ing…eng… ternyata Melati dan Michael adalah teman masa kecil sampai
remaja di masa lalu.
Hahahaha….klise sekali pemirsa. Apakah akan berakhir seperti
drama-drama pada umumnya yang entah mereka bertengkar dulu pada mulanya lalu
jadian? Mari lanjut baca.
Ternyata tidak bertengkar. Michael hanya kaget karena Melati
yang dikenalnya cerdas di bangku sekolah malah kerja jadi ‘pengasuh’ nya. Kaget
yang betulan kaget sampe si Michael ini nyerocos, “Lalu untuk apa otak
cerdas dan nilai-nilai sempurna di sekolah dulu, kalau kamu harus berakhir
seperti ini?”
Idiiiiiiiiiiihhh…sa ae lu Michael. Memangnya
Melati mau seperti itu?
Bab II cerita dari POV si Michael ini. Ternyata, dia tuh tau
masalah paling umum masyarakat kelas bawah yang membuat si cerdas Melati
berakhir jadi pengasuhnya. Dan banyak Melati-Melati lain harus mengubur
mimpinya karena problem tersebut.
“Sekarang aku mengerti kenapa orang miskin tetap miskin dan orang kaya tetap kaya. Sekarang aku mengerti betapa besar pengaruh ekonomi dan privilese keluarga pada keberlangsungan masa depan anak.” (Hal. 5)
Walaupun ini terjadi di banyak kasus tapi tetap ada bahkan
banyak kok kisah-kisah mereka yang berhasil bangkit dan mengubah hidup
keluarganya. So, tetaplah siapkan ikhitar terbaik. Ok.
Masuk Bab 3, judulnya Melati lagi. Loh kok? Karena
penasaran, ku cek lembar-lembar selanjutnya, ternyata judul setiap bab itu adalah
POV dari tiap tokoh. Hmmmm.
Ternyata si Melati ini sudah magister. Kerja dengan posisi
bagus tapi memlih untuk resign karena kantornya seperti penjara hidup. But,
ini Tindakan rahasia karena keluarganya menganggap bahwa kalau di mundur
itu artinya tidak Syukur nikmat.
Hmmmm….lagi-lagi masalah sejuta umat. Manusia dengans
egala masalahnya yang kadang tidak semua orang bisa mengerti dengan keputusan
kita. Cara kita merespon masalah terkadang dianggap sebagai bentuk tidak
bersyukur atau tidak bersabar. Padahal, kita juga berhak kan untuk memposiiskan
diri pada posisi ternyaman yang kita bisa.
Bukan tidak bersyukur, bukan juga tidak bisa membandingkan
diri yang mungkin lebih enak dari orang lain, atau tidak tahu nasehat-nasehat
kehidupan. Hanya saja, semua nasehat dan kuote-kuote bijaksana akan terasa
indah ketika dibaca atau diterima dalam kondisi STABIL. Sekali lagi, STABIL.
Namun, ketika masalah itu datang, maka semua rasanya bulshit.
“Aku sudah muak dan tidak lagi peduli dengan semua nasehat itu.” (Hal. 13)
Singkat cerita, ternyata Michael dan Melati ini ternyata
menyimpan problem masing-masing. Melati dengan resign diam-diamnya yang
tidak boleh ditau oleh keluarganya karena akan membuat sedih orang tuanya.
Lebih tepatnya karena dia yang kini jadi tulang punggung orang tuanya.
Pernah dengar gak kisah seorang anak yang meninggal dan
orang tuanya menangis sambil menggumam yang kurang lebih isinya, “kamu harusnya
jangan mati. siapa yang akan memberi kami uang?”
Ada keluarga model begini? Ada. Di kisah Melati ini
contohnya. Kisah yang cukup rumit karena di satu sisi harus berbakti tapi
disisi lain, ada diri yang juga butuh ‘ruang’ nya. Hikzzz.
Sedangkan Michael dengan perasaan bersalahnya karena
dianggap telah menjadi penyebab kematian tunangannya yang juga seorang artis
dan kesayangan semua orang. Jadi bahan bully an netizen. Sosok kaya yang
sering kali dianggap serba enak ternyata punya masalah juga. Yah, Namanya juga
hidup. Gak masalah, gak sah.
Lanjut baca, ternyata
problem Melati bukan hanya soal keluarga tapi dirinya yang punya kecerdasan
lebih. “Menjadi cerdas ternyata malapetaka.” (Hal. 56)
Si cerdas yang terkucil. Si paling menonjol yang
menghadirkan bibit iri. Dari sinilah masalah bermula. Bukan masalah fisik tapi
masalah mental.
I see. Buku ini secara garis besar mengangkat tema tentang Kesehatan mental. Bagaimana itu terjadi, bagaimana kelelahan penderitanya berjuang pulih, bagaimana mereka menghadapi dunia yang rentan membuat kambuh.
Di sisi lain, Please jadilah manusia yang bisa menjaga
mental orang lain dan jangan auto judge dengan kondisi ini.
“Di luar aku memang tampak baik-baik saja, tapi terkadang
ada rasa gelisah dan cemas yang gak bisa kukontrol. Kalut. Marah. Kesal. Nggak
tau harus berbuat apa. Rasanya mau mati aja. Rasanya mau menghilang dari
semuanya.” (Hal. 100)
Paragraf tadi adalah gambaran kondisi orang-orang yang
sedang menghadapi masalah mental. Mereka harus jungkir balik berperang dengan
dirinya sendiri.
Please, jangan bilang bahwa itu karena mereka kurang beriman or something else like that. Ini adalah penyakit. Sama dengan penyakit fisik, ia tak ada kaitan langsung dengan keimanan. Ia butuh untuk diberi pengobatan terbaik dan dukungan sekitar.
Dan tau tidak, masalah mental itu penyebabnya dari mana?
“Meski Endah terdengar salah dari sisi ceritamu, dia juga
adalah korban. Korban dari tuntutan keluarga, media, public, social, dan
tatanan Masyarakat.”
That’s the point. Semua dituntut serba PERFECT. Dan
apa hasilnya?
“Jari-jariku merayap membuka tas yang masih membelit di
dadaku. Kuambil botol obat penenang. Kutelan dua pilnya. Ah, tidak… tiga atau
empat saja.”
Yupsss… Mereka biasanya berakhir dengan obat penenang. Jika
masalah ini dihadapi oleh mereka dengan ekonomi mumpuni, maka bisa
berkonsultasi ke psikolog. Namun, jika
ekonomi lemah, leih sering berakhir dengan depresi bahkan gangguan
kejiwaan.
Jadi, bagaimana Melati dan
Michael menghadapi masalah mentalnya? Lebih jelasnya baca bukunya langsung
saja. Hehe
Catatan Pribadi
Sebenarnya, saya sudah membaca buku ini ketika bukunya baru
bergabung di Haris Family Library. Tapi, anehnya saya lupa ceritanya, nama
tokohnya, bahkan tentang apa saya blank sama sekali. Ternyata, setelah
saya baca kembali, secara garis besar membahas tentang masalah Kesehatan Mental.
Seperti kebanyakan orang, masalah ini saya anggap bukan
masalah serius. Saya mohon maaf kepada para pejuang kewarasan mental ini.
Dulu, saya berpikir bahwa mereka hanya kurang iman, kurang bersyukur. Ternyata
2025 jadi momen dimana saya juga kebagian berurusan dengan masalah mental ini.
Ternyata, masalah mental ini bukan tentang itu semua.
Masalah mental ini berasal dari proses penerimaan. Ada yang dengan mudah
menerima semuanya, ada pula yang harus survive untuk berjuang.
Saya langsung teringat dengan kalimat salah satu Kawan
bahwa dalam setiap masalah, kita punya 3 tahapan : menolak, adaptasi, dan
akhirnya berada pada fase mau tidak mau harus menerima.
Nah, proses adaptasi ini yang berbeda-beda. Jangan sajikan
kuote, nasihat tentang sabar, juga tentang waktu terbaik yang hanya Allah tahu.
Ini saya pun tahu dan paham akan hal ini. Bahkan soal nasehat, saya paling jago
ketika memberikan kepada orang lain.
Tapi, ketika itu menimpa diri, kok gak bisa? Mata tiba-tiba
saja jadi sumber mata air yang susah untuk dikontrol keluarnya, tiba-tiba ingin
marah, menolak, bahkan membenci. Serius, ini tuh terjadi secara spontan dan
susah untuk dikontrol.
Bahkan berulang kali muncul pertanyaan, “kenapa harus saya?”
Pertanyaan menjebak yang terkadang membuat diri menyalahkan takdir.
Padahal kan tidak boleh. Sebagaimana sosok Melati dan
Michael, mereka menyadari bahwa masalah mental ini adalah penyakit. Sebagaimana
penyakit fisik, tidak ada hubungan dengan keimanan.
Namanya penyakit, ya harus dicari solusinya. Solusi buat
Kesehatan mental yang sekiranya sudah menyakiti diri bahkan berpeluang pada
hal-hal negative lainnya, maka dokternya adalah psikolog dan psikiater. Jangan
ragu untuk mencari opsi ini. Jangan asal minum obat penenang.
Dari percakapan-percakapan Michael dengan psikiaternya, saya
mendapat perspektif baru tentang Psikolog/Psikiater. Profesi yang dulunya saya
pikir tidak penting, ternyata merekalah dokter atas penyakit yang menimpa
psikis ini.
Buat teman-teman yang masih berjuang dengan masalah ini,
semoga Allah beri jalan keluar terbaik. Jangan ragu untuk mencari pertolongan
meski mungkin banyak yang meremehkan.
Posted by 

comment 0 Comment
more_vert