Sebagaimana sudah dibahas, Imam As-Suyuthi menulis biografinya dengan judul At-Tahadduts bi Ni'matillah yang artinya 'Menceritakan Nikmat Allah"
Apakah artinya hidup beliau tidak pernah ada masalah?
Ada di salah satu tulisan beliau yang jadi masalah sampai jengkel sekali. Saking jengkelnya dan jadi masalah di hidupnya, sampai dibuat satu pembahasan khusus ketika beliau harus berhadapan dengan orang-orang bodoh yang melawan ilmu dan fatwanya.
Nah, bayanngkan selevel Imam As-Suyuthi masih ada yang membantah. Tapi disini ada pembelajaran bahwa 'tidak semua yang membantah itu harus dibantah balik'. Tapi, Imam As-Suyuthi akan menanggapi jika ada yang berhubungan dengan masalah sosial besar. Kalau sekedar pribadi, tidak ditanggapi.
Ini kalimatnya, "Saya ingin sebutkan nikmat Allah pada saya yaitu saya punya musuh yang menyakiti saya. Dan saya juga diuji dengan keberadaan Abu Jahal di zaman saya."
Abu Jahal maksudnya bapak kebodohan.
Contoh kasus yang di ceritakan dalam buku ini salah satunya pada Bulan Ramadhan Tahun 886 H.
Ceritanya, pada tahun itu di Mesir ada sebuah tempat kemaksiatan all in one : Liwath, Zina, Khamr, Pesta Musik dan berbagai kemaksiatan lainnya. Tempat itu sangat terkenal hingga orang-orang luar kota datang ke situ.
Imam As Suyuthi mengeluarkan fatwa tentang larangan ke tempat itu. Nah, pemilik tempatnya tuh marah. Dia marah karena tidak lama lagi ada seorang Amir (pejabat) yang akan datang ke tempat situ. Merasa dapat dukungan pejabat, akhirnya si pemilik cari fatwa ke mana-mana.
Nah, As Suyuthi ketika mendengar bahwa ada pemimpin yang mau meneywa tempat itu dia berfatwa bahwa tidak boleha da yang menyewakan tempat itu bahkan Ia berfatwa agar tempat itu dirobohkan.
Ngamuk dong yang punya. Akhirnya, dia ketemu fatwa nyeleneh yang mendukung dia. Bahkan disebutkan bahwa yang suruh menghancurkan itu adalah fatwa tidak benar.
Akhirnya Imam As-Suyuthi mengeluarkan ilmunya juga. Imam As-Suyuthi berkata, "kamu dapat fatwa darimana?"
Imam As-Suyuthi mengatakan, "Fatwa untuk menghancurkan tempat maksiat itu bukan fatwa saya tetapi adalah Fatwa Umar bin Khattab, Utsman Bin Affan, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Umar bin Abdul Aziz, Para Ualama Mhazab semua mengatakan fatwa menghancurkan tempat seperti itu boleh.
Saya tidak pernah meragukan ilmmu anda, cuma anda itu seperti kalimatnya seorang alim, "Ada orang berilmu tapi ilmu itu tidak mengajarinya adab."
Alhamdulillahs etelah diingatkan demikian, akhirnya Qadarullah, si Pejabat tidak jadi ke tempat tersebut. Dan akhirnya, tempat itu bebas dari kemaksiatan.
Intinya adalah Tantangan pun disebut sebagai Kenikmatan.
Posted by 
comment 0 Comment
more_vert