MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

7(2)/365 in 2026 "Bakealu"

7(2)/365 in 2026 "Bakealu"
Add Comments
Jumat, 06 Februari 2015

"Dalam keluarga, saya yang paling malas pergi pesta tapi kalau tempatnya seperti ini, bisa dibicarakan"

Demikian caption WA yang saya tulis mewakili kejadian hari ini. Yups, kalau disuruh pergi pesta, saya paling sering menolak. Tapi berhubung hari ini tempatnya di Bakealu, dirikulah yang paling semangat 45. Meskipun harus melawan rasa dag dig dug karena harus menyeberang pulau dan cuaca sedang mood swing. 

Bismillah. Gas full demi bertemu dengan tempat cantik. Saya berangkat bersama Ibu menuju Pelabuhan Laino untuk menunggu keluarga dari Lasehao. Kami sampai bersamaan dengan Spit yang akan membawa kami berlayar merapat di Pelabuhan Laino. Sekitar 1 jam menunggu, rombongan pengantin laki-laki tiba. 

Cuss....berangkat. Lepas dari pelabuhan, masih aman. Eh, sekitar 10 menit kemudian mulai goyang. Waduh. Berhubung goyangannya cukup bikin radar panik aktif, diriku memilih ke atas biar bisa lihat laut. Entah mengapa, dalam perjalanan laut, diriku lebih tenang saat bisa melihat lautan secara langsung. 

Ternyata, lautnya memang tenang tapi ada arus yang bikin kapal oleng kanan oleng kiri. Masih berusaha menetralisir hati, langit mengirim bulir-bulir air. Awalnya kekeh untuk bertahan tapi lama kelamaan intensitas hujannya semakin deras. Mau tidak mau, diriku bergeser ke ruangan dalam spit. 

Mencoba keep calm sebagai anak pulau walaupun tetap dag dig dug. Bagaimana tidak, gelombang lautnya masih konsisten ditambah langit gelap dan hujan. Lengkap sudah. Alhamdulillah, jelang sampai Bakelau, hujan berangsur reda. Kecantikan Pulau Bakealu menyapa dengan hamparan pasir putih yang disebut Lansu. Pulaunya yang dikelilingi oleh lautan menyajikan keindahan tersendiri. Rasanya tidak sabar, untuk segera on cam.

Setelah merapat di Pelabuhan Bakealu, rombongan naik ke darat dan barsiap menuju rumah mempelai perempuan. Dalam balutan busana adat khas Muna, rombongan kami menjadi perhatian di sepanjang jalan. Ibu-ibu memakain pakaian adat yang disebut Kabhantapi. Ada pula gadis dan anak kecil yang bertugas membawa seserahan. 

Saat sampai kami disambut oleh pihak tuan rumah. Serangkaian prosesi pernikahan dalam adat Muna berlangsung khidmat. Pun dengan ijab qabul yang dilisankan oleh mempelai laki-laki, lancar dalam satu kali pelafalan. Barakallahumma laka wabaraka alaika wa jamaa bainakuma fii khair. 

Tanpa membuang waktu, beberapa orang saling mengajak untuk segera menuju ke Lansu. Otomatis romantis, diriku ikut bergegas. Dari lokasi pesta, kami berjalan kurang lebih 500 meter hingga bertemu gerbang kayu bertuliskan 'Selamat Datang Di Kawasan Wisata Bakealu Island'.  Berhubung kami datang bukan musim liburan, jadi masuknya gretong

Selepas gerbang, terdapat pohon rindang yang berjejer serta gazebo di sisi kiri dan kanan. Di sini juga terdapat lapangan voli yang tepat berhadapan dengan area teras dengan latar belakang tulisan Bakealu Island. Di belakang tulisan inilah, lokasi utama yang kutuju. 

Hamparan pasir putih memanjang jadi pemandangan yang selalu bikin kagum meski sudah beberapa kali ke tempat ini. Bersyukur kami datang saat air laut sedang surut. Jika air pasang, pasirnya tertutup oleh air laut. Gradasi hijau biru menambah keindahan hamaparan pasir putih. Tanpa membuang waktu, diriku langsung take foto dan video dari berbagai sisi. My pis Acil jadi sasaran didaulat jadi fotografer dadakan. 

Jelang jam 1, kami kembali ke darat dan mendekat ke pelabuhan sebab sudah persiapan pulang. Diriku maju mundur untuk ikut pulang karena kondisi laut yang masih belum sepenuhnya tenang. Saya lebih memilih untuk ke Pure dulu dan baru pulang keesokan harinya. Tapi ideku tidak disetujui oleh ibu. Beliau mengajak untuk langsung pulang saja. Alhamdulillah ternyata hanya awal-awal saja yang seram, semakin mendekat ke Raha, cuaca makin terang dan laut terhampar mulus bak karpet. Masya Allah.