MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

8(2)/365 in 2026 "Wakadia"

8(2)/365 in 2026 "Wakadia"
Add Comments
Sabtu, 07 Februari 2015

Weekend ini Masya Allah sekali. Setelah hari Sabtu kemarin ke acara nikahan keluarga sekaligus wisata tipis-tipis di Bakealu, hari Minggu nya diawali dengan grounding. Kegiatan yang akhir-akhir ini jadi salah satu favorit. Bersentuhan dengan alam secara langsung sekaligus Birul Walidain.

Yups, semenjak ibu berkebun, saya jadi bisa melakukan aktivitas yang terhubung langsung dengan alam yaitu menyentuh tanah tanpa alas. Diawali dengan jalan kaki dari rumah ke kebun. Ketika sampai di tempat yang jarang dilewati orang, saya melepas kaos kaki dan nyeker. Sensasi nyeker di atas tanah dan rumput yang masih basah oleh embun itu, awesome. Dingin dan nyaman.  

Sesampai di kebun, saya mencari Tembilang dan mulai membantu ibu menyiangi rumput-rumput yang tumbuh di sekitar Jagung dan Padi. Ini juga jadi momen untuk berbincang panjang dengan ibu. Terlebih hari ini saya memutuskan untuk tidak membawa HP. Alhamdulillah bisa cut off dari dunia maya selama 2 jam full. Jelang jam 8 kami pun pulang untuk bersiap ke acara menyambut Ramadhan yang dilaksanakan di Masjid Al Hidayah Desa Wakadia

Awalnya, saya ingin menolak dengan alasan mau mencuci pakaian. Tapi, sepertinya Ibu berharap saya ikut. Lagi pula, sudah lama saya tidak bermajelis ilmu. So, saya memutuskan untuk berangkat juga. Saat kami sampai, peserta sudah banyak yang hadir. Lebih dari separuh bagian masjid sudah terisi. Kami pun menuju panitia untuk registrasi dan mencari tempat yang masih lowong.

Di bagian depan tampak spanduk berukuran besar bertuliskan "Ramadhan, Momentum Merajut Harmoni Menuju Indonesia Takwa". Nama dua pemateri ikut terpampang yakni Ustadzah Zalniah, SH dan Ustadzah Nurwan, S.Kep.Ns. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Muslimah Wahdah Islamiyah. 

Entah karena apa, beberapa menit duduk di sini, saya disergap perasaan haru. Mengingat momen-momen indah saat masih berada di Kendari dan Jogja. Dimana hampir setiap pekan, saya menghadiri acara serupa. Tapi kini, setahun sekali pun syukur-syukur. Astaghfirullahal adzim.

Hal lain yang membuat saya terharu bahkan meneteskan air mata adalah kegiatan ini di laksanakan di Wakadia. Kampung yang dimasa kecilku hingga beberapa tahun silam, sangat susah menemukan aktivitas Islami. Mayoritas warganya sibuk bertani dan mengolah hasil hutan. Mabuk-mabukan jadi aktivitas utama setelah mencari uang. Walhasil, kekerasan pada perempuan jadi cerita yang nyaris terdengar dari setiap rumah. 

Akhir-akhir ini, para perempuan yang sehari-hari sangat dekat dengan kekerasan efek mabuk-mabukan, kini mendekat pada kalam-Nya dalam bentuk pengajian mingguan yang disebut Dirosah. Dan untuk pertama kalinya, awal tahun 2026 terlaksana Kajian Keagaman. Masya Allah. 

Padahal, beberapa tahun silam, kata ‘kajian’ menjadi momok di desa ini. Kajian dianggap sebagai aliran sesat yang bertujuan untuk membangkang pada adat dan kebiasaan masyarakat. Bahkan kalau ada mahasiswa yang ketahuan mengikuti kajian keIslaman di kampus, terancam diputus uang kuliahnya. Si anak juga siap-siap menjadi bahan sinis an keluarga besar. 

Masya Allah. Yaa muqallibal qulub tsabit qalbi alaa diinik. Allah Sang Maha Pembolak Balik Hati. Dalam keluarga terdekatku pun, ada beberapa yang dulu sinis dengan kata kajian. Kini malah ketagihan ikut pengajian mingguan. Mereka sangat tidak rela tertinggal meski hanya sekali waktu. Barakallah.

Semoga Allah senantiasa menjaga kampung ini. Menurunkan berkah nya dan menjadikan kampung ini sebagai daerah Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur