MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

'Bandung Punya Cerita' episode Masjid Al Jabbar

'Bandung Punya Cerita' episode Masjid Al Jabbar
Add Comments
Sabtu, 26 Agustus 2023

Alhamdulillah bisa kembali menapak di Tanah Pasundan pada 25 Agustus 2023 atau hari ke-9 dalam perjalanan Cuti 1. Kami sampai di Stasiun Kiara Condong jelang Maghrib. Berhubung belum melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar jadi langsung cari mushola terdekat untuk Jamak dan Qashar shalat. 

Bagi yang belum tau, JAMAK dan QASHAR ini adalah menggabung (jamak) 2 waktu shalat dengan diringkas (qashar). Tapi hanya boleh dilakukan pada Salat yang 3 dan 4 rakaat. Misal : Zuhur dan Ashar masing-masing 2 rakaat dengan 2 kali tahiyat akhir lalu salam tanpa jeda. Sedangkan jika menggabung Magrib dan Isya maka 3 rakaat dan 2 rakaat. 1 kali tahiyat awal dan 2 kali tahiyat akhir tanpa jeda. 

Kalau JAMAK saja, itu adalah menggabung 2 waktu shalat dengan rakaat utuh.

Semoga bisa memberi sedikit pencerahan bagi yang sering traveling. Soal jamak dan qashar ini punya syarat dan ketentuannya juga ya, jadi alangkah lebih baik kalau sebelum traveling, pelajari ilmunya. 

Salah satunya, jamak qashar tidak boleh dilakukan kalau dalam perjalanan jika kamu ikut shalat jamaah bersama yang mukim. Maksudnya, kalau saat traveling singgah di sebuah masjid yang orang-orang sekitar akan shalat dan kamu ikut jadi jamaah, maka kamu tidak boleh ikut jamaah dulu terus sambung jamak atau qashar. Kamu harus shalat sesuai waktunya. 

Dari Stasiun Kiara Condong kami bergeser ke kost Mail dengan menggunakan Maxim. Berhubung waktu perjalanan cukup panjang sekitar 9 jam, malamnya langsung tepar. Alhamdulillah tuan rumah sudah masak jadi tinggal makan dan tidur saja. 😄

Hari kedua di Bandung tepatnya tanggal 26/8/2023, saya dan ibu seharian istrahat di kost sambil mencuci pakaian kotor dari Jogja. Asyiknya, saat menjemur bisa sekalian menikmati pemandangan karena kontrakan Pak Wawan ini berada di ketinggian

Esoknya, kami diajak jalan oleh keluarga ipar. Titik kumpulnya di rumah nenek Zia. Tujuannya adalah mengunjungi salah satu ikon Jawa Barat yaitu Masjid Al Jabbar. 


Masjid ini saaaangat luas dan megah. Rasanya di Sulawesi belum ada masjid se WAH ini. Masjid Al Jabbar merupakan masjid terbesar ke-5 di Indonesia. Menempati lahan seluas 25 hektar di Kecamatan Gedebage Kota Bandung. Berdasarkan sejarahnya, kawasan ini dulunya adalah Danau Bandung Purba.


Sebelum masuk ke pelataran, pengunjung akan melewati jembatan sebab masjid dibangun di atas danau buatan. Saat kami datang, di jembatan ini harus jalan perlahan karena banyaknya pengunjung. Jelas saja, pengunjung masjid ini bukan hanya dari kota Bandung tetapi juga dari luar daerah. Hal ini tampak dari bus-bus berkapasitas besar yang kami lihat di jalan sekitar masjid maupun area parkir.

Halamannya sangat luas hingga sanggup menampung 20.000 orang. Sebelum masuk ke area shalat, cekrek di halaman dulu. Jika cuaca sedang teduh maka halaman ini jadi tempat menggelar tikar dan bersantai menikmati kemegahan Masjid Al Jabbar. 

Saat waktu shalat, kami bergegas ke tempat wudhu yang terletak di
basement. Area wudhu sangat luas dan bersih. Tersedia pula toilet duduk maupun jongkok. Oh ya, fasilitas wudhu ini selain yang berada di dalam basement, ada pula di sekitar pelataran masjid. 

Saat berada di area dalam, tampak petugas kebersihan sibuk mengatur agar jamaah tertib dalam berwudhu maupun menggunakan toilet. Masing-masing dari mereka tampak memegang alat pel dan penggiring air untuk menjaga agar ruangan tetap bersih dan tidak licin. Barakallah tim kebersihan ðŸ¤²ðŸ¤². 

Beres wudhu lanjut menaiki tangga yang lumayan tinggi menuju ruang utama untuk shalat. Masya Allah, lagi-lagi dibuat terpesona dengan kemegahan desain interiornya. Melihat keindahan-keindahan seperti ini, kadang terbesit, 'Padahal cuma dunia lho. Bagaimana dengan surga ya?'. 


Warna-warna soft di sekeliling ruangan membuatnya sangat nyaman di pandang. Nuansa krem, coklat, putih, dan gold mendominasi di berbagai sudut pandang. Menatap ke arah atas, netra akan berjumpa desian plafon yang indah dengan lafaz Allah di pusatnya. 


Saya juga dibuat kagum pada tiang-tiang berbentuk kubah yang berada di beberapa sisi. Tiang ini sangat
eye catching. Di cat dominan krem dengan list gold dan dihiasi lampu pada keempat sisinya. Bagian bawah difungsikan sebagai rak tempat Al-Qur'an.

Lantunan iqamah dari pengeras suara memutus sementara perhatianku pada interor masjid. Saya, ibu dan Zia bergabung bersama jamaah untuk menghadap sang pemilik semesta. Dan seperti biasa, saya tidak bisa menahan haru saat mendapat kesempatan sujud di tempat yang jauh dari rumah. 

Usai shalat, kami kembali menemui rombongan. Kupikir kami akan langsung pulang ke kontrakan setelah ini. Ternyata masih diajak untuk lanjut ke rumah Mama Zia di Soreang. Tentu saja ide ini diterima tanpa penolakan. Pokoknya selagi masih sehat, mari kita gasss.