Dicerita sebelumnya, saya sudah menulis kalau akhir dari perjalanan dengan Mode Hemat Mengunjungi Beberapa Landmark Kota Jogja adalah ganti tujuan. Rencana mau ke Keraton, eh ternyata lagi renovasi. Mau pulang ke Aspuri tapi masih terlalu dini. Sayang sekali kalau sudah berada di Tanah Jawa tapi hanya dihabiskan dalam kamar.
Akhirnya kucetuskan ide untuk OTW Solo mengunjungi Masjid Sheikh Zayed. Dengan pola lobi-lobi anak pertama, Ibu setuju dan langsung gasss. Auto pesan Maxim menuju Stasiun Tugu untuk naik KRL (Kereta Rel Listrik). Berhubung ku masih ndeso soal KRL, jadi bertanyalah ke Pak Satpam dan dijelaskan step by step.
Pertama, silahkan antri di loket khusus KRL (berbeda dengan kereta umum). Next, beli kartu seharga Rp.40.000 yang didalamnya sudah ada saldo Rp.10.000.
Berhubung kami akan langsung balik lagi ke Jogja, jadi Top Up lagi saldo Rp.10.000. Oh ya, tarif sekali jalan adalah Rp.8.000.
Beres per-kartu-an, lanjut ke ruang tunggu. Jadwal KRL sudah mendekati disiplinnya Jepang jadi penumpang harus stay di waktu-waktu yang telah ditentukan.
Oh ya, berhubung KRL ini adalah trasnportasi murah meriah
jadi penumpangnya sering padat terlebih di rush hours jadi selalu siap
untuk berdiri sepanjang perjalanan. Naiknya juga lumayan uji nyali karena
berdesakan dengan banyaknya penumpang.
Setelah melewati 10 stasiun, Alhamdulillah sekitar 1 jam sampailah di Stasiun Solo Balapan. Untuk keluar dari stasiun ini dibutuhkan fisik yang paripurna sebab jalannya naik turun tangga berkali-kali.
Diluar
staiun pesan Maxim lagi, biayanya kurang lebih 10 ribuan.
Dari jauh masjid yang merupakan hadiah dari Presiden Persatuan Emirat Arab (PEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan sudah tampak bagian atasnya. Menara-menara yang
menjulang tinggi bersanding dengan kubah berwarna putih dan aksen gold pada
ujungnya. Tampilan ini tentu membawa orang yang melihatnya terbayang pada masjid-masjid khas Timur Tengah.
Nah, masjid ini memang replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque yang berada di Abu Dhabi, UEA sehingga desainnya dirancang mirip dengan aslinya. Masjid yang diresmikan oleh Presiden Jokowi dan Presiden PEA Mohamed Bin Zayed Al Nahyan pada 14 November 2022.
Disini terdapat prasasti yang ditandatangani oleh kedua pimpinan negara tersebut. Peresmian juga diitandai dengan penanaman dua pohon Sala yang berada di samping kanan masjid atau sebelah utara.
Dari arah kedatangan kami, jalur masuk berada di area
samping. Banyak sekali pengunjung. Melewati pintu masuk dengan metal detector.
Pengunjung dilarng membawa air minum dan makana. Jika ada maka harus dititp
pada loket yang tersedia.
Begitu melewati pintu masuk, pengunjung disambut area taman dan kolam air mancur mini. Berhubung belum masuk waktu shalat, kami memutuskan ke arah depan untuk mengabadikan momen.
Bersyukur kami datang
saat sore hari jadi bisa menyaksikan transisi tampilan masjid dari hari masih
terang menuju gelap.
Di areal depan terdapat kolam air bertingkat 3 yang. Juga
terdapat tiang bendera 2 negara. Nuansa putih dan gold menampilkan kesan mewah.
Semburat sunset dan lampu-lampu yang mulai dinyalakan
menjadi pertanda jika sebentar lagi akan masuk waktu maghrib. Kami masuk
kedalam dan Bersiap untuk ikut shalat berjamaah. Areal wudhu yang luas dan
super bersih. Terseida mukena. Tampilan dalam yang megah. Masya Allah.
Niat hati mau ikut KRL yang jadwalnya 18.30 tapi berhubung
sepertinya sudah akan terlambat jadi kami memutuskan makan dulu dan akan pulang
pada jam 20.00
Tersedia banyak warung makan di seberang jalan masjid. Kami memutuskan memesan soto. Untuk tiga porsi kami hanya perlu merogoh kocek sebebsar Rp 50.000.
Usai makan, kembali ke dalam masjid yang bertepatan dengan waktu shalat Isya. Karena sedang safar dan sudah jamak
shalat saat Maghrib jadi menikmati waktu saja di dalam masjid. Tepatnya di area terbuka yang menghubungkan pintu masuk dan tempat shalat.
comment 0 Comment
more_vert