Karena ini part 2, pasti ada part 1 nya dong. Nah, yang mau baca cerita sebelumnya, bisa ke
ke sini. Langsung klik aja, gak usah malu-malu. 😀😀. Sangat disarankan untuk pembaca yang belum pernah ke Bandung atau lagi di Bandung dan butuh tempat menepi dari hiruk pikuk kota dengan
budget minimalis. Atau yang mau wisata sejarah, ini tempat nya OK punya. Jalan-jalan dapat, segarnya dapat, ilmunya juga dapat. Komplit.

Oh ya, cerita part 1 itu adalah momen pagi di tanggal 28 Agustus 2023. Nah, di part 2 ini, cerita tentang aktifitas dari sore sampai malam. Kalau paginya, minta rekomendasi dari Om Google, untuk tujuan sore ini sudah terjadwal sejak jauh-jauh hari setelah melihat postingan tentang tempat tersebut.
Berhubung ibu dan Mail sudah ada janji untuk bertemu mantan siswa ibu di ITB, jadi saya merencanakan untuk jalan sendiri ke Mercusuar Cafe and Resto. Sebenarnya, sejak pagi saya sudah WA-an sama Kak Mimi untuk ketemu. Sayangnya, dia lagi disminore. Kutawarkan untuk ke tempatnya, tapi dia malah bilang mau samperin ke Mercususar kalau sudah mendingan.
Ok, habis Ashar langsung siap-siap dan OTW. Dari kontrakan ke resto yang berada di kawasan Lembang tersebut, saya hanya mengeluarkan budget Rp.12 ribu. Driver menurunkan saya tepat di depan pintu masuk dan harus berjalan kaki untuk sampai ke bangunan utama. Dari kejauhan tampak lantai atas berbentuk mercusuar ala medieval yang menjadi daya tarik utama kafe ini.
.png)
Ketika sampai di pintu masuk, setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 20
ribu rupiah yang nantinya dapat ditukarkan dengan makanan atau minuman saat
pulang—cukup membayar selisihnya jika harga menu pilihan melebihi nilai voucer
tersebut.
Sembari menunggu kedatangan Kak Mimi, saya langsung naik ke lantai
atas untuk mengeksplorasi setiap sudutnya. Pemandangan kota Bandung dari
ketinggian di sini sungguh luar biasa, apalagi arsitektur bangunannya yang
megah membuat saya merasa sedang berada di dalam kastil Eropa. Saya pun tidak
melewatkan momen tersebut untuk berfoto dan mengambil video dari berbagai sisi.
Menjelang magrib, Kak Mimi akhirnya tiba bersamaan dengan
mulai dinyalakannya lampu-lampu dekorasi. Saya merasa sangat beruntung bisa
menikmati dua suasana restoran sekaligus; tanpa lampu dan saat lampu warna-warni mulai dinyalakan. Terlebih di kejauhan kerlip lampu dari kota Bandung juga mulai tampak.
Menara-menara kastil pun
terlihat amazing dengan gradasi warna-warni lampu yang sangat kece, sehingga
saya langsung mengajak Kak Mimi untuk berfoto bersama. Saat waktu magrib tiba,
kami pun turun satu lantai menuju area salat yang telah disediakan lengkap
dengan mukena serta sajadah.
Setelah menunaikan kewajiban, kami melanjutkan agenda dengan
makan malam di area restoran indoor. Kak Mimi memesan menu ayam sementara saya
memilih steak, dengan total biaya sekitar 125 ribu rupiah yang menurut saya
cukup terjangkau.
Kami memutuskan untuk pulang lebih cepat karena Kak Mimi ingin ikut ke kontrakan untuk
bertemu Ibu. Sebelum pulang, kami menukarkan voucer masuk tadi. Saya memilih puding
cokelat yang tampak menggugah selera. Setelah semua beres, kami langsung memesan
transportasi online untuk balik ke kontrakan.
comment 0 Comment
more_vert