Pagi belum juga sempurna. Terlambat bangun karena memang
lagi berhalangan shalat Subuh. Pas keluar di teras, di tanya sama bapak Acil,
"kenapa merah matamu?". Waduh, ketahuan donk. Padahal harusnya ini
hanya jadi rahsaia natara aku dan kamar mandi. Dan ingin kuberkata, “Pleaseee...jangan
tanya begitu”. Sedikit saja dikulik, bisa langsung jebol lagi tanggul air
matanya. Langsung cari percakapan lain. Berusaha mengalihkan
pembicaraan. Wiiihhh...skill menghindar nya di uji terus hari-hari ini. Pas
makan sih salah satu yang ter-gong. Pas lagi ayun Aira ditanya sama Mama E,
"anakmu itu?". Kujawab, "sa belum nikah." Dibalas lagi,
"oh berarti dilangkahi lagi?". Uhuuyyyy.... tanpa dinyalakan udah
langsung membara dooonggg. Auto gendong Aira baru ke kamar. Kamuflase biar
tidak menangis depan orang banyak. Sore sebelumnya (Jumat sore) Jelang Maghrib baru tau apa yang bikin seharian ini rasanya
serba tidak enak. Berusaha excited tapi vibesnya sedih atau sesuatu yang entah
apa. Sulit didefinisikan. Hari nyaris menjelang sore sampai sya menyadari sudah fix
suci. Mandi wajib lalu shalat ashar sembari menunggu Mail yang pulang dari
Bandung lewat Amulengo dan dijemput Rahim di Labuan. Habis sholat lanjut Al Kahfi, lagi proses, Mail sampai.
Senang? Bangeeeett....But, tetiba kok nyeseeekkk.... Why, tiba-tiba mikir aja,
ini adek-adekku udah mau nikah 3. Sisa Icha dan diriku. Tidak bisa dipungkiri, Icha
-sang PNS Muda, si positive vibes, yang rajin bantu-bantu di keramaian- sudah
banyak diincar oleh orang-orang tua untuk dijadikan. Meanwhile, kakaknya
apa kabar? Bukan tidak menerima atau membenci takdir yang kujalanai
tapi berusaha menerima keadilan terbaik versi Allah gini amat ya rasanya? Ya
Allah, mohon luaskan sabar dan syukurku. Mau keluar gabung kerja untuk persiapan pesta tapi rasanya
takut-takut. Takut saja tiba-tiba ada yang ngeletuk tentang 'dilngkahi'. Takut
nangis lagi karena sejak awal info pernikahan ini, terus bertarung dengan rasa
insecure. Drama nangis diam-diam harus di manage baik-baik biar gak terlalu
kentara. Minggu Malam Puncak dari rasa tidak nyaman itu terjadi saat Kafelesao
-rangkaian acara pernikahan dimana mempelai Perempuan dibawa ke kediaman
laki-laki. Di sini ada acara kecil-kecilan yang diselenggarakan oleh
keluargaku. Dalam skenario yang sudah disiapkan, saya tidak mau jadi
pelayan. Saya sudah bisa membayangkan bahwa beberapa orang akan berkomentar
tentang ‘dilangkahi’. Tapi, sore itu ibu wanti-wanti kami untuk jadi pelayan.
Mau tidak mau, harus mau. Saya pun turun dan berusaha ditegar-tegarkan. Awalnya masih biasa meski saya tidak sanggup bertatapan
langsung dengan orang-orang. Berusaha untuk mode excited. Sampai tiba-tiba ada
yanng nyeletuk, ‘eh, sudah dilangkahi lagi tuh’. Serangan pertama masih bisa
lah ya. Selanjutnya, ada beberapa celetukan bernada sama. Hingga akhirnya, sosok yang saya khawatirkan muncul. Sosok
yang saya antisipasi sejak awal. Saya paham, orangnya suka bercanda. Tapi
membercandai statusku saat ini meski dibalut doa-doa, rasanya tak menentu.
Sampai membandingkan bahwa anak si X udah mau SMP, dia udah mau nambah anak. Tak
mau berlama-lama, saya coba menghindar. Mencoba kembali menata hati, rasanya
tidak kuat. Cepat-cepat naik ke rumah dan bersembunyi di kamar. Berharap
tidak ada yang mencariku. Hingga kemudian Ichy datang dan memberikan pelukan.
Hmmmm, dipeluk saat ruwet-ruwetnya, otomatis bikin banjir. Ya Allah. Mohon kuatkan.
24/365 in 2026 "Insecure"
Add Comments
Jumat, 23 Januari 2015
Posted by .png)

comment 0 Comment
more_vert