Ini lanjutan dari catatan di hari ke 7 tentang kepergian Om Tari. Jadi, di hari ke-8 ini kami pergi melayat. Pagi nya saya bonceng bibi Amel dan Rauf bonceng Ibu yang kemudian mereka singgah duluan di rumah duka. Saya dan Rauf lanjut ngantor dulu.
Siang, saya dan Sri (yang ternyata keluarga dekatnya istri Om Tari) menyusul ke rumah duka. Sampai rumah duka, saya mendengar Ina (ibu dari Om Tari) berkali-kali menangis. Terlebih saat saudaranya dari Tampunabable dan ponakan-ponakannya dari Pure sampai ke rumah duka. Para pelayat pun turut merasakan duka.
Ya, orang tua yang waras, tentu punya rasa sakit tak tertahankan saat kehilangan anaknya. Saya jadi teringat beberapa istilah untuk orang yang ditinggalkan karena ajal.
Anak ditinggal Bapak disebut Yatim
Anak ditinggal Ibu disebut Piatu
Istri ditinggal suami disebut Janda
Suami ditinggal istri disebut Duda
Tapi, orang tua yang kehilangan anaknya, tidak ada istilah yang bisa disandingkan. Itu adalah momen tanpa nama yang hanya bisa dideskripsikan dengan rasa sakit yang teramat dalam.
Posted by %20(3).png)

comment 0 Comment
more_vert