MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

16/365 in 2026 "Rawa"

16/365 in 2026 "Rawa"
Add Comments
Jumat, 16 Januari 2015

Sebenarny judulnya mau A Day in My Life cuma karena kepanjangan jadi pakai Rawa saja. Alhamdulillah hari ini libur cuti bersama peringatan Isra Mi'raj. So, kitorang tidak masuk kantor. 

Nah, momen libur ini kumanfaatkan untuk kembali grounding dan sun bathing di kebun (yang belum pham tentang 2 kegiatan ini, tanya Om Google saja ya). Maka, ketika ibu sarapan selepas Subuh, akupun ikutan dan bilang mau ke kebun juga. Selesai sarapan, ibu yang Masya Allah semangat sekali mau ke kebun, langsung gas OTW bersama Rauf naik motor. 

Diriku bersama Bibi Amel menyusul dengan berjalan kaki. Berhubung di sepanjang jalan menuju kebun tidak ada yang lewat, jadi bebas buka kaos kaki dan jalan dengan kaki telanjang. Masya Allah sekali rasanya ketika kulit bersentuhan langsung dengan tanah dingin dan jejak-jejak embun di rerumputan. Rasanya nyessss.

Sampai di kebun, langsung cari tembilang dan ambil posisi. Mumpung masih pagi jadi kesempatan untuk mandi matahari. Sambil membersihkan rumput diantara jagung dan padi, sekalian bisa bersentuhan langsung dengan unsur-unsur alam. Ini jadi ikhtiar biar Allah berikan nikmat kesehatan. 

Jam 8 lewat, saya, Rauf, dan Bibi Amel memutuskan untuk pulang duluan. Ibu bersama saudaranya masih di kebun. Di perjalanan saya mencetuskan ide untuk mandinya di Rawa saja. Tempat yang sebenarnya sudah lama direncanakan tapi gagal terus. Akhirnya, kali ini tanpa perencanaan dan Alhamdulillah bisa dieksekusi. 

Kami berangkat menggunakan 3 motor- Rauf dan Icha, Saya dan Bibi Amel, serta Ichy sekeluarga-. Pikirku, jalan ke Rawa itu mulus-mulus saja ternyata di beberapa bagian berupa batu-batu yang bikin motor goyang. Walhasil, beberapa kali saya harus benar-benar menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. 

Alhamdulillah setelah  jalan sekitar 10-15 menit melewati kebun-kebun dan hutan, kami sampai juga di sember mata air ini. Jadi, Rawa itu berupa satu kawasan dimana ada kumpulan matai air yang berasal daris ela-sela tanah. Sejak dulu kala, tempat ini telah menjadi sumber mata air utama bagi warga Wakadia dan sekitarnya. 

Dulu, untuk mengambil air, masyarakat harus jalan kaki dan mengisi jergen atau kendi. Sebelum air dialirkan lewat PDAM ke kampung, tempat ini selalu ramai dengan orang-orang yang mencuci pakaian dan mandi. Saya masih sempat mendapatkan momen tersebut saat masih kecil. 

Kini, kawasan Mata Air Rawa sudah dibuat permanen di beberapa sisi. Saat kami datang, ada beberapa orang yang hendak mencuci pakaian. Tanpa berlama-lama, kami menuju ke area untuk mandi. Mersakan sensasi mandi dari sumber mata air langsung. Rasanya, seperti ada manis-manisnya. Ditambah hembusan udara segar dari rimbunnnya pepohonan di sekeliling, nuansanya magis. Masya Allah.

Adzila dan Aira awalnya takut-takut untuk mencoba masuk dalam air, Alhamdulillah akhirnya malah happy. Jujurly, saya dibuat terepsona dengan adanya akar-akar pohon yang menyembul dari balik tembok permanen. Mereka lah penyaring alami yang Allah sediakan agar air yang keluar benar-benar jernih bahkan bisa langsung diminum. 

Setelah puas, berendam dan anggota sudah mulai kedinginan, kami pun pulang ke rumah. Sampai rumah, minum jus Alpukat. Masya Allah. Fabi ayyi alaa irobbikuma tukadziban.