MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

25/365 in 2026 "Mitsaqan Ghaliza"

25/365 in 2026 "Mitsaqan Ghaliza"
Add Comments
Sabtu, 24 Januari 2015

Alhamdulillah hari ini adik ke-3 atau anak ke -4 di Haris Family mengucapkan 1 dari 3 perjanjian dengan koimtmen tingkat tinggi yang termaktub dalam Al-Qur'an. Mitsaqan Ghaliza, perjanjian maha berat yang terjadi hanya dalam 3 momen. 

Pertama kali dengar pembahasan tentang spesialnya dua kata ini, rasanya deg. Soalnya 2 lainnya itu peristiwa Maha Dahsyat. Satu tentang perjanjian Allah dengan rasul Ulul Azmi, satu lagi perjanjian antara Allah dan Bani Israil si pembangkang. 

Uniknya nih menurutku, dua perjanjian tersebut proses dan efeknya sangat bertolak belakang. Terkait perjanjian Allah dan Rasul-Nya sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Ahzab ayat 7, para rasul menjalankan perjanjian ini dengan penuh ketaatan dan bimbingan dari Allah. 

Sedangkan, Bani Israil, yaaa...tau sendirilah gimana sifat mereka. Pembangkang tingkat dewa. Inilah yang jadi asbabun nuzul atau sebab turunnya QS. An-Nisa ayat 154. Jadi, waktu itu mereka minta hal-hal aneh ke Nabi Muhammad. Langsung di ulti oleh Allah melalui ayat tersebut. 

Mereka diingatkan bahwa nenek moyang kalian tuh, udah dikasi begituan tapi tetap saja membangkang. Allah turunkan Kitab Taurat secara langsung kepada Nabi Musa selama 40 hari berturut-turut. Tapi, pas udah selesai, eh, mereka menolak dong untuk taat. 

Walhasil, Allah mengangkat Bukit Thur atau Gunung Sinai diatas kepala orang-orang ini. Kalau mereka gak mau taat, nih gunung bakal ditimpukin ke kepala mereka. Apakah berhasil bikin mereka taat? Iya, sebentar. But, udah tau dong endingnya kek mana kalau berurusan sama mereka. Lihat aja kelakuan monyet-monyet Isra hell hari ini. 

Nah, terkait Mitsaqan Ghaliza ke-3 itu adalah ijab qabul dalam prosesi nikah. Ini tuh menurutku yaaa... berada di tengah-tengah. Dalam pernikahan itu, kamu bisa milih untuk taat dan menjalankannya berdasar tuntunan Allah atau malah jadi pembangkang dan menjalankannya sesuka hati. 

Semoga Allah senantiasa tuntun kita hingga bisa menjalankannya dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah. 

Back to nikahan adikku.

Momen ini bikin perasaanku campur aduk kek nano-nano yang rame rasanya. Ada harunya, ada bahagianya, ada iri nya. Tapi, life must go on. 

Pagi-pagi sudah riweh dengan segala prosesi mau mengantar ke Mata Indaha. Riweh dalam kondisi oleng karena malam sebelumnya  saya terlambat tidur. Kami pulang dari rumah calonnya Rauf pukul 9 malam. Lanjut bantu-bantu urus seserahan dengans egala drama perbedaan pendapatnya. Ada yang bilang mau bungkus pakai pita, ada yang bilang biarkan saja terpampang nyata. Saat masih ada orang lain, kelaurga inti terima-terima saja. Nantilah setelah mereka pulang, kami gercep cari solusi untuk dihias. Masya Allah, 

Drama lainnya soal kue yang akan dikonsumsi oleh para pengantar. Ada yang bilang harus dipotong dan dibungkus malam ini, ada pulang yang bilang besok saja. Hasilnya, tunggu besok baru dibungkus karena satu dan lain hal. 

Jadilah, subuh-subuh itu yang diurus pertama adalah cek kue sembari menunggu waktu Shalat Subuh. Habis shalat, lanjut masukin kue-kue ke kotaknya. Beres semua, lanjut sarapan dan prepare dandan. Mengenakan seragam couple berwarna yellow butter. Manis kaliii.

Sekitar jam 9 pagi, rombongan berangkat untuk mengantar mempelai laki-laki a.k.a my Bro Rauf. Jujur, kami tidak berekspektasi kalau pengantar akan sebanyak itu. 22 mobil dan puluhan motor. Sungguh diluar dugaan dan sangat bersyukur akan hal tersebut. 

Ketika sampai, sudah ada yang mengatur bahwa tidak ada silat dan pemukulan gong atau Mbololo. Berhubung tepat disamping rumah, ada kedukaan. Lanjut, masuk ke dalam tenda dan menunggu prosesi-prosesi adat hingga Ijab Qabul. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Usai makan-makan, sebagian besar pengantar OTW pulang. Sedangkan kami tim inti menunggu hingga acara siang-sore.

Kami menunggu di rumah kerabat Mika yang terletak 2 rumah dari lokasi pesta. Alhamdulillah rumahnya berdinding papan sehingga ditengah panasnya dunia, angin sepoi-sepoi masuk melalui celah dinding. Lumayan bisa tidur-tiduran sembari menunggu waktu kembali ke pesta. 

Usai shalat Ashar, Mail menelpon dan memanggil kami ke lokasi untuk foto-foto keluarga. Beres foto-foto, makan lalu bersiap pulang. 

Di rumah Pure, keluarga sudah melakukan serangkaian persiapan untuk acara Kafelesao. Prosesi lanjutan setelah pesta di kediaman mempelai wanita selesai. Kedua mempelai dijemput oleh orang tua adat dan diantarkan ke rumah keluarga mempelai laki-laki. Di sini ada serangkaian prosesi adat yang dilakukan sebagai bentuk penyambutan bagi mempelai wanita. Alhamdulilah seluruh acara berjalan lancar.