PS: Judul di atas adalah doa, jadi tolong di aamin kan yaaa. Doa-doa baik, insya Allah kembali ke yang mendoakan. 💕
Hari terakhir di Padang diawali dengan sarapan di Sate Manang Kabau sebelum menuju kampus kebanggaan warga Sumatera Barat -Universitas Andalas-. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota tapi harus diupayakan karena entah kapan lagi bisa kembali ke Ranah Minang ini. Berdasarkan pantauan google maps, jarak dari lokasi asal kami sekitar 11 km. Gassss.Saat perjalanan ke sana, kami kembali melewati Masjid Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Berbeda dari arah masuk hari sebelumnya, ternyata masjid ini punya satu sisi yang memungkinkan pengunjung bisa berfoto dengan background masjid megah tanpa terhalang oleh pepohonan. Di sisi ini pula terdapat nama masjid. Penemuan yang membuatku minta berhenti sejenak untuk foto dan ambil video dari beberapa angle.
Setelah dapat dokumentasi, lanjut jalan mengikuti arahan dari Google Maps. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit. Kampus ini sangat luas. Jika lurus terus dari gerbang utama, pengunjung akan mendapati gedung rektorat yang mirip istana IKN. 😀😀
Tanpa membuang kesempatan, saya menuju ke lokasi strategis untuk cekrek. Gedung rektorat yang berada di ketinggian, menyajikan panorama kota hingga laut nun jauh di sana. Tak puas hanya sampai di luar, saya masuk ke dalam dan meminta untuk foto di nama Universitas Andalas.
Berbekal keterangan 'saya dari Sulawesi', satpamnya menyambut baik dan segera menghidupkan lampu pada bagian nama kampus agar lebih ketjeh saat difoto. Terima kasih Mbak Satpam 🙏
Saya masih ingin ke Masjid Batu di Fakultas Pertanian, tapi sayangnya waktu semakin merangkak. Kami masih harus mengembalikan motor dan prepare sebelum menuju bandara. Dengan sebuah harapan from Andalas to Andalus, saya mengucapkan Sayonara pada kampus yang pernah menjadi target lanjut studi ku ini.
Kami pun pulang melewati rute yang sama. Jika saja tidak terburu-buru, saya ingin singgah sebentar di salah satu jembatan yang di bawahnya mengalir sungai jernih dengan batuan beragam ukuran yang indah. Ah, alam Sumatera Barat memang seindah itu.
Sebelum pulang ke tempat nginap, kami mencari Pom Bensin untuk mengganti bensin motor rental. FYI, dua hari perjalanan di dalam Kota Padang, hanya menghabiskan 2 bar. Sungguh sangat efektif dan efisien bukan? Lanjut cari oleh-oleh khas Padang untuk family di Jakarta.
Pukul 14.00 WIB lebih sedikit kami meninggalkan kontrakan menuju Bandar Udara Internasional Minangkabau yang berada di Pariaman. Terlalu cepat tapi no problem. Kata Mail sebaiknya ke Bandara empat jam sebelum keberangkatan. Berjaga-jaga jangan sampai ada halangan di perjalanan.
Bandara Minangkabau sore ini cukup sibuk. Lalu lalang penumpang jadi tontonan untuk mengisi waktu. Dari papan pengumuman, penerbangan ini melayani rute dari Padang ke Batam, Jakarta, dan wilayah lainnya.
Memasuki waktu shalat Ashar, saya menuju mushola yang terletak di lantai 2. Musholanya agak terpencil jadi harus pandai-pandai bertanya pada petugas. Untuk keperluan wudhu, tersedia kamar mandi bersih yang terpisah antara area laki-laki dan perempuan.
Usai shalat, saya tidak langsung kembali ke ruang tunggu. Saya melipir ke salah satu area dimana terdapat nama bandara ini. Untuk apa? Ya, apalagi kalau bukan dokumentasi. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Susah-susah cari sandaran HP, eh ada pengunjung yang lewat area tersebut. Langsung deh minta tolong untuk dicekrek.
Beres urusan per-cekrek-an, balik ke ruang tunggu. Sesuai jadwal, pesawat kami mengudara menuju Jakarta pada pukul 18.30 WIB. Pesawat full dan sepanjang perjalanan diwarnai turbulensi berkali-kali.
Posted by .png)



comment 0 Comment
more_vert