Cerita ini masih bagian dari Cerita Cuti Part #3. Tepatnya, setelah dari Ranah Minang, mampir Jakarta dulu 2 hari.
Tujuan utama saya di Jakarta adalah untuk menghadiri Pameran "NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. Acara ini digelar sejak 22 Juli-15 Oktober 2025). Alhamdulillah, tanggal 29 Juli 2025, saya bisa menyaksikan secara langsung perhetalatn akbar yang digelar sebagai peringatan 200 Tahun Perang Jawa ini.
Cerita lebih detail tentang pameran tersebut, Insya Allah akan ditulis terpisah. Di cerita kali ini, saya hanya akan menulis bagaimana proses pergi dan pulang dari pameran tersebut. Cerita hari pertama dengan berbagai pelajaran hidup dari jalan. Enjoy reading.
Berhubung ini pertama kalinya mau ke Perpusnas, jadi sebelum berangkat cek dan ricek dulu alternatif angkutan ke sana. Cek lewat apliaksi online, ternyata sangat mahal dari tempat saya menginap di Tangerang. Dari Google, dapat opsi lain yang lebih murah yakni naik KRL.
Tiketnya bisa dibeli via gojek dengan tarif Rp.3 ribu sekali jalan. Karena tempat saya dekat Stasiun Sudimara, maka saya membeli tiket untuk rute Sudimara - Tanah Abang. Singkat cerita, sampailah saya di Stasiun Sudimara.
Tepat ketika kaki saya melangkah masuk area statsiun, kereta yang akan saya gunakan mendekat. Nahasnya, saya tidak berada di peron tempat pintu penumpang naik akan terbuka. Saat saya akan menuju ke peron seberang, gerbang sudah ditutup.
Akhirnya, saya diarahkan oleh Satpam untuk lewat jalur bawah tanah. Lewat bukan sekedar lewat tapi harus berlari secepat mungkin dan melompati 2 anak tangga sebab KRL hanya berhenti sebentar. Wow, pagi-pagi sudah harus cosplay jadi warga ibu kota asli. 😀😀
Alhamdulillah masih dapat. Suasana dalam kereta tidak terlalu ramai. Wajar sih karena saya berangkat bukan di jam-jam padat jadi bisa duduk dengan nyaman di kursi kosong. Setelah melewati beberapa stasiun, sampailah di Tanah Abang.
Di sini mulailah nampak pola hidup orang Jakarta cepat, riuh, dan padat. Orang-orang berdatangan dari segala arah. Bergerak cepat ke arah selanjutnya. Bagi yang masih akan lanjut dengan KRL, harus berkejaran dengan waktu. Gambar dibawah ini adalah kondisi bukan di jam padat.
Saya berjalan lambat, mencoba mengamati kehidupan yang sebelumnya hanya bisa disaksikan lewat layar. Setelah naik turun eskalator, saya sampai di pintu keluar yang mengharuskan untuk kembali men-tap tiket sebelumnya.
Keluar stasiun, dari jauh sudah tampak perkumpulan gojek, grab, dan bajaj. Di bawah terik, debu serta polusi, mereka menunggu jatah rezekinya masing-masing. Lagi-lagi dibuat tertegun tentang betapa enaknya orang-orang yang digaji oleh negara. Duduk di ruang teduh. Menghadap layar-layar teknologi. Tapi, indeks kinerja hingga saat ini masih jauh dari kata maksimal.
Teringat apa yang pernah dilontarkan oleh seseorang, "Suka sedih kalau lihat para pejuang nafkah yang kerja habis-habisan terus uangnya dipake bayar pajak untuk menggaji para pegawai yang malas-malasan". Rangkaian kalimat yang menyentil diri sekaligus buatku untuk lebih amanah lagi.
Jakarta mempertontonkan kehidupan yang tidak senikmat tayangan di layar kaca. Aslinya, Jakarta adalah fragmen keras nya kehidupan. Di jalan-jalan, di pinggiran rel, kita dengan mudah menemukan ibu/bapak, kakek/nenek, anak-anak yang semuanya dipaksa oleh keadaan untuk terus bergerak demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Waktu sehari berlalu dengan cepat. Jelang Maghrib, saya memutuskan pulang ke wilayah Tangerang Selatan. Momen pulang yang sekaligus jadi ajang uji nyali berbaur di keriuhan pulang kerja warga Ibukota.
Sembari menimbang-nimbang akan naik apa dari Perpusnas ke Tanah Abang, saya melipir ke pusat kuliner sekitar Monas yang tepat berada di seberang jalan. Mencoba beberapa panganan dari stand-stand dan pedagang yang mangkal di area tersebut.
Dari google saya menemukan ide untuk naik Transjakarta dengan terlebih dahulu menginstall aplikasi TJ. Aplikasi ini terhubung dengan gopay sehingga bisa digunakan dengan mudah. Setalah men-tap tiket, saya mulai bergabung dalam antrian yang mengular. Menunggu sekitar 15 menit, TJ rute Stasiun Balaikota-Stasiun Thamrin merapat.
Dan, lagi-lagi ku tertegun. Pemandangan yang biasa disaksikan di layar gadget, kini ada di depan mata. Kondisi bus penuh sesak. Satu orang yang turun dari bis, 10 lainnya bergegas naik. Lowongan untuk 1 orang yang tepat berada di depan pintu pun sangatlah berarti. Sepaket dengan resiko terjepit pintu.
Bus berjalan dalam kondisi tanpa celah. Ibarat kata, bahkan angin pun harus berusaha mencari lowongan. Bus bergerak dari stasiun ke stasiun dengan situasi sama. Alhamdulillah, akhirnya sampai dengan selamat di Staisun Thamrin.
Saya tetap berada dalam stasiun demi menunggu bus 9A atau 9B yang menuju Tanah Abang. Dengan waktu tunggu yang lebih lama, kupikir kondisinya lebih lowong. Nyatanya sama saja. Kembali terhimpit diantara wajah-wajah pejuang nafkah yang nyaris tanpa senyum.
Sampai di Tanah Abang, semua orang bergegas mengejar angkutan berikutnya yakni KRL. Manusia bermunculan dari berbagai arah menuju dua buah eskalator yang tak pernah sepi. Kondisi dalam stasiun tidak kalah padat dan cepat. Dua buah eskalator seolah ngos-ngosan membawa manusia. Saya menuju Peron 2, tempat KRL yang hendak melaju dari Tanah Abang menuju 18 titik lainnya hingga Rangkasbitung.
Suasana yang sama dengan TJ tampak dari setiap KRL yang berlalu. Hingga tiba waktunya naik, saya mendapati satu slot tersisa yang bisa diisi. Hingga tulisan ini dibuat saya seakan masih bisa merasakan sensasinya yang nano-nano.
100 jempol bagi para pejuang jarak. Semoga Allah senantiasa lindungi. Saya yang hanya turun di stasiun ke 5 saja sudah sedemikian lelah. Sampai rumah sekitar jam 9 malam. Tertidur hingga pagi masih terasa pegal-pegal di badan. Bagaimana dengan mereka yang mungkin rumahnya di rute paling ujung yang keesokan harinya harus kembali berjibaku melipat jarak? Masya Allah. Luar biasa perjuangan.
Dari Jakarta, saya menyaksikan fragmen hidup yang lagi-lagi membuat saya untuk banyak bersyukur. Ada banyak orang yang lebih susah, tapi seringkali keluhannya tak seberisik kita.
Posted by 


comment 0 Comment
more_vert