Alhamdulillah, start dari Makassar sekitar pukul 20.00 WITA. Perkiraan waktu berlayar dari Makassar ke Surabaya adalah 26-30 jam. Perjalanan menuju Surabaya lebih enjoy. Goyangan kapal semakin stabil bahkan sebagian besar tidak terasa. Bisa menikmati duduk di kafe kapal, buat konten ala-ala, dan menyusun ittinerary.
Alhamdulillah Tanggal 21 Juli 2025 sekitar pukul 22.00 WIB merapat dengan anggun dan tepat waktu di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Sangat-sangat bersyukur karena 26 jam adalah waktu minimal. Seringnya lebih lama dari perkiraan. Biar tidak desak-desakan kami memilih untuk mengulur waktu turun dari kapal.
Di Surabaya akses turunnya bisa melalui garbarata yang langsung terhubung ke ruang tunggu tepatnya di lantai 2. Di sini terjadi insiden lucu bercampur khawatir. Jadi, dari lantai dua ini harus turun ke lantai satu untuk menuju pintu keluar.
Pilihan turunnnya bisa lewat tangga manual atau eskalator. Masalahnya, ibu dan bibi-bibi ragu cenderung takut menggunakan tangga bergerak ini. Meanwhile, mereka bawa koper dan tas yang cukup berat. So, dibuatlah skenario, saya dan Rauf turun lebih dulu dan akan kembali ke atas untuk menjemput para ABG old. 😍
Sudah memacu langkah cepat, pas sampai atas, tengok kiri kanan, tidak ada ibu dan Bibi Kahar. Bibi Anti memilih untuk turun tangga manual. Tanya ke Pak Satpam, ternyata mereka naik lift. Shock dong, secara mereka belum terbiasa naik lift. Jadilah kami bergegas turun kembali dengan gerak cepat sembari harap-harap cemas jangan sampai mereka kebingungan dalam lift.
Fyuuuhhh... Alhamdulillah ibu dan bibi Kahar sudah keluar lift tapi dengan wajah yang masih menyisakan cemas. Mereka juga sempat panik saat berada di dalam berhubung beliau berdua tidak paham dunia kotak bergerak ini. Kami yang mendengar auto ngakak. 😂😂
Beres masalah lift, saya dan Rauf langusng memesan angkutan online dengan rute Pelabuhan ke Stasiun Gubeng. Rombongan dibagi 2 mobil : Rauf, Bibi Kahar, dan Bibi Anti sedangkan saya bersama Ibu dan Tina.
Ternyata, memesan angkutan online di kawasan pelabuhan adalah hal terlarang. Seringkali para driver dicegat dan diperkarakan oleh taksi-taksi pelabuhan. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, kami diminta jalan terus sampai di depan Kantor Polres Tanjung Perak.
Sebelum akhirnya bertemu mobil yang akan kami tumpangi, didahului drama saling mencari, saling salah paham, saling bingung. Yaaaa biasalah per-online-an. Alhamduillah tidak berselang lama, kami berjumpa sopir yang akan membawa ke tempat tujuan.
Bismillah, mulai jalan. Awal-awal masih aman. Sopirnya tanya darimana, gantian tanya balik. Melewati Kantor Gubernur Jawa Timur sampai di lampu merah, belok kanan. Apa yang terjadi? kami kembali ke lampu merah tadi dan terus melewati Kantor Gubernur untuk kedua kalinya. Mulai gak enak feeling. Sepertinya Pak Sopir juga tidak paham arahnya.
Seperti yang bisa ditebak, dapat lagi lampu merah sebelumnya dan sopirnya belok kanan lagi. Berhubung kembali bertemu Kantor Gubernur part 3, kami memutuskan untuk bernegosiasi agar ambil arah lain. Ternyata eh ternyata, seharusnya dari arah Kantor Gubernur kami ikut jalan lurus bukan belok ke lampu merah.
Setelah beberapa lama di jalan dan mendapati rel kereta, sampailah di stasiun Gubeng. Berhenti depan Indomaret, di seberang jalan ada IGD RSDKT Gubeng Pojok. Saya mengajak Ibu dan Tina untuk duduk sejenak sembari mencoba menetralisir keadaan setelah drama nyasar tengah malam. Tidak lupa, cekrek dulu.
Lanjut menghubungi Rauf untuk menanyakan keberadaannya sekaligus memberitahu posisi kami. Eh, Rauf malah tanya. Indomaret mana? RS Mana? Tidak enak feeling part II. Biar tidak makin bingung, saya bertanya pada petugas yang tengah berjaga.
Apa hasilnya kawan-kawan? Ternyata kami berhenti di Stasiun Gubeng Lama. Sedangkan tujuan kami adalah Stasiun Gubeng Baru yang berada sekitar 2 km dari stasiun ini. Widiiiihhhh... sudahlah nyasar, salah alamat pula. 😂
But, ingat kata kuncinya, mari kita usahakan bahagia itu.😅
Show must go on. Pesan Maxim lagi menuju Stasiun Gubeng Baru. Dikasi pilihan oleh driver masuk sampai lobby tambah 5 ribu atau turun di luar. Berhubung sudah lelah, pilihan jatuh pada opsi pertama. Untuk lebih meyakinkan, saya minta Rauf jemput kedepan. Alhamdulillah cocok.
Catatan penting perbedaan Gubeng Lama dan Baru adalah letak stasiun. Gubeng Lama, bangunan stasiunnya langsung depan jalan yang bersebelahan dengan Indomaret. Bangunannya juga masih sisa peninggalan Belanda. Sedangkan, Gubeng Baru bangunannya lebih moderen. Ada lahan parkir yang luas sebelum masuk ke bangunan stasiun.
Berhubung kereta yang akan membawa kami ke Jogja akan berangkat pukul 5 pagi, so diputuskan untuk menunggu a.k.a tidur di mushola. Mohon untuk tidak diikuti ya karena sebenarnya dilarang. Cuma karena butuh istrahat setelah perjalanan panjang jadi yaaa terpaksa. 🙏
Alhamdulillah bisa tidur walaupun kedinginan. Salah satu sensasi dalam perjalanan seperti ini adalah tidur-tidur ayam beralas kain tipis sambil tetap mengawasi barang-barang. Hmmmmm.... amazing. Oleng dikit nggak ngaruh😄. Semakin menuju pagi semakin banyak yang ke mushola. Masya Allah sekali para pejuang jarak.
Setelah shalat Subuh, kami bergegas menuju kereta yang sudah stand by menunggu penumpang. Alhamdulillah dengan formasi komplit dan sehat, tim bergerak menuju Jogja pada pukul 05.00 WIB. Menggunakan kereta 90⁰ yang Alhamdulillah lebih lowong sehingga bisa berbagi kursi untuk tidur-tiduran.
comment 0 Comment
more_vert