MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

Nyasar di Teluk Bayur, Ekspektasi VS Realita

Nyasar di Teluk Bayur, Ekspektasi VS Realita
Add Comments
Minggu, 27 Juli 2025

Tanggal 27/07/2025. Hari ini Mail meninggalkan Ranah Minang. Pulang duluan ke Bandung. Sedangkan saya dan Tina memutuskan untuk extend 1 hari lagi. Tepatnya hampir dua hari sih sebab saya baru akan mengudara dari Tanah Minangkabau pukul 18.30 WIB keesokan harinya. Sisa waktu yang mepet ini tidak boleh lewat percuma. Harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Masih ada beberapa agenda yang ingin kulakukan di tanah Andalas ini seperti menikmati rendang yang mendunia, mencicipi sate Padang dengan sausnya yang khas, menuntaskan rasa penasaran pada Teluk Bayur yang abadi dalam lagu, menjumpai si anak durhaka yang dikutuk di Pantai Air Manis, juga mengunjungi kampus yang pernah jadi impian untuk lanjut studi yakni Universitas Andalas. 

Dengan banyaknya rencana yang berrseliweran di otak, saya mengkalkulasi beberapa opsi alat angkutan. Setelah dihitung-hitung, menggunakan jasa rental motor jadi pilihan untuk menghemat pengeluaran. Terelbih saya akan jalan bersama Tina yang bisa dianddalkan sebagai driver sedang diriku bertugas membaca maps. 

Berbeda dengan rental mobil, rental motor memiliki jangka waktu 24 jam. Kami mendapatkan kendaraan dengan budget 100 ribu rupiah untuk motor tipe Vario berwarna merah dari Auto Rental Motor Padang. Sekitar pukul 14.00 WIB, kami OTW ke tempat rental yang terletak di Jalan Kopi Sidakiang, BTN Vila Mas. Pelayanannya ramah dan sangat memperhatikan kenyamanan customer

Motor yang kami sewa dilengkapi 2 buah helm, 2 pasang jas hujan, STNK, serta gembok roda. Syarat rental juga cukup mudah yakni 2 buah identitas asli (bukan foto copyan). Peminjam wajib menyerahkan KTP dan uang jaminan sebesar 100 ribu rupiah yang akan diambil saat motor dikembalikan. 

Kami memulai perjalanan dengan maps menuju Teluk Bayur. Yups, saya cukup penasaran dengan tempat yang diabadikan dalam tembang lawas berjudul 'Teluk Bayur' yang dinyanyikan oleh Ernie Djohan. Salah satu lagu legendaris yang pada masanya menjadi tembang hits hingga SIngapura dan Malaysia.  

Dalam bayanganku, Teluk Bayur berupa teluk dengan kapal-kapal yang berlabuh dan melepas sauh silih berganti. Ekspektasinya, saya akan mencari posisi nyaman dan duduk di salah satu sudut sembari menikmati pemandangan dan mendengarkan tembang tentang teluk ini.

Nyatanya, perjalanan ke tempat ini membuat kami olahraga jantung. Bagaimana tidak, di jalan menuju Teluk Bayur, kami sering berpapasan ataupun diikuti oleh truk-truk super besar. Sebagai pengemudi amatiran di Kota Padang, rasanya horor sekaliiiii. Saking ngeri nya, saya sempat salah membaca maps dan nyasar di Kampung Bugis. 

Setelah drama olahraga jantung berbuntut nyasar, kami sampai disebuah kawasan dengan nama Port of Teluk Bayur. Ternyata oh ternyata, kini teluk Bayur adalah nama pelabuhan yang dikelilingi oleh beberapa pabrik besar seperti Semen Padang, Wismar, dan Pupuk Padang. Pantas saja perjalanan kami diiringi oleh truk-turk segede gaban, ternyata itu adalah kendaraan operasional pabrik-pabrik tersebut.

Memasuki area pelabuhan dan kawasan pabrik, maps menyatakan bahwa kami telah sampai. Otakku auto riweh bertanya-tanya, "Lah, dimana saya bisa menikmati pemandangan teluknya?". Saya pun mengajak Tina untuk terus lanjut. Alih-alih ketemu pemandangan, kami malah masuk ke area perumahan pelabuhan. Sempat bertanya ke penduduk setempat, saya diarahkan untuk masuk lewat gerbang.

Dengan semangat 45, kami memarkir motor dan jalan kaki menuju pos masuk pelabuhan. Kupikir, cukup membayar beberapa rupiah, kami bisa masuk ke area utama pelabuhan. Tapi, tidak semudah itu ferguso. Pak Satpam menanyai kami ada keperluan apa. Kujawab saja bahwa sekedar ingin menikmati pemandangan. 

Dengan mimik agak bingung karena mungkin rada aneh dengan tujuanku, Pak Satpam menjelaskan bahwa area pelabuhan hanya digunakan untuk lalu lintas barang. Orang yang masuk kesana harus ada keperluan atau membawa barang yang akan diangkut oleh kapal. Selain itu, tidak boleh masuk. Yaaaa... gagal deh menikmati Telur Bayur.

Sebagai gantinya, Pak Satpam mengarahkan kami menuju Pantai Air Manis. Arahannya adalah jalan terus sampai dapat tanjakan ke arah Pangkalan Angkatan Laut (Lantamal II). Nanti, setelah di atas belok kanan mengikuti jalan raya. Dengan sedikit kecewa, kami balik kanan ke parkiran dan lanjut jalan sesuai arahan. 

Di tanjakan menuju Lantamal II, saya dibuat terpesona pada pemandangan Teluk Bayur dari atas. Pemandangan yang sedikit mengobati rasa kecewa. Setelah gerbang Lantamal, kami belok kanan dan melewati jalan yang menjadi perwujudan lagu 'mendaki gunung, lewati lembah'. Hmmm...rada deg-deg an euy... penurunan dan tanjakan tajam menjadi medan yang harus dilewati untuk bertemu si anak durhaka Malin Kundang.

Setelah mengikuti arahan maps, Alhamdulillah sampai juga. Pantai Air Manis lagi-lagi berhadapan langsung dengan Samudera Hindia sehingga ombaknya cukup tinggi dan cantik. Di depannya ada sebuah pulau bernama Pulau Pisang.