Perjalanan ke Perpustakaan Nasional adalah lanjutan dari nge bolang di Masjid Istiqlal. Dari Istiqlal, saya naik ojol dengan waktu tempuh hanya sekitar 5 menit. Cuma memutari setengah Monas aja. Oh ya, kalau mau ke sini naik Transjakarta, aksesnya juga cukup mudah karena tepat di seberang jalan terdapat Halte Balaikota. Hanya saja, naik transportasi umum berarti harus siap dengan segala dramanya.
FYI, kawasan ini adalah area jelajah utama kalau ke Jakarta karena semua spot favoritku berada di sekitar sini. Yups, 4 tempat utama yang jadi incaranku kalau ke suatu tempat adalah Masjid, Perpustakaan, Museum, dan area wisata.
Jujurly, diriku sangat excited untuk mengunjungi perpustakaan yang dinobatkan sebagai bangunan perpustakaan tertinggi di dunia ini. Terlebih keberadaanku di Jakarta bertepatan dengan Rangkaian Peringatan 200 Tahun Perang Jawa yang pelaksanaannya dipusatkan di Perpusnas. Masya Allah, rezeki luar biasa.
Meskipun ketinggalan acara utama yang digelar pada tanggal 20-25 Juli 2025, tapi bisa mengikuti pamerannya pun sudah sangat bersyukur. Selain pameran, rangkaian kegiatannya berupa Malam Puncak, Pertunjukan Teater, Pemutaran dan Diskusi Film, Lokakarya, Bedah Buku, serta Gelar Wicara.
Tanpa menunggu lama, setelah beres transaksi dengan Kang Ojol, lanjut masuk ke kompleks Perpusnas RI. Dari arah depan, bangunan utama belum tampak sebab gedung setinggi 24 lantai itu terletak di halaman belakang. Di area depan terdapat bangunan cagar budaya Graha Literasi yang berdampingan dengan Galeri Kepresidenan.
Tujuan utamaku adalah Graha Literasi sebab berdasarkan info dari akun instagram Perpusnas, di gedung ini tengah berlangsung pameran 200 Tahun Perang Jawa. Saat masuk, pengunjung diminta untuk registrasi. Berhubung diriku belum paham, jadi dipandu oleh petugas.
Usai registrasi, pengunjung diminta memilih merchandise yang tersedia. Dengan kesadaran penuh, diriku memilih Hikayat Tanbihul Insan yang telah dialih bahasakan. Cek dan ricek, hikayat ini berasal dari Aceh. Masya Allah, apakah ini ciri-ciri Allah akan perjalankan ke Aceh? Biidznillah.
Dari meja registrasi, diriku bergeser ke ruang pameran. Babad Dipanagara menjadi benda pertama yang menyambut sekaligus menjadi sentral dari pameran ini. Babad Dipanagara berupa naskah super tebal yang ditulis dalam aksara Arab Pegon. Naskah ini ditengarai merupakan tulisan asli Pangeran Diponegoro yang berisi kisah-kisah heroik dalam perjuangan rakyat Jawa melawan penjajah Belanda.
Masya Allah, selalu terpukau dengan karya tulis ahli ilmu dimasa lampau. Dengan segala keterbatasan alat tulis, mereka bisa menuliskan sejarahnya hingga menjadi warisan bernilai tinggi pada masa sekarang.
Sebagaimana catatan yang tertera pada kertas keterangan, Babad Dipanegara memuat cerita sejak dari pengepungan Keraton Yogyakarta, pertempuran di Bagelan, hingga pengasingan ke Manado. Catatan ditutup dengan kisah tentang kelahiran putra Diponegoro.
Setelah itu, saya menyusuri ruang demi ruang pameran. Dimulai dari ruangan yang menceritakan masa kecil Sang Pangeran bernama Mustahar. Lahir di Bulan Ramadhan, masa kecil Sang Pangeran banyak dihabiskan di Tegalrejo. Beliau diasuh oleh sang nenek Ratu Ageng yang merupakan istri dari Hamengku Buwono I (Sultan Mangkubumi).
Tanah Tegalrejo menjadi saksi kehidupan Pangeran Diponegoro di masa kecil dan masa remaja. Sang Buyut yang dikenal taat beragama memberi warna dalam perkembangan sang pangeran. Kehidupan desa yang guyub menjadikan sang pangeran membaur dan tanggap dengan kondisi masyarakat umum.
Puas menikmati ruang pameran, saya pun bergeser ke bangunan utama Perpustakaan Nasional. Masya Allah. Finally, bisa berjumpa bangunan setinggi 24 lantai ini. Saya memilih untuk naik ke lantai 22. Memilih buku tentang traveling.
Masuk waktu ashar, geser ke musholla di lantai 12. Sekalian cek benar atau tidaknya Kata orang-orang bahwa di lantai ini pengunjung bisa dapat buku gratis. Tapi sampai meninggalkan lantai ini, saya tidak mendapatkan indikasi gratisan tersebut šš. Yang ada hanya mesin untuk mengembalikan buku ke lantai masing-masing.
Keluar dari sini, saya memutuskan naik ke lantai 24. Tempat untuk melihat pemandangan kota Jakarta. Kota dimana langit biru menjadi anomali. Di lantai 24 terdapat ruang terbuka, tempat dimana kita bisa menyaksikan Jakarta dari ketinggian. Lebih tepatnya menyaksikan bangunan-bangunan menjulang yang saling adu tinggi berpadu dengan langit abu-abu yang seperti kabut padahal polusi.
Di sini saya sampai membuat postingan dengan backsound lagi qasidah Tahun 2000. Sungguh, saya sangat tidak cocok hidup di Jakarta. Bernapas di ruang terbuka rasanya mampet. Belum lagi cepatnya yang bikin ngos-ngosan.
Posted by 



comment 0 Comment
more_vert