MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

Lubang Japang, Anomali Keindahan Ngarai Sianok

Lubang Japang, Anomali Keindahan Ngarai Sianok
Add Comments
Sabtu, 26 Juli 2025

Setelah puas menikmati panorama Ngarai Sianok dari ketinggian, kami mengikuti jalan menurun menuju Lubang Japang. Sesuai namanya, labirin bawah tanah ini adalah saksi penjajahan Negeri Sakura di Tanah Nusantara.

Kedatangan kami disambut oleh beberapa guide yang berdiri di jalur masuk Lubang Japang. Satu diantaranya mendekat lalu menjelaskan sekilas tentang struktur ruangan gua. Entah hanya trik marketing atau memang demikian adanya, guide tersebut mengingatkan kepada kami resiko nyasar jika berjalan sendiri.

Warning tersebut membuat Saya, Mail, dan Tina melakukan diskusi singkat apakah akan menggunakan jasa pemandu atau tidak. Hasilnya, kami sepakat untuk dipandu mengelilingi labirin bawah tanah sepanjang hampir 1,5 kilometer tersebut. Untuk satu tim, pemandu mematok tarif Rp.100.000. Barteran yang sepadan biar tidak nyasar dan kehilangan kesempatan menambah pengetahuan baru.

Meskipun di zaman banjir informasi seperti saat ini kisah tentang Lubang Japang bisa dengan mudah di akses di laman internet. Namun, mendengar ceritanya dituturkan live dari lokasi memberikan sensasi emosional tersendiri.

Usai bersepakat dengan pemandu, kami mulai berjalan melalui tangga menurun yang cukup curam. Informasi awal yang kami dapatkan bahwasanya lubang masuk gua ini dulunya hanya selebar 20 cm atau setara diameter ban mobil. Namun, kini diperlebar untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Dari atas hingga lantai gua, kami menuruni sekitar 132 anak tangga. Konon, hitungan jumlah anak tangga ini akan berbeda pada tiap orang. 

Secara umum, gua ini terbagi atas 21 lorong dengan fungsinya masing-masing. Ada lorong yang berfungsi sebagai gudang amunisi, kamar petugas dan tahanan, gudang logistik, hingga dapur yang bermakna ganda. 

Setelah sampai di anak tangga terakhir, guide memperkenalkan ruangan di sebelah kanan yang berfungsi sebagai ruang amunisi. Ruang ini menjadi satu-satunya yang masih asli sebagaimana bentuk awalnya. Adapun ruangan lain, semua telah mengalami modifikasi oleh pemerintah setempat.

“Ayo, saya bantu foto di sini. Sebagai kenang-kenangan di ruangan yang masih asli,” tawar Sang Pemandu yang kusambut antusias.

Saat menjelaskan tentang renovasi gua ini, ada satu fakta lucu yang kami dapatkan. Ruangan-ruangan yang diperlebar dan ditinggikan ini selanjutnya dilapisi semen. Niatnya sih biar makin kokoh. Namun, alih-alih berjalan sesuai harapan, campuran semen tempel malah nampak rontok di beberapa sisi dan cukup membahayakan pengunjung. Kalau kata pemandunya, “Pemerintah salah perhitungan, tanah yang ditempeli semen seharusnya didahului rangka agar bisa menyatu.”

Antara miris dan malu sih. Saat dibangun oleh penjajah, kekokohannya teruji zaman. Bahkan saat Gempa Padang tahun 2007, goa ini baik-baik saja. Bahkan, menurut cerita orang-orang yang saat gempa berlangsung sedang berada dalam goa, mereka tidak merasakan apapun. Gokil sih.  

Karena ketahannya ini, pemerintah pernah memiliki ide untuk menjadikan gua ini sebagai Ruang Serbaguna. Pembangunannya juga sudah dimulai. Ada ruang diorama, ada teater, dan sebagian yang tampak berpalang pintu rencananya akan dijadikan cafe.

Pemerintah juga sudah mulai menawarkan siapa yang ingin berjualan di dalam goa kepada masyarakat setempat. Bahkan sudah ada beberapa etalase yang dibawa ke dalam. Namun, masyarakat tidak ada yang menyambut tawaran tersebut sehingga alih fungsinya masih mandek.

Lanjut jalan, Guide membagi informasi tentang mengapa ruang bawah tanah ini tidak terasa lembab ataupun pengap. Jawabannya ada di dua sisi lorong yang langsung menghadap ke jurang sedalam 60 m. Lorong inilah yang mengalirkan pasokan udara ke dalam sehingga stok oksigen tetap cukup berapa banyak pun orang yang masuk.

“Coba pegang tekstur dindingnya,” ujar pemandu sembari menyalakan senter. Dinding yang ditunjuk nampak bergelombang di bawah paparan cahaya. Tekstur ini ternyata bukanlah hal alamiah tetapi inisiatif Jepang agar suara-suara dari dalam tidak terdengar ke luar. Teksturnya dibuat oleh para pekerja secara manual sebagai peredam suara alami. 

Hal lain yang dilakukan untuk menjaga kerahasiaan Lubang Japang adalah dengan mempekerjakan orang-orang dari luar Sumatera pada proyek ini. Mengapa demikian? agar komunikasi antar pekerja terbatas sebab masing-masing orang menggunakan bahasa daerahnya. Kalaupun para pekerja ini berhasil kabur, mereka tidak bisa membocorkan tentang gua ini ke warga lokal karena kendala bahasa.

Bahkan saking rahasianya, ratusan ton tanah hasil galian tidak ada sedikitpun yang dilihat oleh masyarakat sekitar. Padahal kedalaman Lubang Japang mencapai 40-60 meter. Yang artinya, tanah galiannya sangaaat buanyak. Namun, hingga saat ini, kemana perginya tanah-tanah tersebut masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. 

Walhasil, selama proses pembangunan goa dan penjajahan yang berlangsung sekitar 3,5 tahun; masyarakat sekitar tidak ada yang mengetahui adanya goa ini. Barulah setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom dan Jepang menyerah, goa ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk setempat.

Dari penjelasan ini, saya jadi penasaran kemana perginya senjata-senjata dan segala benda milik penjajah. Dengan semangat pemandu menjelasakan, “Nah itu. Saat goa ditemukan, masyarakat sekitar dalam kondisi sangat marah atas penjajahan dan segala kekejaman Jepang. Mereka pun menjarah segala bentuk barang di dalam sini tanpa sempat diselamatkan oleh pemerintah sehingga tak tersisa jejaknya.”

Selanjutnya kami diajak ke ruang dapur. Dapur ini memiliki dua buah lubang yakni lubang atas dan lubang bawah. Jangan kira kalau lubang ini berfungsi untuk membuang sampah atau sebagai cerobong asap. Alih-alih digunakan untuk mengeksekusi masakan, lubang ini dipakai sebagai lokasi eksekusi manusia.

Lubang atas dipakai untuk mengintai masyarakat yang melewati jalan di sekitar gua. Biasanya jalan ini digunakan untuk mempersingkat waktu menuju pasar atas. Alih-alih sampai di pasar mereka malah di cegat di pertengahan sebelum mencapai pintu keluar. Ini dilakukan agar tidak ada yang melihat aktivitas hilir mudik dari dalam dan keluar gua. 

 Setelah diculik, orang-orang tersebut dibawa ke dapur lalu dieksekusi. Agar mayatnya tidak menumpuk, jenazah tersebut dibuang lewat lubang bawah. Kini lubang tersebut tersisa kecil saja. Dulunya cukup untuk dilalui seseorang yang bertugas membawa mayat sampai dihempaskan ke jurang sedalam 60 meter disekitar Ngarai Sianok. 

Mendengar penjelasan ini, saya bergidik ngeri. Bukan karena horor tapi lebih kepada perasaan sedih.

Nasib nahas tidak hanya dialami oleh orang yang melewati area ini tapi juga para pekerja. Bayangkan saja, ada 21 lorong dengan ketinggian 1-2 meter. Lorong-lorong tersebut terbentuk dari hasil kerja para tahanan. Mereka bekerja menggunakan alat-alat manual di bawah pengawasan super ketat dengan jam kerja sesuai keinginan penjajah.

Dengan pekerjaan super berat tersebut, alih-alih mendapatkan konsumsi yang memadai, mereka hanya diberi makan bubur. Walhasil, para pekerja sering kali bekerja sembari kelaparan.

“Jadi, kalau mereka sakit bagaimana?” Dengan perasaan miris saya bertanya ke pemandu.

“Pekerja yang lemah dan sakit, tidak akan mendapatkan pengobatan. Mereka di bawa ke dapur lalu dieksekusi agar tidak menambah beban.” 

Dapur jadi ruangan terakhir yang kami kunjungi. Selanjutnya pemandu mengantar kami ke pintu keluar. Total waktu yang kami habiskan di dalam gua sekitar 30 menit.

Jujur saja, sebelum masuk sini, saya agak horor. Tapi, setelah mengelilingi dan mendengarkan penjelasan secara langsung, rasa horor tidak begitu mendominasi. Yang ada malah rasa iba dan bayangan akan kejamnya penjajahan.

 Teringat saudara-saudara di Palestina yang hingga kini masih berada dalam kungkungan Israhell penjajah dan biadab. Sembari berdoa agar negeri ini tak lagi mengecap pahitnya penjajahan dalam segala hal.

Ngarai Sianok yang tampak indah ternyata menjadi saksi kebiadaban di masa lalu.