Setelah puas menikmati panorama Ngarai Sianok dari ketinggian, kami mengikuti jalan menurun menuju Lubang Japang. Sesuai namanya, labirin bawah tanah ini adalah saksi penjajahan Negeri Sakura di Tanah Nusantara.
Kedatangan kami disambut oleh beberapa guide yang
berdiri di jalur masuk Lubang Japang. Satu diantaranya mendekat lalu
menjelaskan sekilas tentang struktur ruangan gua. Entah hanya trik marketing
atau memang demikian adanya, guide tersebut mengingatkan kepada kami
resiko nyasar jika berjalan sendiri.
Warning tersebut membuat Saya, Mail, dan Tina
melakukan diskusi singkat apakah akan menggunakan jasa pemandu atau tidak.
Hasilnya, kami sepakat untuk dipandu mengelilingi labirin bawah tanah sepanjang
hampir 1,5 kilometer tersebut. Untuk satu tim, pemandu mematok tarif
Rp.100.000. Barteran yang sepadan biar tidak nyasar dan kehilangan kesempatan
menambah pengetahuan baru.
Meskipun di zaman banjir informasi seperti saat ini kisah
tentang Lubang Japang bisa dengan mudah di akses di laman internet. Namun,
mendengar ceritanya dituturkan live dari lokasi memberikan sensasi
emosional tersendiri.
Usai bersepakat dengan pemandu, kami mulai berjalan melalui
tangga menurun yang cukup curam. Informasi awal yang kami dapatkan bahwasanya
lubang masuk gua ini dulunya hanya selebar 20 cm atau setara diameter ban
mobil. Namun, kini diperlebar untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Dari atas
hingga lantai gua, kami menuruni sekitar 132 anak tangga. Konon, hitungan
jumlah anak tangga ini akan berbeda pada tiap orang.
Secara umum, gua ini terbagi atas 21 lorong dengan
fungsinya masing-masing. Ada lorong yang berfungsi sebagai gudang amunisi,
kamar petugas dan tahanan, gudang logistik, hingga dapur yang bermakna
ganda.
Setelah sampai di anak tangga terakhir, guide memperkenalkan
ruangan di sebelah kanan yang berfungsi sebagai ruang amunisi. Ruang ini
menjadi satu-satunya yang masih asli sebagaimana bentuk awalnya. Adapun ruangan
lain, semua telah mengalami modifikasi oleh pemerintah setempat.
“Ayo, saya bantu foto di sini. Sebagai kenang-kenangan di
ruangan yang masih asli,” tawar Sang Pemandu yang kusambut antusias.
Saat menjelaskan tentang renovasi gua ini, ada satu fakta
lucu yang kami dapatkan. Ruangan-ruangan yang diperlebar dan ditinggikan ini
selanjutnya dilapisi semen. Niatnya sih biar makin kokoh. Namun,
alih-alih berjalan sesuai harapan, campuran semen tempel malah nampak rontok di
beberapa sisi dan cukup membahayakan pengunjung. Kalau kata pemandunya, “Pemerintah
salah perhitungan, tanah yang ditempeli semen seharusnya didahului rangka agar
bisa menyatu.”
Antara miris dan malu sih. Saat dibangun oleh penjajah, kekokohannya teruji zaman. Bahkan saat Gempa Padang tahun 2007, goa ini baik-baik saja. Bahkan, menurut cerita orang-orang yang saat gempa berlangsung sedang berada dalam goa, mereka tidak merasakan apapun. Gokil sih.
Karena ketahannya ini, pemerintah pernah memiliki ide untuk
menjadikan gua ini sebagai Ruang Serbaguna. Pembangunannya juga sudah
dimulai. Ada ruang diorama, ada teater, dan sebagian yang tampak berpalang pintu
rencananya akan dijadikan cafe.
Pemerintah juga sudah mulai menawarkan siapa yang ingin
berjualan di dalam goa kepada masyarakat setempat. Bahkan sudah ada beberapa
etalase yang dibawa ke dalam. Namun, masyarakat tidak ada yang menyambut
tawaran tersebut sehingga alih fungsinya masih mandek.
Lanjut jalan, Guide membagi informasi tentang mengapa ruang bawah tanah ini tidak terasa lembab ataupun pengap. Jawabannya ada di dua sisi lorong yang langsung menghadap ke jurang sedalam 60 m. Lorong inilah yang mengalirkan pasokan udara ke dalam sehingga stok oksigen tetap cukup berapa banyak pun orang yang masuk.
“Coba pegang tekstur dindingnya,” ujar pemandu sembari
menyalakan senter. Dinding yang ditunjuk nampak bergelombang di bawah paparan
cahaya. Tekstur ini ternyata bukanlah hal alamiah tetapi inisiatif Jepang agar
suara-suara dari dalam tidak terdengar ke luar. Teksturnya dibuat oleh para
pekerja secara manual sebagai peredam suara alami.
Hal lain yang dilakukan untuk menjaga kerahasiaan Lubang
Japang adalah dengan mempekerjakan orang-orang dari luar Sumatera pada proyek
ini. Mengapa demikian? agar komunikasi antar pekerja terbatas sebab
masing-masing orang menggunakan bahasa daerahnya. Kalaupun para pekerja
ini berhasil kabur, mereka tidak bisa membocorkan tentang gua ini ke warga
lokal karena kendala bahasa.
Bahkan saking rahasianya, ratusan ton tanah hasil galian tidak ada sedikitpun yang dilihat oleh masyarakat sekitar. Padahal kedalaman Lubang Japang mencapai 40-60 meter. Yang artinya, tanah galiannya sangaaat buanyak. Namun, hingga saat ini, kemana perginya tanah-tanah tersebut masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Walhasil, selama proses pembangunan goa dan penjajahan yang
berlangsung sekitar 3,5 tahun; masyarakat sekitar tidak ada yang mengetahui
adanya goa ini. Barulah setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom dan Jepang
menyerah, goa ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk setempat.
Dari penjelasan ini, saya jadi penasaran kemana perginya
senjata-senjata dan segala benda milik penjajah. Dengan semangat pemandu
menjelasakan, “Nah itu. Saat goa ditemukan, masyarakat sekitar dalam kondisi sangat
marah atas penjajahan dan segala kekejaman Jepang. Mereka pun menjarah segala
bentuk barang di dalam sini tanpa sempat diselamatkan oleh pemerintah sehingga
tak tersisa jejaknya.”
Selanjutnya kami diajak ke ruang dapur. Dapur ini memiliki
dua buah lubang yakni lubang atas dan lubang bawah. Jangan kira kalau lubang
ini berfungsi untuk membuang sampah atau sebagai cerobong asap. Alih-alih
digunakan untuk mengeksekusi masakan, lubang ini dipakai sebagai lokasi
eksekusi manusia.
Lubang atas dipakai untuk mengintai masyarakat yang melewati
jalan di sekitar gua. Biasanya jalan ini digunakan untuk mempersingkat waktu
menuju pasar atas. Alih-alih sampai di pasar mereka malah di cegat di
pertengahan sebelum mencapai pintu keluar. Ini dilakukan agar tidak ada yang
melihat aktivitas hilir mudik dari dalam dan keluar gua.
Setelah diculik, orang-orang tersebut dibawa ke dapur
lalu dieksekusi. Agar mayatnya tidak menumpuk, jenazah tersebut dibuang lewat
lubang bawah. Kini lubang tersebut tersisa kecil saja. Dulunya cukup untuk
dilalui seseorang yang bertugas membawa mayat sampai dihempaskan ke jurang
sedalam 60 meter disekitar Ngarai Sianok.
Mendengar penjelasan ini, saya bergidik ngeri. Bukan
karena horor tapi lebih kepada perasaan sedih.
Nasib nahas tidak hanya dialami oleh orang yang melewati
area ini tapi juga para pekerja. Bayangkan saja, ada 21 lorong dengan
ketinggian 1-2 meter. Lorong-lorong tersebut terbentuk dari hasil kerja para
tahanan. Mereka bekerja menggunakan alat-alat manual di bawah pengawasan
super ketat dengan jam kerja sesuai keinginan penjajah.
Dengan pekerjaan super berat tersebut, alih-alih mendapatkan
konsumsi yang memadai, mereka hanya diberi makan bubur. Walhasil, para
pekerja sering kali bekerja sembari kelaparan.
“Jadi, kalau mereka sakit bagaimana?” Dengan perasaan miris
saya bertanya ke pemandu.
“Pekerja yang lemah dan sakit, tidak akan mendapatkan pengobatan. Mereka di bawa ke dapur lalu dieksekusi agar tidak menambah beban.”
Dapur jadi ruangan terakhir yang kami kunjungi. Selanjutnya
pemandu mengantar kami ke pintu keluar. Total waktu yang kami habiskan di dalam
gua sekitar 30 menit.
Jujur saja, sebelum masuk sini, saya agak horor. Tapi,
setelah mengelilingi dan mendengarkan penjelasan secara langsung, rasa horor
tidak begitu mendominasi. Yang ada malah rasa iba dan bayangan akan kejamnya
penjajahan.
Teringat saudara-saudara di Palestina yang hingga kini masih berada dalam kungkungan Israhell penjajah dan biadab. Sembari berdoa agar negeri ini tak lagi mengecap pahitnya penjajahan dalam segala hal.
Ngarai Sianok yang tampak indah ternyata menjadi saksi
kebiadaban di masa lalu.
Posted by 

comment 0 Comment
more_vert