Setelah menyusuri Rumah Kelahiran Bung Hatta, driver menanyakan tujuan selanjutnya. Saya pun menyebutkan ingin ke Istana Pagaruyuang. Sayang sekali, tempatnya masih cukup jauh sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 lebih.
Driver pun menawarkan destinasi lain, “Kita ke Ngarai Sianok
aja dulu. Nanti pulangnya mampir ke PMDIK di Padang Panjang. Itu bangunannya
mirip Istana Pagaruyuang.”
“Oh, Ngarai Sianok dekat sini?” Saya menyahut
keheranan karena pikirku destinasi tersebut berada jauh dari pusat kota.
Setelah diiyakan oleh
Pak Supir, kami pun setuju. Walaupun tetap ada nyesek-nyeseknya. Tapi,
ternyata keputusan ini berubah jadi rasa Syukur. Mengapa demikian? Tunggu di
cerita tentang PMDIK.
Singkat cerita, mobil pun diarahkan ke destinasi tujuan. Sekitar
beberapa menit dari Jam gadang, kami sampai di sebuah kawasan berpagar yang dari
arah luar terpampang tulisan “Panorama Ngarai Sianok”. Untuk masuk ke
area dalam, harus melewati pos jaga dan membeli tiket masuk seharga Rp.10 ribu.
Ini sudah termasuk akses ke Goa Jepang. Murah sekaliii.
Ternyata, tempat ini bukanlah Ngarai Sianok tetapi tempat untuk melihat pemandangan ngarai dari ketinggian. But not bad lah. Dari sini, kita bisa menyaksikan pahatan fenomena alam yang menakjubkan. Terpesona sambil ngeri-ngeri sedap karena di tempat saya berdiri ini, bagian bawahnya jurang yang sangat dalam.
Bagi yang fobia ketinggian, harap untuk tidak mendekati
pagar pembatas. Juga, bagi yang takut Monyet, mungkin tempat ini tidak cocok
karena banyaknya monyet jinak berkeliaran. Ada yang berjalan sendiri, ada pula
yang membawa anaknya. So sweet sih 😀😀😀
Oh ya, jika cuaca cerah, tempat yang dijuluki Grand Canyon
ala Suamtera ini akan tampak diapit oleh Gunung Singgalang dan Pegunungan Bukit
Barisan. Sayang sekali, kami datang bersama rintik dan kabut sehingga tidak
bisa menikmati pemandangan tersebut.
Tapi, apapun itu tetap disyukuri bisa sampai menapakkan kaki
di sini. Tempat yang dulu hanya bisa saya saksikan di buku catatan milik Ibu,
sekarang nampak di depan mata. Masya Allah.
“Buku catatan ibu favoritku
yang pembatasnya berisi foto-foto daerah wisata di Indonesia. Bikin kuterpikat
sejak pandangan pertama”Apa yang disaksikan dari lokasi kami berdiri sebenarnya
hanya secuil dari keajaiban alam ini. Sebab Ngarai Sianok membentang sejauh 15
km dengan kedalaman sekitar 100 meter dan lebar sekitar 200 meter. FYI, Ngarai
itu adalah jurang curam yang diapit oleh tebing batu yang menjulang tinggi. Ini
terbentuk dari lempengan bumi yang turun ke bawah.
Mungkin bisa divisulisasikan begini. Dahulu kala, ada
pegunungan batu yang sangat luas. Terus, suatu waktu, terjadi letusan gunung
api purba yang lokasinya ada di Danau Maninjau sekarang. Nah, letusan ini
melahirkan patahan dan terus bergeser secara horizontal sebebsar 2 mm/hari atau
7 cm per tahun selama jutaan tahun. Nah, dari sinilah terbentuk celah lebar
yang disebut Ngarai Sianok.
Ngarai Sianok yang panjang dan berkelok menjadi batas alami
antara Kota Bukitinggi dan Kabupaten Agam. Membantang dari selatan Nagari Koto
Gadang sampai ke Nagari Sianok Anam Suku dan berlanjut ke Palupuh. Insya Allah next
time bisa jejalah ngarai yang dibagian bawahnya terdapat Sungai Batang
Sianok ini.
FYI, Nagari Koto Gadang adalah tempat rumah kelahiran KH
Agus Salim. Bukan hanya beliau, nagari ini jadi gudang kelahiran intelektual
diantaranya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Sutan Sjahrir, Rohana Kudus,
Emil Salim, Abdul Muis, dan Mr. Assaat.
Sayangnya, saya baru tahu saat sudah kembali ke Sulawesi.
Hikzzz. Asli pengen nangis tahu fakta ini. Semoga jadi pertanda bahwa Allah
akan kembali memberikan kesempatan untuk menapak di Tanah Minang dan
menjelajahi lebih banyak tempat. Menapaki jejak tokoh-tokoh luar biasa yang
mengukir Sejarah negeri ini.
Oh ya, ada satu lagi yang terluput saat saya berada di tempat ini : foto sambil pegang uang 2000-an! Mengapa 2000? Soalnya tempat inilah yang jadi gambar di salah satu sisi uang kertas berwarna abu-abu itu.
Biidznillah, Semoga masih bisa mengulang kunjungan ke tempat ini.
Posted by 

comment 0 Comment
more_vert