MASIGNALPHAS2101
7425642317624470382

Melihat Jejak Masa Kecil Mohammad Hatta di Bukittinggi

Melihat Jejak Masa Kecil Mohammad Hatta di Bukittinggi
Add Comments
Jumat, 25 Juli 2025

Museum tempat lahir Sang Proklamator ini ternyata berada di kawasan Pasar Bawah. Saat kami tiba, nyaris tidak ada pengunjung lain selain kami bertiga. Di area depan, dua orang petugas menyapa dengan ramah dan langsung mempersilakan kami masuk ke bangunan bergaya klasik abad ke-19 ini.

Jujur saja, ada sedikit rasa mengganjal di hati saya. Mengapa petugas tidak mendampingi dan menjelaskan isi museum ini? Mungkin karena masih terbawa suasana dari Museum Rahmah El Yunusiyah yang sebelumnya saya kunjungi. Di sana kami diajak berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain sembari mendengarkan penjelasan penuh kebanggaan dari sang pemandu tentang sosok yang diceritakan.


Maaf ya, tulisan ini tentu bukan untuk menyudutkan para petugas di Museum Bung Hatta. Ini hanyalah sebuah catatan pembanding yang diharapkan bisa menjadi saran perbaikan ke depannya. 

Para penjaga museum sebenarnya sangat baik. Saya bahkan ditawari dan diarahkan untuk berfoto di beberapa sudut estetis. Namun bagi saya, foto bukanlah tujuan utama. Ada banyak sisi kehidupan Bung Hatta yang perlu diceritakan dengan bangga. Narasi tersebut penting agar rekam jejak beliau bisa menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi penerus di tengah krisis sosok panutan saat ini.

Mungkin ada yang berpikir bahwa cerita-cerita tersebut bisa di dapatkan dengan mudah dari internet. Tapi menurut saya, mendengarkan langsung dari lokasi yang menyimpan jejak orang-orang hebat, membawa pemahaman yang lebih nancap.

Saya pun mulai menyusuri ruangan demi ruangan secara mandiri sembari mengabadikannya lewat kamera. Rumah ini sebenarnya adalah replika yang dibangun ulang pada tahun 1994 di atas fondasi aslinya yang sempat runtuh pada dekade 1960-an. Hebatnya, tata letak dan sekitar 20 persen perabotan di dalamnya masih asli peninggalan keluarga besar beliau.

Di rumah inilah karakter kedisiplinan, kesederhanaan, dan ketepatan waktu Bung Hatta kecil ditempa. Pengaruh itu datang dari sang kakek, Haji Marah (Pak Gaek), seorang pengusaha sukses yang mengelola jalur transportasi pos parikelir rute Bukittinggi hingga Sibolga.

Di ruang tengah, tampak perabotan kayu yang bersahaja, kursi-kursi antik, dan lemari berisi penghargaan. Dindingnya dipenuhi foto dokumentasi keluarga yang dilengkapi penjelasan singkat mengenai aktivitas masa kecil Mohammad Hatta—yang saat itu masih dipanggil Atta.

Di rumah utama ini, terdapat pula kamar milik kedua paman beliau, tempat Atta kecil sering mendengarkan obrolan orang dewasa. Di samping bangunan utama, terdapat Kamar Bujang atau paviliun khusus tempat Atta tidur dan belajar, sebuah ruangan yang menggambarkan betapa mandiri dan teraturnya beliau sejak dini.

Melangkah ke bagian belakang, terdapat dapur dengan tungku masak tanah liat tradisional dan kamar mandi dengan gentong air besar. Saya juga melihat dua bangunan kecil yang dulunya berfungsi sebagai lumbung pangan (rangkiang).

Keberadaan lumbung dan deretan kandang kuda di area ini menjadi bukti sejarah bahwa keluarga besar Bung Hatta dari garis ibunya, Siti Saleha, merupakan keluarga pengusaha yang sangat mapan pada masanya. Kini, salah satu bangunan lumbung tersebut telah dialihfungsikan menjadi musala.

Perjalanan berlanjut ke lantai dua melalui tangga kayu di ruang makan. Di lantai atas inilah terletak kamar bersejarah tempat Bung Hatta dilahirkan pada 12 Agustus 1902. Ruangan itu terasa magis, lengkap dengan ranjang besi kuno, kelambu putih, dan beberapa foto masa bayi beliau. Di kamar sederhana ini, seorang bayi lahir ke dunia, tanpa ada yang tahu bahwa kelak ia akan menggoncang dunia kolonial dan memproklamasikan sebuah bangsa besar.

Setelah puas berkeliling mandiri, saya berjalan menuju pintu keluar. Di bagian teras, ternyata ada sebuah ruangan yang difungsikan sebagai Ruang Baca Bung Hatta. Sebelum masuk, saya memutuskan membeli sebuah buku yang dipajang di meja registrasi berjudul Hatta, Jejak Yang Melampaui Zaman.

Di dalam ruang baca, berjejer meja, kursi, dan lemari yang penuh dengan buku. Tampaknya ini hanya sebagian kecil dari koleksi literatur beliau. Berdasarkan cerita Ayah, Buya Hamka tetap membawa berpeti-peti buku saat akan dibawa ke pengasingan—dan Bung Hatta pun terkenal dengan prinsipnya yang legendaris: "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas".

Sebagian buku di sini sudah tampak usang dengan lembaran yang menguning dimakan usia. Sebelum melangkah pulang, salah satu petugas kembali menawarkan diri untuk memotret saya di ruangan ini. Terimakasih Mbak. 🙏