Museum tempat lahir Sang Proklamator ini ternyata berada di kawasan Pasar Bawah. Saat kami tiba, nyaris tidak ada pengunjung lain selain kami bertiga. Di area depan, dua orang petugas menyapa dengan ramah dan langsung mempersilakan kami masuk ke bangunan bergaya klasik abad ke-19 ini.
Jujur saja, ada sedikit rasa mengganjal di hati saya.
Mengapa petugas tidak mendampingi dan menjelaskan isi museum ini? Mungkin karena
masih terbawa suasana dari Museum Rahmah El Yunusiyah yang sebelumnya
saya kunjungi. Di sana kami diajak berkeliling dari satu ruangan ke ruangan
lain sembari mendengarkan penjelasan penuh kebanggaan dari sang pemandu tentang
sosok yang diceritakan.
Maaf ya, tulisan ini tentu bukan untuk menyudutkan para petugas di Museum Bung Hatta. Ini hanyalah sebuah catatan pembanding yang diharapkan bisa menjadi saran perbaikan ke depannya.
Para penjaga museum sebenarnya sangat baik. Saya bahkan
ditawari dan diarahkan untuk berfoto di beberapa sudut estetis. Namun bagi
saya, foto bukanlah tujuan utama. Ada banyak sisi kehidupan Bung Hatta yang
perlu diceritakan dengan bangga. Narasi tersebut penting agar rekam jejak
beliau bisa menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi penerus di tengah krisis
sosok panutan saat ini.
Mungkin ada yang berpikir bahwa cerita-cerita tersebut bisa
di dapatkan dengan mudah dari internet. Tapi menurut saya, mendengarkan
langsung dari lokasi yang menyimpan jejak orang-orang hebat, membawa pemahaman
yang lebih nancap.
Saya pun mulai menyusuri ruangan demi ruangan secara mandiri
sembari mengabadikannya lewat kamera. Rumah ini sebenarnya adalah replika yang
dibangun ulang pada tahun 1994 di atas fondasi aslinya yang sempat runtuh pada
dekade 1960-an. Hebatnya, tata letak dan sekitar 20 persen perabotan di
dalamnya masih asli peninggalan keluarga besar beliau.
Di rumah inilah karakter kedisiplinan, kesederhanaan, dan ketepatan waktu Bung Hatta kecil ditempa. Pengaruh itu datang dari sang kakek, Haji Marah (Pak Gaek), seorang pengusaha sukses yang mengelola jalur transportasi pos parikelir rute Bukittinggi hingga Sibolga.
Di ruang tengah, tampak perabotan kayu yang bersahaja,
kursi-kursi antik, dan lemari berisi penghargaan. Dindingnya dipenuhi foto
dokumentasi keluarga yang dilengkapi penjelasan singkat mengenai aktivitas masa
kecil Mohammad Hatta—yang saat itu masih dipanggil Atta.
Di rumah utama ini, terdapat pula kamar milik kedua paman
beliau, tempat Atta kecil sering mendengarkan obrolan orang dewasa. Di samping
bangunan utama, terdapat Kamar Bujang atau paviliun khusus tempat Atta
tidur dan belajar, sebuah ruangan yang menggambarkan betapa mandiri dan
teraturnya beliau sejak dini.
Melangkah ke bagian belakang, terdapat dapur dengan tungku
masak tanah liat tradisional dan kamar mandi dengan gentong air besar. Saya
juga melihat dua bangunan kecil yang dulunya berfungsi sebagai lumbung pangan (rangkiang).
Keberadaan lumbung dan deretan kandang kuda di area ini
menjadi bukti sejarah bahwa keluarga besar Bung Hatta dari garis ibunya, Siti
Saleha, merupakan keluarga pengusaha yang sangat mapan pada masanya. Kini,
salah satu bangunan lumbung tersebut telah dialihfungsikan menjadi musala.
Perjalanan berlanjut ke lantai dua melalui tangga kayu di
ruang makan. Di lantai atas inilah terletak kamar bersejarah tempat Bung Hatta
dilahirkan pada 12 Agustus 1902. Ruangan itu terasa magis, lengkap
dengan ranjang besi kuno, kelambu putih, dan beberapa foto masa bayi beliau. Di
kamar sederhana ini, seorang bayi lahir ke dunia, tanpa ada yang tahu bahwa
kelak ia akan menggoncang dunia kolonial dan memproklamasikan sebuah bangsa
besar.
Setelah puas berkeliling mandiri, saya berjalan menuju pintu
keluar. Di bagian teras, ternyata ada sebuah ruangan yang difungsikan sebagai
Ruang Baca Bung Hatta. Sebelum masuk, saya memutuskan membeli sebuah buku yang
dipajang di meja registrasi berjudul Hatta, Jejak Yang Melampaui Zaman.
Di dalam ruang baca, berjejer meja, kursi, dan lemari yang
penuh dengan buku. Tampaknya ini hanya sebagian kecil dari koleksi literatur
beliau. Berdasarkan cerita Ayah, Buya Hamka tetap membawa berpeti-peti buku
saat akan dibawa ke pengasingan—dan Bung Hatta pun terkenal dengan prinsipnya
yang legendaris: "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena
dengan buku aku bebas".
Sebagian buku di sini sudah tampak usang dengan lembaran
yang menguning dimakan usia. Sebelum melangkah pulang, salah satu petugas
kembali menawarkan diri untuk memotret saya di ruangan ini. Terimakasih Mbak. 🙏
Posted by 
.jpg)

comment 0 Comment
more_vert