Setelah sempat uji nyali di Teluk Bayur dan menempuh jalanan yang mendaki gunung lewati lembah ala Ninja Hatori, Alhamdulillah... akhirnya kaki kami menapak juga di Pantai Air Manis. Tujuan utama kami ke sini? Tentu saja apalagi kalau bukan urusan "silaturahmi" dengan si anak durhaka yang paling melegenda se-Indonesia Raya: Malin Kundang!
Untuk bisa masuk ke kawasan pantai ini, kami dikenakan tiket masuk sebesar Rp25.000. Kabar baiknya, nominal itu sudah all-in termasuk biaya parkir kendaraan. Jadi aman lah ya di dompet, nggak perlu drama bayar parkir berkali-kali.
Begitu menginjakkan kaki di areanya, mata langsung dimanjakan oleh garis pantai yang super luas dan landai. Pasirnya punya karakteristik warna cokelat padat yang khas banget. Untungnya, ombak di sini cenderung kecil dan tenang, jadi terasa bersahabat dan ramah buat para wisatawan yang memang niatnya ingin main air atau sekadar basah-basahan di tepi laut.
Tapi, menahan diri untuk tidak langsung main air adalah koentji. Karena rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun, kami langsung menghampiri ibu-ibu penjual souvenir setempat. "Bu, kalau letak Batu Malin Kundang di sebelah mana, ya?" tanya kami. Beliau dengan ramah melemparkan senyum lalu mengarahkan kami untuk berjalan terus saja ke arah kiri. Katanya, nanti di ujung jalan ada tangga yang mengarah ke atas.
Oke sip, kami pun segera marching mengikuti petunjuk si ibu. Tapi oh tapi... kejutan tak terduga langsung menghadang di depan mata. Di depan kami justru terbentang semacam aliran sungai kecil yang mau tidak mau harus diseberangi sebelum bisa mencapai tangga naik tadi.
Berhubung di pikiran kami saat itu "ah, pasti nggak ada pilihan jalan lain nih", ya sudah lah ya... dengan PD kami terobos saja aliran air itu. Alhasil? Bisa ditebak. Alas kaki kami auto kotor, basah, dan sukses ditempeli pasir pantai. Sungguh tidak nyaman!
Setelah melewati perjuangan menembus sungai kecil tadi, kami menaiki tangga dan langsung disambut oleh jejeran lapak yang menjual aneka cinderamata khas Sumatra Barat. Dari situ, kami diarahkan berbelok lagi ke arah kiri dan menuruni anak tangga berikutnya. Nah, pas di bagian ini harus ekstra fokus. Entah bagaimana konsep awal desain fasilitasnya, kontur tangga turunnya itu berasa curam sekali dan agak rawan bikin pengunjung terpeleset kalau jalannya buru-buru atau kurang fokus.
Tapi semua perjuangan kaki basah dan tangga curam itu langsung terbayar lunas begitu sampai di ujung bawah. Di situlah objek utama yang legendaris itu berada. Jujur ya, selama ini di kepala saya, yang namanya Batu Malin Kundang itu cuma berupa satu patung manusia saja yang lagi sujud tunggal seperti di gambar ini.
Ternyata dugaan saya salah besar, di sekeliling patung utama itu, bertebaran bebatuan raksasa yang kalau diperhatikan membentuk formasi mirip kapal berukuran sedang yang pecah akibat dihantam ombak dahsyat. Menariknya lagi, pecahan-pecahan kapal ini dipisahkan oleh aliran sungai kecil yang sempat kami terobos dengan penuh drama tadi. Kalau kalian melongok lebih dekat, guratan batunya bahkan punya detail yang menyerupai lilitan tali temali kapal sampai gentong air yang ikut-ikutan membatu.
Melihat pemandangan itu secara langsung, tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hati: kisah Malin Kundang ini sebenarnya murni mitos pengantar tidur biar anak-anak zaman dulu nurut sama orang tua, atau memang fakta sejarah yang nyata terjadi? Wallahu a'lam bish-shawab.
Sampai detik ini pun, asal-usul batu tersebut memang masih jadi kontroversi. Sebagian masyarakat lokal sangat percaya kalau itu adalah bukti nyata karma anak durhaka. Namun, kalau kita bedah dari sudut pandang seni dan arsitektur, kompleks situs ini sebenarnya merupakan sebuah karya relief buatan manusia.
Bebatuan ini dipahat dengan sangat apik oleh tangan dingin seniman lokal terkemuka bernama Dasril Bayras dan Ibenzani Usman sekitar tahun 1980-an. Tujuannya tentu mulia, yaitu memvisualisasikan legenda rakyat Minangkabau agar menjadi daya tarik wisata budaya yang ikonik dan selalu diingat.
Nah, pas lagi asyik-asyiknya mengamati detail batu dan merenungi nasib si Malin, tiba-tiba pandangan kami teralih ke arah berlawanan. Jeng jeng... kami melihat ada serombongan pengunjung lain yang baru datang dengan wajah santai, adem ayem, tanpa ada drama sepatu kotor apalagi basah kuyup seperti kami.
Kerutan di dahi kami langsung muncul. Ternyata eh ternyata, area parkir utama itu sebenarnya sudah terhubung langsung ke lokasi batu lewat sebuah jembatan penyeberangan! Jadi, pengunjung aslinya sama sekali TIDAK PERLU menyeberangi sungai kecil berpasir seperti yang kami lakukan tadi.
Ya ampun... rasanya pengen ngakak tapi agak nyesek juga. Benar-benar sebuah pengalaman berharga yang mengundang tawa sekaligus sedikit rasa sesal akibat kurang riset jalur alternatif.
Di luar drama salah jalan tersebut, atmosfer di sekeliling Pantai Air Manis sore itu terasa hidup banget. Suara deru mesin kendaraan ATV yang disewakan seharga Rp100.000 per jam terdengar saling bersahutan, membawa para pengunjung menyisir luasnya hamparan pasir cokelat dengan seru.
Dari bibir pantai, pandangan kami juga tertuju pada sebuah pulau di seberang yang bernama Pulau Pisang Kecil. Menurut info dari warga lokal, kalau air laut lagi surut, kita bahkan bisa menyeberang ke pulau itu cuma dengan berjalan kaki. Sayangnya, saat itu air laut sedang pasang.
Setelah puas menikmati panorama pantai, puas foto-foto narsis di relief bersejarah, dan mengamankan dokumentasi, kami pun memutuskan untuk balik kanan menuju kendaraan. Perjalanan pulang kami terasa jauh lebih menyenangkan karena jalur aksesibilitas menuju pantai ini sekarang sudah sangat mulia, alias sudah bagus dan modern berkat dibukanya Jalan Lingkar Nipah. Sepanjang jalan memotong kaki Gunung Padang, kami disuguhi lanskap pemandangan laut lepas dari ketinggian yang indahnya keterlaluan!
Nah, usai dari Pantai Air Manis ini, kemana lagi rute petualangan kami selanjutnya di Kota Padang? Kami akan langsung meluncur dan bergeser menuju kawasan yang penuh cerita sejarah lainnya, yaitu Kota Tua dan Jembatan Siti Nurbaya. Stay tuned di cerita berikutnya, ya!
Posted by 





comment 0 Comment
more_vert