Disclaimer : Kalau judulnya bisa dikasi emot, versiku ini (😁) emot yang pas. Kenapa? karena saya memilih judul ini berdasarkan pengalam pribadi. Yups, saya tau Jam Gadang sejak lama tapi saya tidak tau di sekitarnya ada apa saja. Ada yang sama gak sih? Kalau ada, kuy lanjut baca.
------------------------------------
Dari Padang Panjang tepatnya di Diniyyah Putri Padang Panjang, perjalanan berlanjut ke Kota Bukittinggi dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam karena sempat singgah di pusat oleh-oleh Uniadek. Tujuan utama kami di kota yang pernah menjadi ibukota Republik Indonesia ini adalah Museum Bung Hatta.
Berhubung tiba di sana sudah siang, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum menjelajah. Setelah batal mencicipi rendang di RM Evi sebagaimana cerita di sini, kami mencari alternatif lain. Driver menyarankan untuk mencoba Nasi Kapau.
Ah ya, saya baru teringat kalau Bukitinggi punya masakan khas ini. Tanpa ba bi bu, kami langsung mengiyakan. Kami tidak menanyakan tempatnya dimana, sepenuhnya diserahkan ke sopir. Setelah jalan beberapa saat, mobil diparkir di ruas jalan yang dari penampakannya, jalan itu berada di depan pasar.
Selanjutnya, kami mengikuti langkah Pak Sopir sebagai orang yang sudah paham seluk beluk Bukitinggi. Setelah menyeberang jalan, kami menaiki anak tangga yang cukup tinggi dan curam (rute yang tidak disarankan jika jalan bersama orang tua). Sampai di anak tangga ter atas, belok kanan langsung bertemu tempat tujuan.
Pusat kuliner Nasi Kapau berada di Pasar Atas Bukitinggi. Di sini terdapat deretan warung Nasi Kapau atau biasa disebut Los Lambuang. Kuliner legendaris yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19 ini lahir dari kreativitas para ibu di Nagari Kapau, Kabupaten Agam, yang berjualan demi menghidupi keluarga saat ditinggal suami merantau. Uniknya, aturan adat ini terjaga ketat: penjual Nasi Kapau tidak boleh sembarang orang—mereka harus memiliki garis keturunan asli Nagari Kapau.
Kami memilih melipir ke salah satu penjual yang warungnya tidak jauh dari arah masuk yaitu lapak milik Hj. Ana. Uniknya, penjual di sini mengenakan sarung khas dan duduk di posisi yang lebih tinggi di balik jejeran baskom masakan yang disusun bertingkat.
Penjualnya mengambil pesanan kami menggunakan sendok panjang bertangkai bambu dengan ujung tempurung kelapa. Penggunaan sendok panjang ini ternyata ada filosofinya, yaitu untuk memudahkan penjual menjangkau baskom lauk yang diletakkan jauh di depan tanpa harus bolak-balik berdiri.
Berdasarkan beberapa ulasan yang saya tonton sebelum ke Rananh Minang, ada satu jenis hidangan yang saya tertarik untuk mencobanya yakni Gulai Tambusu -usus sapi yang diisi adonan telur dan tahu berempah-. Karena bentukannya yang lumayan besar, saya pun mengajak Mail, "Coba yang Gulai Tambusu ayoo, nanti bagi dua soalnya kalau sendiriku tidak akan habis."
Sayangnya, ajakan excited ku hanya dijawab, "hmmm. Kayaknya tidak deh. Sa aneh dengan bentuknya."😅😅 Iya juga sih, kalau melihat bentuknya memang rada unik bahkan mungkin aneh bagi sebagian orang. Yah, pupus sudah harapan menikmati olahan usus sapi. Padahal kata orang-orang, gulai ini sangat enak.
Sebagai gantinya, saya memilih Dendeng Batokok atau Dendeng Sapi yang dikeringkan plus sambal lado hijau dan diguyur kuah. Sedangkan yang lain, memilih sesuai selera masing-masing. Harga seporsi makanan beserta air putih sekitar Rp40.000 an. Masih terjangkau dan recomended untuk dicoba bagi yang berkunjung ke Bukitinggi.
Usai makan, driver bilang, "Jalan kaki saja ya, ke Jam Gadang. Nanti, kalau sudah selesai di Jam Gadang, infokan saja mau dijemput dimana."
Jujur sih, baru tau kalau tempat makan kami ini sudah di sekitar kawasan jam legendaris tersebut. Kami diarahkan berjalan melintasi jejeran penjual di Pasar Atas atau Pasar Ateh. Setelah berjalan beberapa menit, tampak lah bangunan ikonik JAM GADANG. Jika tidak ingat umur, ingin rasanya loncat-loncat kegirangan. Secara, bangunan ini dulunya hanya bisa dilihat di buku atau layar. Sekarang berada di depan mata. WOW.
Tak menunggu lama, auto CEKREK. Meski rada tidak PD sama outfit yang tabrak warna tapi momen berada di sini harus diabadikan sebanyak mungkin. Oh ya, outfit tabrak warna ini diakibatkan baju-baju lainnya masih proses dicuci, jadi pakai yang ada saja. 😀😀
Berhubung sudah masuk waktu Zuhur, kami bergeser ke mushola yang berada di tempat yang lebih rendah. Jadi, dari area pelataran Jam Gadang, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga. Sempat underestimate sama tempatnya tapi lagi-lagi tertampar realitas.
Mushalla bernama Al-Yazid ini tampak terawat dan sangat bersih. Meski tidak terlalu besar, tempatnya sangat nyaman untuk beribadah. Area wanita dan pria terpisah. Tidak hanya area shalat, tempat wudhu dan toiletnya pun terpisah.
Saat menuju ke ruang wudhu, saya kagum karena untuk ukuran musholla, areanya cukup luas dan lagi-lagi BERSIH. Pantas saja, tempat ini mendapatkan peringkat 1 Toilet Terbersih di Objek Wisata se-Sumtera Barat. Pengurusnya pun sangat ramah pada semua pengunjung.
Usai wudhu, saya mengambil sepasang mukena yang tersedia. Masya Allah, mukenanya wangi dan tampak sering dicuci sehingga sangat nyaman saat digunakan. Setelah shalat, kami kembali lagi ke pelataran Jam Gadang. Karena sudah puas foto-foto, saya pun mendekat dan ke bangunan utama.
Di bagian bawah terdapat Plakat informasi berbahan batu granit hitam yang merangkum rangkaian sejarah, arsitektur, dinamika bentuk, hingga keunikan teknis dari menara ikonik ini. Selain itu, ada juga papan nama saat peresmian wilayah Pedestrian pada Tahun 2019.
Sebagaimana umumnya di Indonesia, Jam Gadang juga punya kisah-kisah uniknya yang beredar dari lisan ke lisan. Seperti jam dipuncaknya hanya ada 2 di dunia, kembaran Big Ben di London, angka di jam nya salah cetak, dll.
Saya juga termasuk yang percaya kisah ini. Tapi, setahun setelah mengunjungi Bukitinggi, ada perhelatan memperingati 1 Abad Jam Gadang. Wartawan senior Khairul Jasmi membeberkan fakta dari kisah-kisah tersebut. Lebih jelasnya silahkan cari tulisan beliau tentang ini.
Back to cerita perjalanan.
Di salah satu sisi taman Jam Gadang, berdiri bangunan yang di depannya terpampang nama Istana Bung Hatta. Kupikir, inilah tempat kelahiran Sang Proklamator. So, dengan PD nya, saya mengajak Mail dan Tina untuk masuk ke sana.
Sebelum masuk ke areanya, kami dicegat oleh Satpam. Ditanya ada keperluan apa. Saya pun menjawab bahwa akan ke Museum Bung Hatta. Ternyata, ini adalah gedung pemerintahan. Sedangkan museum yang kami cari berada di sekitar Pasar Bawah. 😅😅
Dengan senyum masam, saya pun undur diri dan langsung menghubungi Pak Sopir untuk dijemput. Tak menunggu lama, mobil merapat. Dengan diiringi gerimis mengundang, kami menuju Museum Bung Hatta atau disebut juga Rumah Kelahiran Bung Hatta. Cerita berada di rumah masa kecil Sang Proklamator bisa baca di sini.
Dari rumah Bung Hatta, saya inginnnya ke Istana Pagaruyuang di Batusangkar. Namun, setelah didiskusikan, waktunya tidak akan cukup. Jika dipaksakan, kami bisa terkena charge denda dari pihak rental karena batas waktu sewa hanya sampai jam 8 malam.
Sebagai solusi, Pak Sopir menawarkan untuk beralih ke Ngarai Sianok yang ternyata juga dekat dari Jam Gadang. Lalu, gantinya Istana Pagaruyuang, sopir menawarkan untuk mampir ke PDIKM (Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Miangkabau) di Padang Panjang saat perjalan pulang nanti.
Walaupun sempat terselip rasa kecewa, ternyata Allah menyimpan cerita yang indah dibalik alur perjalanan kami yang berubah. Masya Allah. (Cerita tentang ini akan menyusul).
Posted by .png)

comment 0 Comment
more_vert