Meski tujuan utama di Jakarta adalah mengikuti Pameran 200 Tahun Perang Jawa di Perpustakaan Nasional tapi saya juga punya agenda lain yakni mengunjungi Masjid Istiqlal. Yups, jalan-jalan versiku adalah mengunjungi masjid, tempat-tempat bersejarah, dan perpustakaan. Keindahan alam on the other side.
Berhubung saya sampai Jakarta mendekati waktu zuhur, saya memutuskan untuk ke masjid dulu. Dari stasiun Tanah Abang, saya memesan ojek online dengan biaya sekitar Rp.15.000.
Sepanjang jalan, netra disuguhi pemandangan yang sangat kontras. Gedung-gedung pencakar langit VS jalan raya dengan berbagai fragmennya. Ya, beginilah Jakarta dengan segala kompleksitas nya. Ada yang super kaya, ada pula yang super menderita. Menyambung hidup yang tak menentu dari hari ke hari.
Setelah 10 menit di perjalanan, ojol yang saya tumpangi merapat di salah satu pintu masuk. Saya turun di pintu samping, bukan di area depan yang pas berhadapan dengan Katedral, sebab lalu lintas di sekitar situ biasanya sangat padat.
Dari area samping ini, saya melintasi jembatan penyeberangan untuk menuju ke bangunan utama. FYI, kawasan Masjid Istiqlal itu supeeerrr luas. Sekitar 10 hektar atau setara 14 lapangan sepak bola. Jadi jangan heran kalau harus jalan jauh dari arah masuk😀.
Hingga saat ini Masjid Istiqlal masih tetap menjadi masjid dengan bangunan terluas di Indonesia, bahkan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Dibangun sejak tahun 1961 dan baru diresmikan pada tahun 1978 dengan gaya arsitektur modern hasil karya arsitek Friedrich Silaban.
Sebelum masuk masjid, jangan lupa titip alas kaki di tempat penitipan yang telah disediakan. Bangunan penitipan ini berada lurus dari gerbang depan. Kalau bingung, bisa bertanya ke petugas atau orang-orang yang ditemui.
Jangan khawatir kakinya jadi kotor sebab dari arah penitipan alas kaki, jalan ke arah tempat wudhu mengikuti keset karet segi empat yang dibuat saling tersambung sampai pintu masuk ruang wudhu dan toilet. Tempat wudhu ini berada di lantai 1 sedangkan ruang shalat utama berada di lantai 2.
Saat masuk ke area shalat, terdapat 12 pilar besar yang menjadi penyangga utama bangunan masjid. Angka 12 melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Area shalat memiliki desain yang sangat indah dengan hiasan kaligrafi dan ornamen geometris minimalis yang memanjakan mata.
Oh ya, berhubung posisi Masjid Istiqlal berdekatan dengan kawasan Tugu Monumen Nasional (Monas), jadi di beberapa bagian jamaah masjid bisa berfoto dengan latar ujung Monas. Bagi yang ingin sekedar duduk-duduk di sekitar masjid, di sini banyak tersedia pelataran yang bisa dipakai untuk sekedar melepas lelah. Beberapa orang malah tampak tidur-tiduran di selasar.
Namun, bagi yang datang sendirian, tetap waspada dan hati-hati terlebih jika ada orang yang tiba-tiba menawarkan sesuatu atau izin untuk bercerita. Bukan untuk berprasangka buruk (suudzon) tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati dan mengurangi interaksi dengan oknum-oknum mencurigakan.
Setelah mengikuti Shalat Zuhur berjamaah dan makan perbekalan, saya memutuskan untuk keluar. Saat menuju tempat penitipan alas kaki, saya beberapa kali berpapasan dengan rombongan wisatawan asing.
Yups, masjid ini memang tidak hanya digunakan oleh umat Islam untuk beribadah tetapi di sini pengunjung non muslim juga diperbolehkan untuk berwisata di sekitar masjid dengan batasan tertentu. Misalnya mereka hanya boleh masuk dengan pakaian sopan dan tidak masuk ke area shalat.
Pengurus Masjid Istiqlal menyediakan pemandu untuk wisatawan asing. Bagi yang tidak berpakaian layak masuk masjid, disediakan sarung bagi laki-laki dan gamis serta kerudung bagi perempuan. Unik sekali melihat para wisatawan ini dengan busana khas muslim.
Setelah mengambil alas kaki yang tadi dititipkan, saya pun menuju area luar untuk memesan ojek online. Kali ini, saya memilih untuk keluar lewat gerbang depan. Sebelum mencapai gerbang, saya melipir ke area sebelah kanan untuk membeli minuman.
Area kanan sebelum keluar gerbang ini adalah sentra kuliner, ATM, dan juga stand-stand penjual souvenir khas Masjid Istiqlal. Sekitar jam 1 siang, ojol yang saya pesan merapat dan sayapun beranjak dari Istiqlal ke Perpusnas. Semoga Allah izinkan untuk kembali menapak di tempat mulia ini.
Posted by 
comment 0 Comment
more_vert